Kita dan Pagi

Anggrini Ate
Karya Anggrini Ate Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Juli 2017
Kita dan Pagi

 
          Sabtu identik dengan kebebasan untukku. karena sabtu aku bisa melakukan apa saja yang kusukai. Menikmati secangkir teh dengan tumpukan novel sambil menunggu pagi misalnya.
Namun akhir-akhir ini tak begitu,aku lebih suka menyusuri jalanan di pagi hari yang lengang. Bagiku,pagi tanpa hiruk pikuk adalah surga. Lalu lagu-lagu penyemangat yang menemani langkahku menambah kesempurnaan pagiku.
Pagi-pagi sekali aku berjalan sambil menghitung langkah. ketika hitunganku mencapai angka enam ratus dua belas, aku menghentikan langkah.
'Satu,dua,tiga,empat, ..........' Aku mulai lagi menghitung dengan irama pelan dan pada hitungan keenam mereka muncul dari sudut sebuah gang.

          Sudah beberapa bulan terakhir aku selalu bertemu kedua orang itu. Mereka adalah sepasang kekasih. Aku tahu itu dari gesture mereka.
Wanita itu berambut tebal dan hitam, serta berkulit sawo matang yang cantik. Lalu sang pria dengan kulit putih,dan berambut ombak bak aktor Korea,idolaku.
Kedua pasangan itu selalu saja menghabiskan pagi dengan rutinitas yang sama.
Mereka menyusuri jalanan kota dengan sepotong cerita yang disisipi gelajut manja wanita itu pada prianya.
Aku sedikit cemburu. ‘Bahagianya’ gumanku karena mereka terlihat bak potongan film Korea dengan adegan-adegan romantis yang tak pernah membosankan untuk di tonton.
Lelaki itu terkadang berbicara sambil menggerakkan jari-jarinya seperti menjelaskan sesuatu pada sang wanita.

          Aku terus mengikuti langkah mereka dengan jarak sedikit jauh,agar tak menganggu. Pada salah satu sudut jalan,seorang pria paruh baya telah menggelar dagangannya berupa kue-kue dan nasi bungkkus. Kedua pasang kaki seakan senada untuk menghentikan langkah mereka. Keduanya duduk di emperan toko dan menikmati beberapa buah kue atau terkadang nasi bungkus.Si pria selalu saja menyisakan gigitan terakhir kue yang penuh cokelat untuk wanitanya. ‘ah,wanita itu menyukai cokelat rupanya’ aku berbicara dengan diri sendiri. ketika matahari mulai menampakkan sinarnya,mereka akan berpisah.
Mereka selalu seperti itu selama hampir delapan  bulan ini. Terkadang mereka begitu ribut mengganggu pagi,dan aku memilih menatap dari kejauhan.Bagiku yang menyukai segala sesuatu yang sederhana,mereka terlihat seperti sepenggal cerita yang membuktikan; hal sesederhana itu terasa bermakna untuk cinta.

          Pagi telah berganti ribuan kali, kini musim penghujan telah tiba. Pagi ditemani rintik-rintik hujan memang lebih menggigil. Tapi aku tetap saja suka pada aroma pagi, dan aroma hujan menemani pagiku di desember. Seperti biasa aku menelusuri jalan dengan menghitung langkah hingga enam ratus dua belas langkah dan berhenti,lalu memulai lagi hitunganku hingga hitungan keenam, dan pasangan kekasih itu muncul.
Aku sudah berjalan mengikuti mereka hingga separuh jalan yang sering ‘kami’ lalui. Namun aneh,mereka berjalan tanpa sepotong cerita apalagi gelajut manja. Mereka tak juga ‘singgah’seperti biasanya pada penjual kue langganan mereka. Lalu di sudut jalan tempat biasanya mereka berpisah, tiba-tiba sang wanita menjatuhkan butir-butir hangat dari sudut matanya dan sang pria berlalu setelah mengusap pucuk kepala gadisnya.‘apa ini bagian dari hal sedih menyayat hati yang harus dirasakan pencinta,layaknya novel-novel berjudul patah tetapi memiliki ending bahagia yang sering aku baca?’ tanyaku saat menyaksikan adegan itu.

          Hari telah memasuki awal bulan di tahun yang baru, aku tetap suka hal-hal yang aku lakukan bersama pagi. Aku telah berdiri di sudut ini dan menghitung dengan irama pelan hingga hitungan keenam sebanyak dua puluh kalinya, namun sang pemilik langkah yang di nanti-natikan tak kunjung muncul,mereka tak pernah seterlambat ini. Aku lelah dan memutuskan untuk pergi, namun aku berhenti karena melihat langkah-langkah kecil dari sudut jalan itu muncul dan berhasil menarik kedua susut bibirku. Tetapi, secepat kilat senyumku pudar.
Lelaki itu berjalan bersama wanita lain tentu di temani sepotong cerita. Namun ia tak antusias seperti biasanya.
'langkah-langkah apa yang membawa wanita itu hingga bisa berdampingan bersama lelaki itu?
tetapi belum lama lelaki itu bersama wanita lain mencumbu pagi.
Lalu, apakah adegan disudut itu bukan hanya sekedar bagian dari kisah sedih?

ah, rupanya itu adalah adegan penutup yang mengharuskan penulis menceritakan hal indah berakhir patah.
apakah lelaki manis itu menjadikan wanita itu ‘pengaman’ untuk mencabut paksa hal-hal pedih yang bersarang di dada?'
Aku terus saja bertanya-tanya dalam hati hingga tanpa sadar kakiku telah sampai di rumah.

          Pagi-pagi berikutnya aku tak lagi menghitung langkah,apalagi menunggu.Aku tak suka menonton adegan serupa yang tiba-tiba berganti pemeran,seperti halnya aku tak suka mengganti brownis kesukaanku menjadi kue manis. Meski brownis sedikit pahit.
aku lebih memilih menghirup pagi bersama Bach dan Bethoven dengan aroma syukur musik surgawi, bukan lagi kisah klise yang gampang di ubah waktu.

          Setahun berlalu,  aroma pagi tetap menempati top list hal yang aku sukai.
Suatu waktu yang entah kapan, aku melihat wanita berambut tebal dan berkulit sawo matang yang manis itu. Ia berjalan di jalur biasanya, seperti dulu,tetapi sendirian.Lalu aku mendekatkan jarakku.

'kau hanya tak tahu,aku sudah belajar melupakan,tapi entah mengapa kepala mebenamkan kamu pada ingatan terkuat.
ketika melupakan dengan cara membenci tak juga berhasil, Ikhlas adalah cara terbaik yang bisa aku tempuh.

Meski rasaku tak sedikitpun layu.
Meski getar di dada tetap menggebu gila setelah aku tahu kamu memiliki hidup yang mungkin saja lebih baik.
 
Meski semua tetap saja tak berubah untukku,namun  kamu sudah tak peduli.
 
Meski rindu-rindu yang menyerang malam2 sepiku terasa mencekik.
 
Karena Ikhlas akan membantuku tak lebih sekarat dengan semua hal yg ku alami.
 
Karena ikhlas membantuku menemukan alasan lain agar tak benar-benar mati.
 
Mungkin  Tuhan juga merasakan pedihku dan membantu langkah-langkahku terasa ringan'

ia berbicara dengan suara yang hampir terdengar seperti bisikan. paginya tak lagi ribut.
Hanya ada embun,kabut pagi, serta jalanan yang sepi.
Ia merapatkan kepalan tangannya kearah pundak untuk menghangatkan tubuhnya. Paginya memang tak sehangat dulu,tetapi ia tetap berjalan dengan langkah cepat. Namun samar-samar aku juga mendengarnya berkata ‘selamat pagi kamu yang sudah pergi'
 

  • view 92