Saya Bukan Penulis

Anggitha Soraya
Karya Anggitha Soraya Kategori Filsafat
dipublikasikan 06 Juni 2016
Saya Bukan Penulis

Saya Bukan Penulis

“Kenapa Anda memilih jadi penulis?”

Saya bukan penulis. Saya adalah sehelai rumput dalam padang penjara bernama mayoritas yang tak memiliki hak untuk memasuki kaum minoritas. Terjebak dalam kedua kubu yang sama sama tak menerima eksistensi saya.

Saya hanya orang biasa yang sedang meraung.

Saya bukan penulis motivator yang tak memiliki tangan dan kaki. Saya bukan ilmiah jenius yang lumpuh total dan selamanya di kursi roda. Saya bukan penulis yang berbagi kesedihan di kala penyakit mematikan menggerogoti hingga menunggu mati. Bicara mengenai ketidaksempurnaan fisik, tentu saya pun tidak sempurna. Saya memiliki tubuh yang tidak tinggi dan tidak berisi layaknya wanita impian kaum lelaki. Wajah saya penuh jerawat yang membuat semua orang gatal ingin mencongkelnya. Saya tidak bisa berdiri tegak layaknya wanita anggun pada umumnya. Saya juga ngangkang ketika berjalan. kalau kamu mau tahu, saya memiliki sepasang kaki yang tak sempurna. Ia berbentuk O namun tak terlalu terlihat. Saya sudah terbiasa melihat muka jijik para manusia yang haus keindahan.

“Setidaknya kamu bisa berjalan,” seru ‘mereka’.

Saya juga punya penyakit, sayangnya terlalu umum untuk bisa saya pamerkan atau bagikan kesedihannya. Mereka bilang ini penyakit mahasiswa. Kalau belum terjangkit penyakit ini belum bisa dikatakan sebagai mahasiswa, katanya. Jika saya stres, asam dalam lambung saya terproduksi lebih banyak dari biasanya dan ambruklah saya. Selidik punya selidik, 78persen penyakit parah yang menyebabkan kematian berawal dari maag. Tapi tidak ada penulis yang membuat testimoni betapa menderita dan putus asanya ia memiliki penyakit maag.

Saya bukan penulis cinta. Apalagi cinta-cintaan klise yang halaman pertamanya selalu berawal dari bel sekolah berbunyi dan si karakter utama datang sekolah terlambat, atau sosok kampungan medok yang baru masuk kota lalu tertabrak sang empunya mobil yang tajir bin gaul dan berkenalan hingga jatuh cinta. Bahkan tukang becak jaman sekarang sudah pegang android dan medok sudah menjadi salah satu patokan kegaulan. Betapa ketinggalan jamannya cerita-cerita cinta itu.

Saya pernah jatuh cinta. Tidak dengan tertabrak mobil, tidak perlu terlambat masuk sekolah. Hanya berawal dengan kata ‘hai’ hingga ‘hai love you’. Tidak ada kejadian spesial di antara kami, tidak seperti sang pemain basket yang tergila-gila dengan cewek cheerleader. Tidak seperti penyanyi rock yang berusaha menggandeng wanita berhijab. Hanya ada aku, dia, dan cinta. Kami tak merasa perlu mendeskripsikan aspek lain. Tapi kata 'lebay' menjadi kalimat favorit mereka ketika mendengar caraku mendeskripsikan cinta.

Saya juga bukan penulis skandal atau kontroversial, yang kerjaannya menulis di kolom-kolom majalah mendiskusikan gaun pengantin artis yang terlalu mini atas permintaan calon suaminya yang tak setia, mengkritik kehidupan rumah tangga aktor yang punya empat istri, atau menghujat para peselingkuh tapi tak mau mengakui betapa busuknya caranya mendapatkan info itu. Saya masih terus bertanya-tanya dalam hati mengapa pembaca harus menganggap itu semua penting dan layak terpampang di headline news.

Saya rasa, definisi pengkianatan saya berbeda dari yang dimiliki orang lain. Saya merasa terkhianati ketika sahabat saya tak lagi berada di pihak saya namun berganti menjadi di pihak lawan. Saya merasa terkhianati ketika kekasih saya mengekang dengan aturan-aturan hingga berujung bermain kasar. Saya merasa terkhianati ketika saya menangis atas janji-janji tak tertepati namun tak ada yang langsung memeluk saya. Saya tak punya hak untuk memaki-maki atau menyudutkan mereka apalagi berbalik kasar. Tapi ketika saya yang berkhianat, tubuh terjerembab pun layak untuk dilakukan. Saya tidak mengerti batas besarnya pengkhianatan itu seperti apa. Apa ada patokan yang signifikan dan jika sudah berada di batas tertentu seseorang berhak untuk berbalik menyakiti? Yang saya tahu, saya dianggap belum mencapai batas itu. Dan saya wajib diam.

Saya bukan penulis yang pernah mengalami sakau. Saya memang tak terlalu suka dengan segala macam bentuk bubuk ataupun suntikan. Bubuk itu membuat saya batuk sambil bersin dan saya sudah cukup banyak disuntik infus, saya tak merasa perlu menambahnya lagi. Tapi jika bicara soal kecanduan, saya paling tak bisa menahan diri untuk tidak memakan kripik pedas, narkotika legal yang mampu membuat saya sejenak melupakan beban saya dan mampu menghilangkan sakit kepala saya. Penyembuh sakit kepala, namun pemicu penyakit maag dan diare. Sama seperti narkotika, bukan? Merugikan diri sendiri. Tapi, sekali lagi. Tidak ada polisi yang berusaha menggerebek sekelompok orang yang sedang berpesta kripik.


Dan mereka rupanya masih saja berkata sesuatu yang berawal dari kata ‘setidaknya’.

 

Setidaknya kamu masih bahagia...

Masalah gitu doang pake nangis...

Kami lebih sakit daripada kamu...

Kamu pikir kami tidak merasa seperti yang kamu rasa...

Kamu harusnya bersyukur...

 

Dan kau tahu? Saya muak! Tak perlu kalian berkata-kata seperti itu. Saya sudah tahu. Saya tahu saya masih beruntung memiliki tubuh lengkap. Saya tahu penyakit saya masih bisa disembuhkan. Saya tahu cerita cinta tak terlalu penting untuk menjadikannya hal utama di dunia. Saya tahu saya beruntung masih diperlakukan baik ketika saya berkhianat. Saya tahu kripik pedas tidak sebahaya narkotika. Saya tahu saya masih beruntung dikaruniai keluarga yang lengkap. Demi Tuhan, bahkan saya lebih tahu daripada kalian! Saya sudah sangat tahu penderitaan kalian sebagai kaum minoritas yang iri dengan kami para mayoritas beruntung. Saya tahu beratnya hidup tanpa kaki dan hancurnya hati di kala keluarga pecah berantakan. Saya tahu lolongan kalian ketika meminta keadilan pada Tuhan.

Tapi sungguh. Jika menjadi minoritas menjadikan saya bisa memiliki hak menangis dan meminta dimengerti, saya lebih baik segera menyambar narkotika. Saya lelah menjadi mayoritas yang melulu dicap beruntung namun hanya memiliki hak diam. Kau tahu? Tak hanya minoritas yang meraung menuntut keadilan. Ketika mereka meraung meminta keadilan karena tak memilih untuk hidup tanpa kaki, saya meraung karena tak memilih untuk hidup menjadi ‘orang biasa’ yang tak berhak menangis.

Tidak ada kaum minoritas atau mayoritas.
Kita sama. Benar-benar sama. Terlalu sama hingga kita bisa bercermin satu sama lain.

Mungkin... Kita semua hanya sedang berkaca pada sisi yang salah.

 

Saya benci penulis. Dialah yang mendoktrin mengapa para penenggak minuman keras berhak untuk sombong. Dialah yang mengklaim beratnya kehidupan pecandu narkotik tak seberat mahasiswa pecandu kripik. Dialah sang penarik garis di atas kertas yang tak seharusnya digarisi. Dialah yang membatasi ketika tak seharusnya paham hidup dibatas-batasi. Kau pikir dengan banyaknya buku-buku mengenai penderitaan para penyandang cacat, kami sebagai orang biasa yang katamu ‘masih beruntung’ tak berhak menangis? Bahkan penyandang cacat yang katamu berbeda dengan kami ini lebih mengerti kami, ketimbang kamu yang katanya sama sama sempurna dengan kami namun malah berbalik tak peduli.

Hanya karena orang biasa tak menarik untuk ditulis. Sesederhana itu.

Saya bukan penulis.

 

Saya hanya orang biasa yang sedang bersedih.

 


  • Dani Kaizen
    Dani Kaizen
    1 tahun yang lalu.
    @Anggitha Soraya.....
    .
    Saya juga bukan penulis mbak, saya blogger...
    Eh! Salah fokus...maaf...

    Keren tulisan ini...seriusan suka... :-)
    (copas dan edit sedikit komentarnya @Shinta Siluet Hitam Putih)

    • Lihat 2 Respon

  • Tee 
    Tee 
    1 tahun yang lalu.
    Keren
    Semua juga berhak menangis kok,,Ya setidaknya tiga bulan sekali.

    • Lihat 2 Respon

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Saya juga bukan penulis mbak, saya jurnalis...
    Eh! Salah fokus...maaf...

    Keren tulisan ini...seriusan suka...

    • Lihat 2 Respon

  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    1 tahun yang lalu.
    Aku penulis. Penulis code

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Satu dari sedikit tulisan di sini yang bisa membuat saya merenung. Jujur sekali isinya.. Suka sekali mbak..

    • Lihat 2 Respon