Al-Ukhuwah

Anggi Yusika Ayuni
Karya Anggi Yusika Ayuni Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juni 2016
Al-Ukhuwah

Tekad ku semakin bulat untuk melanjutkan sekolah di SMPIT Al-Ukhuwah sebuah pesantren modern yang baru dibuka setahun yang lalu. Aku berniat masuk pesantren bukan karena aku memang dilahirkan di keluarga yang religius tapi karena seorang teman yang belum lama aku kenal. Ia mampu membuat ku nyaman, aku tidak pernah menjadi orang lain ketika bersamanya. Namanya Shofia Noor Assyifa biasa ku panggil  Syifa. Kala itu saudara ku yang mengenalkan ku pada Syifa dan Al-Ukhuwah.
“gi, ada pesantren bagus di pagaden, ini brosurnya” . sambil menyodorkan brosur
Awalnya aku biasa saja tak bersemangat, karena sebelumnya aku sudah daftar dan test di As-Syifa jalancagak tidak lulus. Lagipula pesantren mana yang mau menerima calon murid seperti aku? Aku tidak bisa membaca Al-qur’an dan tidak punya hafalan Al-qur’an sama sekali kecuali Al-Fatihah. Pakaianku pun masih jahiliyah (celana lepis, baju ketat dan kerudung sampai pundak) 
Ku hela nafas dengan berat.
 
“abang mau kesana?”. Ku tanya tanpa semangat
“iya insyaallah kesana, syifa juga kesana”. Jawab rifki pelan
“yang bener bang?”. Tanyaku antusias
“iya bener”. Tetap dengan gayanya yang cool
 
Saat inilah keyakinanku mulai timbul untuk mengikuti testnya. Ketika dalam perjalanan menuju Al-ukhuwah aku masih menggunakan seragam olahraga SD ku, dan tidak memakai jilbab, jilbab itu baru ku kenakan ketika hampir sampai di Al-ukhuwah. (MasyaAllah)
 
Aku mulai mengikuti testing. Test yang diadakan tidak membuat ku gentar padahal testnya akademik(saat UN SD saja aku tidak menghafal), baca tulis qur’an, hafalan qur’an dan wawancara. Test yang disajikan tidak ada yang bisa ku kuasai sama sekali, bahkan ketika di perintahkan untuk menulis surat Al-Fatihah aku tidak mampu. Bagaimana aku bisa menulis Al-fatihah, sementara menulis basmallah pun aku nyontek. ( ini sangat parah)
Setelah hasil tes nya keluar ku lihat nilai yang kudapatkan. Luar biasa buruk sekali tapi aku tetap masuk menjadi siswi baru SMPIT Al-Ukhuwah. Alhamdulillah Allah menakdirkan ku untuk masuk di sekolah ini, aku sangat bersyukur. 
“ gimana gi hasil testnya?” tanya rifki dengan senyumnya
“hehe . . jelek bang, apalagi nilai tahfidznya, jelek banget” timpal ku sambil cengengesan malu
“ emang nilai tahfidznya apa?”
“D, abang apa nilainya?” jawabku sambil menundukkan kepala
“nanti bisa belajar lagi disana, nggak usah takut. Alhamdulillah abang dapet A”
“ iya bang”.
 
*******
Tibalah saatnya aku masuk sekolah, dan tinggal di asrama. Aku hanya diantar oleh bapaku. Karena ibuku sedang bekerja di luar negri. Pada awalnya aku masih merasa asing tapi, lambat laun aku mulai menikmati rumah baru ku ini. Asrama Sumayyah.
Saat itu pembimbing asramaku Bu Ani. Aku bahagia bisa mendapatkan pembimbing asrama seperti bu Ani, beliau mengatur sesuatu sampai pada hal yang kecil namun sangat bermanfaat untuk kita semua.
 
Hari-hari ku di asrama begitu berbeda dari biasanya. Tidak seperti saat masih berada di rumah. Aku yang selalu main dengan anak laki-laki. Kini, bahkan menatap mata atau berbincang-bincang pun tidak boleh dan tidak terbiasa. Namun, malas belajar ku teteap saja lengket tidak mau lepas dari pemiliknya. Ketika ulangan aku mendapatkan nilai tiga, rasanya itu sudah nilai terbaik yang bisa ku raih.
 
Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, hidup ku begitu tak teratur ngaji sholat dan hal-hal yang berbau agama aku tidak bisa melakukannya. Ini payah, tapi dulu aku tetap enjoy saja dengan semuanya. -,-. Dan terbawalah semua di SMP. Ketika orang lain membaca Al-Qur’an, aku masih membaca ummi. Aku sempat malu, tapi tetap saja tidak hilang rasa malas ku. Malah mempengaruhi orang lain untuk malas.
 
Pada bulan-bulan pertama aku merasakan kekeluargaan yang begitu erat. Aku merasakan bagaimana rasanya ketika sakit dan banyak teman-teman yang memperhatikan. Yang paling dan sampai saat ini masih ku ingat, ketika kita ngantri untuk ngambil makan dari dapur. Berlari tanpa lelah hampir setiap waktu makan. Atau kita makan satu piring bertujuh, sebelum itu dilarang. Walaupun kita lagi shaum senin-kamis tetap saja tidak lupa menyimpan jatah makan siang untuk disantap saat buka puasa. 
 
Selain ngantri makan,ngantri nyetrika, ngantri tempat nyuci kita juga ngantri kamar mandi. Aku pun bertemu sahabat ku lewat kamar mandi. Dulu ketika aku duduk di kelas 9 dia masih dikelas 7,namanya Safira Az-Zahra. Aku biasa memanggilnya Ira. Pada awalnya aku dan dia mendapatkan antrian di kamar mandi yang sama. Sampai-sampai dia selalu memberiku antrian jika jam tiga pagi mau mandi. Aku tinggal dibangunkan dan mandi. Tidak usah menunggu antrian. 
 
Selain Safira, ada Diana. Dia sahabatku juga ketika masih di SMP. Sosoknya begitu luar biasa. Dia yang selalu ranking 1 dikelas. Dia yang paling rajin untuk sholat tahajjud. Dia yang begitu dibanggakan oleh banyak guru.
 
Al-Ukhuwah benar-benar luar biasa, sekolah yang berbasis boarding school ini mampu membuat ku berubah, benar-benar berubah. Aku masih ingat dengan nilai besar pertama yang ku raih. Nilai itu adalah nilai Tahfidz atau hafalan Qur’an setelah itu nilai ulangan PKN ku yang biasanya dapat 40 kini aku mendapatkan nilai 88. Betapa bahagianya. Rasanya lebih indah.
 
Hidupku mulai berubah, Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah. Semangatku mulai timbul setelah 3 bulan berada disini. Semangat ku begitu membara. 
 
Jazakumullah Khair Al-Ukhuwah dan semua pembimbing ku disana. Karena kalian, aku mendapatkan semangat baru utntuk menjalani hidup.

 

  • view 61