Tentang Robin Williams

Anggitha Soraya
Karya Anggitha Soraya Kategori Inspiratif
dipublikasikan 11 Juni 2016
Tentang Robin Williams

 
AUG
17
 

about Robin Williams

 

it's been two years. sejak kematian beliau.

dia bukan siapa-siapa di hidupku. begitupun aku di hidupnya. tapi kematiannya begitu menyakitkan untuk didengar, apalagi setelah mendengar alasannya...

aku tumbuh bersamanya. ada waktu tertentu di masa kecilku ketika ayahku sedang rajin-rajinnya menonton vcd, dan mengenalkanku padanya. Robin Williams. luar biasa, katanya. banyak sekali film Robin yang dia rekomendasikan, karenanya, film Robin Williams adalah film yang menyimbolkan aku dan ayahku. dialah salah satu yang menyatukan aku dan ayah, karena itu tentu kau tahu mengapa aku sebegini sedih melihatnya meninggalkan kami berdua.

anyway, apa yang spesial dari lelaki berwajah tua dengan pipi elastis itu? awalnya aku sangat meremehkannya karena ia tak seganteng penyanyi Westlife (ini pikiranku semasa kecil, mohon diingat). tapi semua terhapuskan ketika kutonton filmnya. jumanji yg mengajakku berfantasi dan patch adam yang membuatku menangis. ah, jangan lupa jack yang lebih membuatku menangis dan aladdin sebagai genie yang menyebalkan. tapi yang paling kusuka adalah bicentennial man.

buatku, it's about a deadman dying to alive. kinda like my life, though. kinda like everybody's life... lagi-lagi analogi mengatur jalan hidupku dalam mengambil makna. tapi itulah yang membuatku sangat menyukai film ini. film ini tidak disertakan dalam daftar-film-paling-dikenang di artikel-artikel kematiannya. tidak ada yang mengulas aktingnya di film ini, tapi bagiku di film inilah ia paling hebat. disini, rasa sakitnya sangat jelas terlihat... dan menyentuh hatiku. aku yang masih kelas 3 sd, hingga kini di bangku kuliah, masih sangat ingat raut wajahnya saat melancarkan perannya. yang menurutku, peran yang mewakili dirinya sendiri.

jauh di dalan hutan kenegatifan di dalam pikiranku, i actually have a positive faith that i'm dying to believe. aku percaya akan kekuatan pelukan. dan ketika aku mendengar kabar kematiannya, yang kupikirkan adalah seandainya aku adalah orang kaya yang bisa mengetahui masa depan, sehari sebelum kematiannya aku akan langsung berangkat ke rumahnya, mengetuk pintu kamarnya, dan memeluknya. berkata, "don't die... you mean a lot to me."

aku yakin. ia takkan mati.
karena itulah yang diharapkan semua orang.

karena itulah yang kuharap bisa kudengar...

melihat dirinya, aku seperti berkaca. aku melihat refleksi diriku dan hidupku di matanya, hingga aku takut, akankah aku seperti itu kelak? akankah orang-orang yang kucintai akan seperti itu kelak? jika aku akan seperti itu, how much pain that will caused for my beloved? jika orang-orang yang kucintai akan seperti itu, how much pain that will caused for me? my parents have hurt too much in their lives. i wont give them more. my friends, i dont know, do i have one? my spouse... he will blame himself.
kesimpulan, tidak ada bunuh diri yang berguna. aku setuju kepada mereka yang berkata bunuh diri adalah tindakan egois. sakit yang dibalas sakit, tidak lebih jahat dari seorang penjahat. apa yang lebih jahat dari menyakiti? daripada itu, mengapa kita tidak mengubah diri saja untuk bisa menjadi alasan semua orang untuk memeluk kita? if there's no one, then god will be the one.

that will be much more beautiful...
and that's what i'm doing here.

ketika kabar kematian Robin sedang ramai-ramainya, ayahku yang juga seorang "kritikus" di media sosial itu tidak bereaksi apapun. dia diam seribu bahasa. aku akan mengira dia tidak tahu menahu tentang kematian Robin sampai akhirnya aku melihatnya mendownload semua episode sitkom Robin dan menontonnya dalam diam. tak ada tawa, seolah sitkom itu tidak begitu lucu, tapi sitkom itu terus ditontonnya hingga malam menjelang tidur. disitulah, aku bisa melihat rasa sakitnya.

kini, aku akan jadi alasannya untuk memelukku.

rest in peace, Robin.
and i will bring peace in life that you left...

 

p.s.

kuharap ayahku tak membaca ini. bagaimanapun, gengsi adalah sifatku yang tak bisa kuhilangkan, rupanya. phew.

 

  • view 100