Surat Kedua di Satu Januari

Anggitha Soraya
Karya Anggitha Soraya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Mei 2016
Surat Kedua di Satu Januari

 
JAN
1
 

Surat Ketiga menuju Dua Januari

Masih Januari Satu,
 
Gejolak tak tentu inilah yang memaksaku menuliskan dan menumpahkan rasa di atas kertas dalam buku pemberianmu ini. Tak pernah ada rasa tenang atau damai setiap kali aku menaiki kereta. Selalu ada segurat pedih dan gairah ketidaksabaran. Mungkin karena itu kereta adalah aspek yang sakral bagiku. Aku tak pernah rela untuk tertidur dalam kereta. Ketidakdamaian inilah yang justru menagih dahagaku detik demi detik. Ketidakdamaian dan dahaga bukanlah kombinasi yang cocok untuk membuatku tertidur...
 
Lagi, aku mendapat kursi di sebelah jendela. Kau tentu tahu, aku sendirian disini dan kau pun tahu aku mendambakanmu berada di sampingku. Di kereta ini... 
 
Akulah sang pencinta sejati yang mendamba romantisme. Aku mendamba cerita romantis yang bisa terjadi di kala kamu berada di sampingku. Kala kita memandang di jendela yang sama. Kala kita sama-sama ingin tidur dan saling bersandar. Menggenggam tanganmu. Merasakan bahumu yang menghantarkan suara jantungmu degup demi degup. Kamu pasti tahu betapa irinya aku melihat pasangan suami istri yang duduk di depanku.
 
Kita tak pernah berbicara. Setidaknya, berbicara dengan intensitas kedalaman kata yang cukup. Kita terbiasa saling bercanda ria dan saling memanggil dengan panggilan lucu. Bukannya aku tak suka itu... Itulah yang selalu kurindukan darimu. Tapi tidak ada wanita yang tidak sedih bila kini ia sendirian menulis sambil mendengarkan musik instrumen piano. Tidak ada wanita yang tidak akan mendadak merindukan kekasihnya. Mendadak menginginkan suatu romantisme yang bisa mengisi hati ini atau suatu kenangan manis yang mampu menggantikan kehadiranmu kini.
 
Aku ingin mendengarkan...
 
Aku adalah penggila seni. Keindahan nada dan kata adalah hidupku. Karena nada adalah nafasmu dan kata adalah pendampingmu, maka kamu adalah sosok sempurna yang bisa mendefinisikan "hidup" untukku.
 
Aku ingin mendengarkan hidupku.
Aku ingin mendengarkan nada dan kata-katamu.
Aku ingin mendengarkan hatimu...
 
 
Bicaralah padaku, Dear...
Kamu belum cukup berbicara walau lidahmu telah kelu di penghujung waktu pertemuan kita.
 
Karena hatimu belum berbicara..
Temanilah aku, di kereta ini.

January 1st 2014
23.55
Menghitung detik...
 







 
[23.59.56]
 
[23.59.59]
 
[00.00.00]








Berhenti menghitung detik.
Karena satu hari telah terlewati...
 
 
...saatnya menghitung detik yang baru.
 
 
 
 
Paris,
January 2nd 2014
00.00.01
 
Menghitung detik,
Menunggu kamu.
 

  • view 118