Kau Sahabat Kau Teman Sejati

Anggi Yusika Ayuni
Karya Anggi Yusika Ayuni Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2016
Kau Sahabat Kau Teman Sejati

Kau Sahabat Kau Teman Sejati

 
 
 
 Anggi Yusika Ayuni
 
Tidak ada alasan untukku meninggalkan Subang, karena inilah masa terbaik untuk bersepeda disekitar jantung kota sambil menikmati indahnya matahari pagi.
 
“Bergegas, Dan. Kau membuat mereka sellau menunggu!” sambil mengomel, ibu memasukkan handuk dan makanan ke dalam ransel ku, sekaligus meneriakiku yang masih berkutat dengan earphone yang mengumandangkan musik dibatas waktu, lagu yang pertama kali dikenalkan oleh Ia yang aku cinta.
 
“Bukannya Ibu sudah bilang, kau tidak usah menonton televisi sampai larut malam. Kepala ibu menyembul dari balik pintu kamar.
 
Aku tidak menjawab, bergegas mengikat tali sepatu, menyambar helm dan kacamata, mengambil tas dari Ibu, mengeluarkan sepeda, lantas berteriak pamit.
 
“Kau belum menyisir rambut Dan!” Ibu berteriak.
Sepedaku sudah meluncur.
Ayah yang sedang menyiram dihalaman tertawa kecil melihatku.
“Ibu dan ayah masih menganggapku seperti anak kecil,  lagipula aku kan memakai helm, jadi takkan terlihat.” Batinku
 
Pada pagi yang indah, saat cahaya matahari pertama menerabas remang jalan, kuputuskan untuk tetap mengayuh sepeda walau sudah terlambat dari waktu yang dijanjikan.
Kulihat teman-teman seperjuanganku sudah berkumpul. Aku tertinggal, ya, begitulah biasanya. Sampai saat ini kebiasaan itu seolah tak mau hilang. Kupandangi setiap sudut kota yang mulai mempunyai banyak perubahan. Kota yang dulu penuh dengan pemandangan indah, kini telah berubah menjadi bangunan-bangunan megah. Rasanya ada sedikit kegelisahan dalam hatiku, aku takut suatu saat nanti semua keindahan akan hilang.
 
“ Assalamu’alaikum Dan.”
Suara penuh wibawa menyapa ku pelan dari jauh, dan membuyarkan lamunanku. Suara yang tak pernah luput dari ingatanku, aku sangat hatam dengan suaranya. Dia Kak Farhan, kakak kelasku sewaktu aku masih duduk di bangku SMA. Sambil memperbaiki letak kacamata ia menghampiri ku.
“Aku fikir kamu tidak akan datang Dan.” Lanjut Kak Farhan.
 
“Kak Farhan seperti baru mengenal Idan, dia memang senangnya datang terlambat bukan?”Belum sempat aku menjawab, suara lembut namun terasa tegas menimpali. Dia sahabatku dari SMA, namanya Ayyash tepatnya Muhammad Ayyash. Dia tidak banyak berubah masih seperti Ayyash yang aku kenal di acara seminar yang diselenggarakan oleh Organisasi Islam itu. Disanalah pertama kali aku mengenal sosok penuh wibawa yang murah senyum. Kami tidak menuntut ilmu di sekolah yang sama, Ayyash di SMA Islam Terpadu An-Najmi, dan aku di SMA Negeri 1 Bintang. Namun, jarak sekolah kami dapat ditempuh dengan lima menit berjalan kaki saja. Tapi sayang, Ayyash tinggal di asrama, jadi ia tidak bisa keluar dari asrama sembarangan, sehingga setelah pertemuan itu kami jarang bertemu kecuali pada hari libur.
 
“Hhmm . . Ayyash, sosok yang tak akan pernah bisa lenyap dari ingatanku.” Gumamku.
Dia selalu bisa membuat ku merasa berarti jika bersamanya. Ayyash tak akan pernah membiarkan aku menanggung penderitaan sendiri. di usianya yang masih muda tapi dia mampu menghafal surat Cinta dari Ilahi yaitu 30 juz Al-Qur’an, Aku sangat mengaguminya. Dan aku lebih gembira lagi ketika Ayyash mengundangku untuk melihat Wisuda tahfidznya 2 tahun lalu.
 
“Kebiasaanmu tak pernah hilang Dan.”
“Kalau kebiasaannya hilang, bukan Idan Ahyar Abdullah namanya Kak.” Lagi-lagi Ayyash menimpali pertanyaan Kak Farhan.
 
“Semalam aku nonton televisi kak.” Mencoba membela diri.
Semua kompak menjawab.“Alasan... ”
Mereka seperti sudah tahu apa jawaban yang akan aku lontarkan. kami refleks tertawa dengan sangat kerasnya, sampai membuat orang-orang celingukan penasaran melihat apa yang sedang kami lakukan.
 
Kenangan seperti inilah yang membuat aku tak pernah berfikir sedikitpun untuk melangkahkan kaki keluar dari daerah Subang. Aku mencintai kotaku. Tapi saat ini aku harus melanjutkan study di Jakarta. Hanya akhir pekanlah waktu yang tepat untuk bernostalgia bersama sahabatku.
Ayyash menatapku lamat-lamat. “Eh Dan, kita foto yuk.. !”
Aku menyeringai lebar. “Aku nggak mau.”
Ayyash tersenyum menggodaku. “Ayolah, untuk kenang-kenangan. Nanti kalau kamu kangen sama aku, kamu tinggal lihat fotonya aja.”
“Idddiiih . . siapa juga yang mau kangen sama kamu Yash . .”
Tawa kami semakin membuncah karena sikap Ayyash yang sangat menyebalkan. Tapi dibalik semua itu, aku merasakan hal yang berbeda, tawanya terasa getir.
 
“Ayolah Dan, kamu ini aneh sama kamera saja takut.”
“Wah sembarangan kamu, kamu kan tahu kalau aku gak suka di foto.”
“Eh jangan-jangan KTP kamu gak ada fotonya ya?” Ayyash tertawa menggodaku.
“Kalau itu beda lagi dong Yash.”Aku menggerung sebal.
“Ya Sudah makanya ayo kita foto. Mumpung Kak Farhan bawa kamera.” Ayyash berkata santai. Matanya berkejap-kejap menunggu jawabanku.
“Ya. Terserah saja.” 
Aku pun pasrah dengan apa yang Ayyash inginkan, dan alhasil jadilah foto kita seperti ini, Ayyash dengan gayanya yang selalu cool dan aku yang begitu kaku. Ini adalah satu-satunya foto ku bersama Ayyash.
“Kakak pulang duluan ya, istri kakak sudah sms.”
“Oke kak, terimakasih sudah mau menunggu kedatanganku.” Aku menjawab ringan.
Masih dengan senyum manisnya Ayyash menimpali. “Hati-hati di jalan Kak.”
“Insya Allah, Assalamu’alaikum.” Sambil pergi berlalu meninggalkan kami.
Hanya derap langkahnya menuju sepeda yang masih kami dengar.
Senang rasanya bisa foto berdua dengan Ayyash.
“Dan, kita nyanyikan lagu kita yuk. Kamu yang nyanyi nanti aku yang main gitarnya.”
“Ini baru asik, aku mau.” Aku tersenyum lebar.
Petikan gitar yang mengalun mampu membawaku pada suasana mendalam. Mulai kunyanyikan bait demi bait.
 
 “Semakin bagus suara kamu Dan”. Ayyash terkekeh sambil mengedipkan mata.
“Dasar kau..”  kujawab dengan pukulan kecil.
Sangat kunikmati detik-detik yang kulalui bersamanya, semoga Allah menjaga rasa cintaku ini padanya, Muhammad Ayyash.
 
***
 
Aku sudah bersiap melangkahkan kaki menuju Jakarta. Hari ini aku harus kembali lagi ke ibukota. Tiba-tiba hp ku bergetar, ‘Ayyash’ yang tertulis dilayar handphone ku. “Pasti dia mau mengucapkan kata-kata motivasi.” Pikirku. Dia selalu melakukkannya tanpa aku minta, dia tahu hari ini aku akan kembali ke Jakarta untuk menuntut ilmu. Dia selalu mengatakan “teruskan perjuangan kita kawan, jangan pernah berhenti sampai disini, perjuangan kita masih panjang hingga sampailah pada Jannah-Nya, InsyaAllah.”
 
Aku terkejut, ketika awal paragraf yang tertera di layar handphone ku adalah Innalillahi wa Inna ilaihi Raji’un. Muhammad Ayyash Fuadi telah meninggal dunia hari ini pukul 03.21. Mohon saudara, Sahabat dan rekan-rekan berkenan memaafkan  kesalahan Ananda Ayyash.
“Pasti aku salah membaca pesannya.” Harapku cemas. Ku ulangi lagi dari awal. Sayangnya, kata-kata dalam layar handphone ku tak mau berubah. Perasaan ku hancur, tak kuasa aku membendung air mata. ku lempar ransel dari pundakku segera ku berlari  dengan pasrah, aku ingin segera menemui sahabatku. Aku berlari tanpa memerdulikan orang-orang disekitar ku yang menatap aneh.
 
Ketika sampai di daun pintu rumahnya, aku semakin lemas, aku terisak, aku tak mampu melihat semua itu. Sahabat perjuanganku yang kini terkulai tak berdaya. Aku menghampirinya dengan rasa tak percaya sambil mengeluarkan setiap kata yang mungkin tak akan pernah ia dengar lagi.
“Yash, bukannya kau berjanji padaku, kita akan selalu bersama?”
“Yash bangun yash, aku mohon . .”
Kedua orangtua Ayyash mencoba menenangkan ku. tapi Aku tak menghiraukannya. Aku tetap mengeluh.
 
“Ayyash  . . . secepat ini kah Yash?” aku terisak.
Mataku basah oleh air mata. Apakah ini sungguhan?
Aku mencoba lebih tenang. 
Oh Allah, begitu cepatnya ia pergi. 
Banyak sekali kennagan indah yang tak akan aku biarkan pudar. Waktu ini juga yang akan aku lalui nanti, sama seperti mu. Karena takdir yang Maha Esa telah menetapkan. Sesak rasanya dada ini mengingat kepergianmu. Namun, aku bahagia melihat mu pergi memeluk surat cinta-Nya.
 
“Kau sahabat kau teman sejati”. Kata – kata Ayyash yang selalu menenangkan dikala aku merasa tak berarti.  Yang aku tahu Ayyash selalu tulus, budinya begitu luhur tak terganti. Senyum, tawa dan kata katanya selalu menghibur. 
 
Sambil terisak ku angkat kedua tangan ku seraya berdo’a 
 “Ya Allah,tempatkannya di tempat yang mulia.Tempat yang kau janjikan nikmat untuk hamba Mu.”
 
Sahabatku akan ku teruskan perjuangan ini. Walau kau tak disini tuk menemaniku. Perjuangan. Setangkai doa dan Fatihah terus kukirimkan. Semoga allah menempatkan mu bersama para solihin. Kau sahabatku kau teman sejati. Kuungkapkan semua yang ada dibenakku. Aku mulai istighfar. “Aku tidak boleh seperti ini terus” gumamku, aku harus kuat. Ayyash selamat jalan.
 
Ku putuskan untuk tak pergi terlebih dahulu ke Jakarta. Aku merasa kehilangan yang sangat mendalam. Namun, selalu terngiang kata – kata Ayyash yang melarang ku merasa gembira dan sedih berlebihan. Kukepalkan tangan ku dengan kuat, aku bertekad tak akan bersedih berlebihan dan tidak terus mengeluh. Akhirnya aku pamit pada kedua orangtuaku untuk pergi ke Jakarta. Pada awalnya mereka tak membiarkan ku pergi, karena mereka khawatir terjadi sesuatu dengan ku yang masih kelihatan sayu. Namun, aku tetap memaksa untuk pergi. Dan mereka pun mengalah dan membiarkan ku pergi.
 
***
Kuliah ku sudah selesai, dan inilah saatnya aku kembali ke Subang dan mengamalkan semua ilmu yang telah kudapat. Aku selalu mencoba menyibukkan diri dengan kuliah dan kerja disebuah perusahaan terbesar di Indonesia. Setelah tiga tahun meninggalkan Subang karena kuliah dan pekerjaan ku tak bisa di tinggalkan begitu saja.
 
Aku terkejut ketika melihat sekolah Ayyash yang tidak terawat. Aku pun mencari cafe yang terdapat wifi. Kuparkirkan mobil dengan tergesa. Aku segera membuka laptop dan mencari informasi di internet. Senang rasanya bisa mendapatkan informasi yang sedang dibutuhkan.. Dan judul yang tertulis “Alumnus Meninggal Sekolah Terbengkalai”. Aku penasaran dengan judul itu.
“Alumnus yang hebat.” Pikirku sambil heran
Seorang pengunjung cafe mengagetkan ku dari belakang.
“SMA An-Najmi ya Pak?”. Tanya nya dengan senyum tipis
“Iya mbak, kok tahu?”. Seraya menjawab ku timpali lagi ia dengan pertanyaan
“Iya saya membaca judul tulisan yang sedang bapak baca, karena dulu sempat ramai mengenai hal itu.” Jawabnya antusias
“Mbak tahu banyak tentang hal ini?, boleh ceritakan pada saya?” tanyaku semakin tak terhenti
“Gini Pak ceritanya, jadi An-Najmi adalah sekolah untuk anak-anak yang kurang mampu dan memiliki semangat belajar yang tinggi namun, dalam satu angkatan hanya untuk sepuluh orang saja, lima orang perempuan dan lima orang laki-laki dan kelasnya pun dipisah. jadi masih banyak anak-anak yang tidak bisa masuk ke SMA ini. Pada tahun 2007 ada murid baru, yang biasa dipanggil Adi ternyata anak ini sangat hebat dan jenius. Dia meneliti banyak hal yang dapat diciptakan di sekitar lingkungan An-Najmi. Walaupun sempat mendapat penolakan dia tetap gigih untuk mempromosikan penemuannya kepada guru dan teman-temannya. Sebenarnya dia bukan dari kalangan tidak mampu, dia hanya ingin sekolah di SMA yang berbasis Islam Terpadu.
 
“Adi ini lulusan tahun 2010 ya?, sekarang sudah tahun 2014, sudah empat tahun semenjak kelulusannya, dia masih tetap berpengaruh?”. Tanyaku tak sabar
“Iya memang sudah lama pak, tapi dia sangat berarti. Dialah yang memiliki rahasia-rahasia pengelolaan pertanian dan peternakan yang dapat selalu menguntungkan, namun karena dia masih mengembangkan penelitiannya itu, dia belum berani memberitahukan rahasianya, hanya saja tetap dipraktikan oleh seluruh siswa tapi mereka tetap tidak mengetahui rahasianya. Dengan adanya peternakan dan pertanian ini An-Najmi sangat terbantu, setiap angkatan menjadi dua puluh enam orang perempuan dan dua puluh enam laki-laki”
 
“Hebat sekali ya?” Dengan decak kagum
“Ketika itu Adi telah menyelesaikan penelitiannya, sampai Ia meninggal tak ada satupun yang mengetahui rahasia itu. Dan akhirnya peternakan dan pertanian banyak mengalami kerugian karena tidak ada yang bisa mengelola dengan baik” Tutupnya dengan senyum
“ Oke makasih ya Mbak informasinya.”
“Iya, saya duluan Pak.”
“Oh iya silahkan.”
Aku sudah cukup puas dengan informasi ini. Dan aku bergegas untuk pulang menemui ibu dan ayah.
 
 
***
 
 “Aku heran kenapa Ayyash tak pernah menceritakannya padaku, bukankah Adi dan Ayyash sama-sama angkatan 2007?”. Kutanyakan hal ini pada ibu setelah menceritakan mengenai An-Najmi yang sekarang terbegkalai.
“Tidak semua hal yang Ayyash lalui harus kamu tahu Dan.”
“Tapi bu..” kata- kata ku tercekat.
“Ayolah Dan, kau harus menerimanya, mungkin kau pun mengetahui beberapa hal yang tidak ingin disampaikan pada Ayyash.” ibu mencoba terus menenangkan ku.
“Baiklah bu, aku hanya penasaran saja.”
“Dan, Ayyash pernah menitipkan kotak ini pada ibu, ia meminta ibu memberikannya padamu ketika ia telah tiada, maafkan ibu karena ibu lupa.”
“Oh tak apa bu, terimakasih telah mau menyimpannya untuk ku”
Ibu tersenyum seraya berkata 
“Bukalah Dan!”
Ku buka kotak itu perlahan, ternyata hanya selembar kertas.
 
Assalamu’alaikum. Dan jangan lupa jaga dirimu baik-baik. Aku titip orangtua, adik ku Hilwa dan An-Najmi padamu. 
 
Selesai, isinya hanya itu.
“Kenapa menitipkan An-Najmi padaku?” inilah yang menjadi pertanyaanku
Aku segera berangkat ke An-Najmi.
 
***
 
Guru An-Najmi menceritakan padaku tentang sosok Adi. Aku semakin kagum dibuatnya, dan mereka memperlihatkan sebuah kotak.
“Nak, ini kotak milik Adi, kami tak dapat membukanya, kata sandinya tak pernah kami dapatkan. Kami pun tidak mengetahui apa isinya.” Dengan keluh kesah.
“Boleh saya lihat Pak?”
“Silahkan nak.”
Kotak ini terbuat dari besi yang sangat kuat. Sulit sekali jika akan dihancurkan
Aku mencoba saja mencoba-coba memasukkan kata sandi milik kita –Aku dan Ayyash - . 
“Terbuka nak!” teriak Pak Said
Aku sangat heran, kenapa bisa terbuka dengan kata sandi ini. Ternyata isinya dokumen mengenai penelitian pertanian dan peternakan. Aku terkejut ketika melihat foto Ayyash, aku dan Hilwa di dalamnya.
“Pak, kok disini ada foto saya?”
 “Iya nak, kalian benar-benar terlihat akrab, pantas saja nak Idan bisa membuka kotak ini.
“Apa hubungannya dengan saya?”
“Bukannya Adi sahabat nak Idan?”
“Tidak-tidak, yang di foto ini kan Ayyash, bukan Adi pak?”
“Iya itu kan orang yang sama nak. Muhammad Ayyash Fuadi”
“Namanya Muhammad Ayyash pak, bukan Muhammad Ayyash Fuadi”
“haha.. namanya Muhammad Ayyash Fuadi, dan kami memanggilnya Adi”
“Jadi selama ini aku tidak pernah tahu kepanjangan namanya?” aku kecewa pada diriku sendiri
“Sudahlah nak, tak apa, ia memang jarang memperkenalkan nama belakangnya. Yang penting sekarang kita bangun An-Najmi lagi dengan hasil penelitian yang Adi tidak turunkan langsung”
 
***
 
 
Walau tak akan ada lagi yang seperti engkau dimataku Yash. Aku akan tetap meneruskan perjuangan kita. Aku tak boleh berhenti. Dengan basmallah, ku mulai lagi semua dari awal. Kubangun An-Najmi dengan hasil penelitian mu. An-Najmi kini semakin besar dengan fasilitas yang memadai. Siswa dan guru pun saat ini sangat banyak. Dan Siswa An-Najmi banyak juga yang berasal dari luar Negeri. Dan sesuai dengan pesan mu, aku akan menjaga Hilwa karena ia sekarang menjadi kekasih halal ku Yash. Semoga kau bahagia.

  • view 404