Aku dan Kamu yang tidak menjadi Kita

Anggi Yusika Ayuni
Karya Anggi Yusika Ayuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Juni 2016
Aku dan Kamu yang tidak menjadi Kita

Selamat Pagi, 

 

Pagi ini 26 Juni 2013, adalah hari ulang tahunku yang ke-17. bagiku, tidak ada sesuatu yang special disetiap tahun pada tanggal ini. Hanya saja bedanya saat ini aku sudah menginjak angka 17, itu artinyaaa.... aku sudah bisa memiliki KTP :D 

Pagi ini tetap sama seperti pagi kemarin, namun pagi 26 Juni ini menjadi awal kisahku dengannya.

--

“Muhammad Al-Fatih mengirmkan pesan untuk anda”. Salah satu pemberitahuan facebook. Dan ketika kubuka pesannya, tiba-tiba mataku seperti tidak mau berhenti membaca kalimat yang ia tuliskan untukku.

Assalamu’alaikum....

Ukhti, sehatkah? Semoga tetap dalam lindungan-Nya. Barangkali saya lancang, mengganggu, menyita waktu, maaf. Pesan bau kencur ini tidak tahu malu, tidak dipinta tapi tetap memaksa. Izinkan saya meminta Ukhti untuk terus membaca pesannya.

Sudah cukup lama, ya, cukup lama. Saya sendiri tidak tahu kapan persisnya mulai tumbuh perasaan seperti ini terhadap Ukhti. Mungkin awal tahun ajaran baru yang lalu, atau mungkin saat sapaan pertama. Entahlah, karena otak saya tidak bisa menemukan rinciannya. Tapi, setelah itu, saya selalu melihat Ukhti dari sudut pandang yang berbeda. Begitupun seterusnya.

Ternyata diam-diam, ya, saya diam-diam mengagumi Ukhti. Kaku rasanya. Setiap hari sekolah harus bersikap seolah nyaman-nyaman saja. Seolah-olah tidak ada yang harus ditutupi. Itu semua karena remaja tanggung ini tidak punya cukup keberanian untuk menjabarkannya.

Ukhti, kedatangan pesan ini tidak ada maksud merendahkan Ukhti. Tidak ada sama sekali maksud mengajak Ukhti kepada lubang perzinahan seperti remaja kebanyakan. Sungguh, hanya menyatakan persaan suka terhadap Ukhti. Pernyataan suka yang tadinya akan saya sampaikan setelah kelulusan nanti. Tapi itu bisa membuat saya perlahan-lahan hilang konsentrasi. 

Terimakasih Ukhti sudah bersedia membaca pesan saya. Saya harap Ukhti tidak membenci saya setelah membacanya.

Oh iya, selamat ulang tahun. Semoga tetap semangat!! 

Maaf, bila anak SMA bau kencur ini berlaku lancang dan tidak sopan di dalam pesannya dan hanya berani lewat jejaringan sosial. Maaf juga bila tulisan ini jadi kado ulang tahun terburuk bagi Ukhti.

Fatih-

Pesan itu mampu membuatku terpaku, teramat lama. Aku tak mengerti dengan perasaan yang ku rasakan saat ini, bahagia atau sedih?

Aku bahagia, karena orang yang menyukaiku adalah salah satu siswa yang religius dan cerdas. Namun, disisi lain aku sedih, karena membuatnya tidak mampu mempertahankan perasaannya dalam diam.

--

Berawal dari acara ROHIS yang sebenarnya tidak pernah mempertemukan kita. Dia tidak pernah mengenalku. Hanya aku yang mengetahui dia sebagai juara lomba pidato yang diselenggarakan oleh organisasi itu. Aku mulai mengaguminya. Ia terlihat berbeda dari siswa yang lainnya. Namun, setelah acara itu usai, usai pulalah rasa kagum ku, luruh begitu saja. Pertemuan pertama dan mungkin terakhirku dengannya kala itu, karena setelah itu, aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Kita sama-sama berada di kelas X, namun kelas kita terpisah amat jauh.

 

Hal yang tidak pernah kusangka adalah, dikelas XI kita dipertemukan dan disatukan dikelas yang sama XI-IPA 1. Tetap tidak ada yang special, hanya kekagumanku yang bertambah ketika mengetahui cara belajarnya dikelas. 

 

Dikelas yang sama, tidak menjadikan kita dekat. Bahkan kita tidak pernah saling menyapa sekalipun. Mungkin, karena dia tahu bahwa aku tidak terbiasa berbincang dengan lawan jenis kecuali memang ada kebutuhan yang mendesak, bukan yang dibuat-buat mendesak!! Kita hanya sesekali bicara, itupun jika kita berada disatu kelompok belajar yang sama. Cukup hanya diskusi kelompok, tidak lebih.

Setelah beberapa bulan aku berada dikelas ini, aku tidak pernah tahu bagaimana awalnya dan apa sebabnya, teman-teman mulai menjodoh-jodhkan aku dan Fatih. kita hanya diam dan tersenyum melihat teman-teman yang mengejek kita. Karena saat itu, aku belum memiliki perasaan apapun padanya. 

--

“Assalamu’alaikum, Maaf Fat mau tanya, waktu itu pernah baca novel negeri 5 menara kan? di ceritainnya dari awal alif nya lulus sekolah apa pas udah kerja ? syukron" awal dari Setiap percakapan kita

"Waalaikumussalam, maksud ukh alurnya?" tanyanya singkat

"Iyaa" jawabku

"Alurnya mundur.:)"

"Oke syukron untuk infonya, soalnya aku baca ebooknya"

Setelah percakapan itu, banyak hal yamg kita bicarakan, tidak.. Tidakk.. Sama sekali tidak ada bicara mengenai perasaan kala itu. Kita hanya komunikasi mengenai pelajaran saja. Mungkin sesekali kita menceritakan tentang masa lalu yang mengantarkan kita disekolah ini. Namun, memang percakapan itu teramat panjang, sangat intens. 

Akulah yang salah, andai kala itu aku tidak pernah menanyakan tentang alur novel. Mungkin percakapan kita tidak akan pernah terjadi. Aku yang membuatmu mulai memberikan hatimu. Karena kala itu yang aku tau, hanya kamulah teman sekelasku yang pernah membaca novel itu. Sama sekali tidak ada maksud lain.

Percakapan itu terus berlanjut sampai di 26 juni hari ini bahkan jauh lebih serius dari sebelumnya. Pesan yang ia tujukan padaku mampu membuat hatiku merasakan hal yang sama, bahkan jauh lebih besar dari sebelumnya.

"Kita sahabatan aja ya Fat" jawabku singkat

Walau sesungguhnya hatiku berkata lain, ingin jauh lebih dekat lagi dengannya. Namun aku teringat dengan prisnipku "Tidak ada pacaran sebelum nikah". Aku harus memegang teguh prinsip itu. 

"Sahabat, oh itu oke" jawabnya lebih singkat

"Fatih tau kan kalau aku gak mau pacaran sebelum nikah?" tanyaku meyakinkan

"Iyaah saya tau, saya juga tidak bilang ingin mengajak Ukhty pacaran bukan?" 

"Iya maaf, tapi aku mohon setelah ini jangan berubah sikap. Tetap seperti biasanya ya :) anggap saja seperti tidak pernah terjadi apapun" sambil menguatkan diriku sendiri.


"Iya InsyaAllah" 

Di dua puluh tujuh juni dua ribu tiga belas, ia mengirim pesan lagi via facebook.

"Sebetulnya saya masih berharap jawaban yang pasti. Apakah tak ada?Maaf Yus merusak suasana"

"Aku berharap hanya Allah dan aku saja yang tahu tentang perasaanku ini terhadapmu" 

"Itu jawaban yang bijak"

"Maaf untuk itu"

"Tak apa, jadi?"

"Jadii.. Jawaban pastinya 'tunggu dibatas waktu' :) "

"Jadi, harus ditunggu?"

"Pilihannya ada dua, tunggu atau lupakan. Karena kita masih terlalu dini untuk membicarakan hal ini, kita baru beberapa hari menginjak kelas XI. Belum saatnya"

"Menunggu juga tidak masalah"

--

Dan untuk kedua kalinya, aku melakukan kesalahan lagi. Aku menceritakan hal ini pada saudaraku Salsabila. Dan dia melakukan hal yang tidak pernah aku sangka sebelumnya. Ternyata Sabila mencoba mencari tahu facebook Fatih. Dan Sabila menemukannya. Dia mendorong Fatih untuk menanyakan lagi apa perasaanku terhadapnya. 

Akhirnya ada pesan masuk dari Fatih

"Assalamu'alaikum, Yusi aku hanya ingin tahu apa perasaanmu terhadap saya saat ini"

Dan ternyata, aku memiliki perasaan yang sama padanya!!! Aku mencintainya dalam diam. Selama dua tahun lamanya aku tidak pernah memperlihatkan rasa itu, rasa yang seharusnya tidak tumbuh seenaknya.

Aku bingung harus menjawab apa, aku tidak mungkin mengatakan jika aku memiliki perasaan yang sama terhadapanya, karena aku takut kita terjerumus pada hal yang tidak baik. Aku takut, sungguh.

Entahlah, perasaan itu terlalu membuncah dihatiku.

"Kenapa nanya hal ini lagi?"

"Saya hanya ingin tahu, itu saja"

"Aku tidak pernah tahu mengenai perasaan apa yang kurasakan terhadapmu, namun perasaan ini seringkali menginginkan kabar darimu, apakah itu cinta? Aku khawatir jika itu hanyalah nafsu belaka"

"Jadi Ukhti merasakan hal yang sama?"

"Mungkin bisa dibilang begitu"

"Alhamdulillah, walau tidak bersama, setidaknya tidak bertepuk sebelah tangan"

Kesalahanku yang ketiga, aku membiarkanmu masuk dalam kehidupanku, masuk dalam setiap pemikiran dan hatiku. Kenapa tidak ku kunci rapat rapat saja setiap pintu yang kumiliki itu? Lagi lagi ini kesalahanku.

Semenjak hari itu, ketika semakin intens komunikasi via pesan singkat. Kecuali disekolah, kita tidak pernah komunikasi. Kita menutup rapat semuanya. Tidak ada yang tahu, seperti tidak ada apa apa. 

--

Semuanya berjalan teramat cepat, semua kisah di kelas XI kini hanya menjadi kenangan indah karena saat ini kita sudah duduk di kelas XII. XII IPA 1. Tempat kita kembali mengukir kenangan.

Diawal kelas XII ini kita melaksanakan pemilihan ketua kelas.

"Gimana kalau kita pilih ketuanya laki laki dan wakilnya perempuan". Usul Rosi

"Iyaa setuju, biar adil" timpal dewi

"Yaudah calonnya siapa aja?" tanya Ayu

Entah siapa yang tiba tiba menyebutkan namaku dan nama Fatih kala itu dan satu calon lagi Rian. Pada akhirnya aku mengalah saja mengikuti semuanya. Karena menurutku apa salahnya mengikuti pemilihan ini, suatu saat pasti akan bermanfaat bagiku. 

Ketika pemilihan calon ketua kelas dilaksankan aku Fatih dan Rian diminta keluar. Kita tidak boleh melihat mereka diskusi. Baiklah kita bertiga hanya menuruti saja kemauan teman teman sekelas.

Pemilihan usai, kita diminta masuk kembali ke kelas. Dan mereka meminta kita untuk melihat hasilnya. Aku terkejut ketika melihat di papan tulis itu. Aku dan Fatih seri, bahkan itu adalah pemilihan yang kedua. Dua kali kita seri. Dan keputusan akhirnya Fatih menjadi ketua dan aku menjadi wakil.

Dengan terpilihnya Aku dan Fatih menjadi ketua dan wakil semakin habis lah kita diejek teman-teman sekelas. Bahkan wali kelas kita juga.

Dikelas XII, aku dan Fatih sering sekali berada di satu kelompok belajar yang sama. Padahal bukan kita yang memilih. kita selalu membentuk kelompok belajar dengan permainan yang tidak bisa dimanipulasi. Tapi tetap saja kita sering satu kelompok.

Banyak hal yang menyebabkan kedekatan kita semakin intens, penyebab penyebab itu mampu membuatku tidak mau berhenti komunikasi dengannya. Remku sudah mulai kendor.

Yang pada awalnya hanya membicarakan hal hal yang bersangkutan dengan pelajaran tapi akhir akhir ini kita seringkali menceritakan tentang kehidupan pribadi, ini sudah terlalu jauh. Aku terus membuat pengharapan pengharapan dalam hidupku. Tak ku sangkal, aku menginginkan Fatih berada dalam hidupku, menjadi imamku kelak. Namun, ini masih terlalu jauh. kita saja baru menginjak kelas XII. Perjalanan kita masih panjang

--

“Semangat Yus” tersenyum dan mengepalkan tangan

Aku hanya menimpalinya dengan senyum tanda terimakasih.

Fatih mencoba menularkan semangatnya padaku. Karena saat ini aku sedang ujian praktik lari. 

Aku hanya berfikir, berani sekali dia menyemangatiku didepan yang lain walaupun memang sangat pelan dan hampir tidak terdengar. Bahkan sampai hari ini tidak ada yang mengetahui kedekatan kami. Aku hanya takut ada yang mendengar Fatih menyemangatiku, bisa bisa semakin di olok-oloklah kita berdua.

--

Entah apa pasalnya, aku mulai menyadari kesalahanku, dan pada saat itu aku mulai tidak membalas pesan pesannya. Bahkan sampai Fatih mengirimkan sms yang sama beberapa kali. Pada akhirnya aku luluh lagi dan membalas pesannya. Mungkin Fatih menyadari aku mulai menghindar darinya. Ia pun mulai jarang mengirimkan pesan padaku.

Aku memang merasa kehilangan, namun aku harus bisa memaksa untuk melupakannya. Sampai pada suatu malam aku bertanya lagi padanya.

"Fat, apa pesan di facebook itu masih berlaku?"

Biasanya ia selalu menjawab "masih, selalu"

Tapi malam ini berbeda.

"Maaf karena saya tidak menepati janji untuk menunggumu, pesan itu sudah kadaluwarsa Yus"

Pesan itu mampu membuatku meneteskan air mata. Ternyata aku tidak rela kehilangannya. Bukankah memang ini yang ku mau?

"Ooh udah kadaluwarsa, oke tidak apa apa, berarti mulai saat ini aku harus mencoba berhenti memantapkan hati" mencoba menenangkan diri dalam tangis

"Iyah maafkan Saya"

Aku sedikit menyesal menanyakan hal itu lagi padanya, andai waktu itu tidak ku tanyakan. Mungkin sampai saat ini kita masih komunikasi. Rasanya pilu.

Namun aku mencoba walau perlahan untuk terus melupakannya. Tapi aku tidak pernah bisa. Kita bertemu disekolah, kita berada di satu kelompok belajar yang sama dan kita juga ketua dan wakil kelas sehingga amat banyak hal yang sering kita diskusikan. Walau aku selalu terlihat biasa, aku tetap merasakan pilu itu. Pilu yang teramat menghujam perasaan.

--

Hari ini adalah hari perpisahan kita disekolah. itu artinya aku dan Fatih juga akan berpisah, hari ini aku sudah mulai bisa mengondisikan hatiku untuk membenamkan namanya. 

Aku menggunakan pakaian terbaik yang kumiliki dan tentunya menutup auratku, untuk pertama kalinya aku menggunakan kerudung segi empat lagi ketika di SMA. 

--

"Yus, nanti tolong bilang ketua kelas kalau wali kelas kalian, Pak Zul tidak akan hadir karena kakak beliau meninggal, tolong dikoordinasikan untuk mencari guru yang menggantikan" Guru bahasa indonesiaku berkata pelan namun tegas.

" Ahh? Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, euuh iya bu InsyaAllah nanti Yusi sampaikan ke Fatih"

"Iyaa sekarang yaa"

"Iyaa iyaa bu" 

Aku terus mencari Fatih untuk memberi kabar ini, namun Fatih sama sekali tidak terlihat. Aku sudah menanyakan ke teman teman, tapi tidak ada yang tahu.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk duduk saja dulu sambil menunggu ia datang.

Tiba tiba dari belakang ada yang menyapaku

"Yus, katanya nyari saya?"

Aku membalikan badan ternyata itu Fatih, kita saling bertatapan lama. Aku sama sekali tidak menyadari hal itu awalnya. Karena itu adalah pertemuan pertama kita setelah sekolah libur panjang. Dan pertama kalinya ia melihatku mengenakan kerudung segi empat.

"Cieee cieee liat liatan" ejek Devi sambil tertawa

Aku langsung cepat cepat saja membuang pandanganku sebelum teman teman yang lain ikut mengejek.

"Oh yaa Fat tadi Bu Mey bilang katanya pa Zul tidak bisa hadir karena kakanya meninggal, jadi kita diminta untuk mencari guru pengganti"

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, yaa oke. Nanti saya yang cari"

"Oke makasih Fat" 

Acara perpisahan selesai, kita kembali terpisah. Pandangan tadi membuat benteng pertahananku hampir runtuh.

--

Satu tahun berlalu, aku masih mengingatnya. Padahal jelas jelas Fatih saja sudah memiliki kekasih. Aku masih berada ditempatku dan tetap mencintainya. 

Beberapa kali ada acara reuni yang diadakan oleh kelas kita. Aku tidak pernah bisa hadir. Karena aku minder, teman temanku setelah lulus SMA melanjutkan kuliah. Tapi justru aku kerja dan belum kuliah. Dan Fatih, kuliah di IPB. Mengambil fakultas yang aku inginkan dulu. Teknik Informatika.

Satu tahun yang menyiksa, melihat dia bersama perempuan lain. Aku adalah salah satu wanita yang sulit untuk melabuhkan hatiku lada seseorang namun, ketika hal itu terjadi pastinya aku akan melabuhkan hatiku dengan sangat baik dan hal itu menjadikanku sulit untuk kembali berlayar melupakan pelabuhan itu.

--

Tujuh Mey dua ribu enam belas

Untuk pertama kalinya aku bisa mengikuti acara reuni kelas kita. Walaupun aku pada awalnya sangat ragu untuk mengikuti acara itu. Karena aku takut, tidak bertemu saja aku masih memiliki perasaan terhadapnya, walau tidak sebesar dulu. Satu tahun yang lalu. Tapi tetap saja, perasaan itu tetap ada untuknya.

Reuni itu diadakan pukul 10.00. Dan aku bergegas untuk datang ke acara tersebut. Ternyata hanya dua orang yang sudah datang, kita menunggu yang lain.

Sekitar pukul 10.30 Fatih datang, dan tetap saja aku jadi bahan ejekan teman teman. Aku hanya bisa tersenyum dan tentunya tersipu sangat malu.

Pertemuan itu tidak melahirkan percakapan apapun diantara kita. Hanya senyum simpul hingga akhir acara.

Dan justru dari pertemuan pertama kita setelah dua tahun lamanya tidak berjumpa, aku sanggup melupakannya. Semuanya terjadi secara tiba tiba, bahkan perasaan itu sudah hilang tanpa bekas sedikitpun. Mulai dari hari ini aku sudah membuat bentengku sendiri dan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Aku berhasil Move On dan berjalan lagi untuk menggapai cita citaku yang tertunda. Aku memang tidak mengerti kenapa hal itu bisa terjadi. Namun yang paling penting saat ini, aku tidak membuat pengharapan bagi diriku sendiri. 

Tidak pernah ada getar lagi walau namamu seribu kali disebut. Semuanya kembali seperti semula. Saat ini Aku hanya sedang memantaskan diri. Berjalan lebih baik, biarlah kesalahan ku dulu denganmu menjadi pelajaran berharga agar aku tak mengulanginya lagi. Dan sampai saat ini aku memang tidak pernah tau apa perasaanmu yangs sesungguhnya. Tapi satu hal yang ada dalam benakku, sepertinya kau amat mudah melupakan segala yang pernah terjadi diantara kita. Ohh tidak apa, justru itu lebih bagus. Kau tidak merasakan sakitnya melupakan.

Doaku..

Kita diberikan jodoh yang terbaik menurut-Nya. Sang Maha Cinta.

 

 Aku 6 Juni 2016

 

  

 

 

 

 

  • view 228