The Telephone

Anggitha Soraya
Karya Anggitha Soraya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Mei 2016
The Telephone

Kau menangis. Sesenggukan tanda tak tahan. Kamu yang terlalu takut untuk sekedar mengobrol kini meneleponku di suatu sore. Tanpa alasan. Tanpa tujuan. hanya menangis.. Kau memintaku untuk diam, tak bertanya, dan cukup mendengarmu menangis. Untuk sejenak tak merasa sendiri walau sepi mengiris sanubari. Kesendirian menyiksamu, namun kebersamaan yang menipu jauh lebih membunuhmu. Kau menangis karena dia, seseorang yang sangat kukenal. Dan kau meneleponku, seseorang yang tak terlalu kau kenal. Apa yang bisa dilakukan oleh seorang asing sepertiku selain mengunci mulut untuk berkata manis dan mengernyit sakit menahan tangis?

"Nggak perlu ngomong apa-apa. Cukup dengarkan aku menangis ya..." ujarmu. Kosa yang membungkam mulutku hingga lidaku kelu. Tak ada kata lain yang mampu terujar oleh otakku selain satu tanya : "Kamu kenapa?". Isakmu semakin menggila.  Sesaat merasa ada yang merengkuhmu namun kamu tahu ini hanya tindakan spontan sebuah pelarian. Ketika kamu menutup teleponnya, semua selesai. Tak boleh lagi ada tangis dan melankolis. Tidak ada lagi hubungan semu dan omongan sendu. Menyesakkan kalbu. Mengundang rindu. Kamu harus ingat, bawa ini sementara. Kamu harus ingat kalau kita hanya orang asing belaka..

"Aku sudah lebih baik. Terimakasih sudah diam dan mendengarkan..."
Lagi, satu ujarmu yang melegakan sekaligus... menyesakkan. haruska kamu berenti sekarang? Kamu masih boleh menangis. Aku masih ada disini, terduduk dengan telinga siap mendengar cuapmu. Aku akan merengkuhmu dalam diam, mengecupmu dalam keterbatasan dan menghentikan tangismu dalam jarak terbentang. Aku siap. Jangan berhenti bila kamu belum siap berhenti. Kamu tidak sendiri. Aku memanggil namamu, dalam sepi. Tanpa kau sadari.

"good bye"

Tuuut.... Tuuut... Tuuut...

Tuuut.... Tuuut... Tuuut...

Tuuut... Tuuut... Tuuut...

Aku masih disini. Mendengarkan.

***

"Aku gak pernah menyangka ternyata kayak begini suaramu," cetusmu lugu. Lagi, kamu mengubungiku. Tidak dengan tangis kali ini, tapi dengan celoteh jenaka. Walau pembicaraan tetap diawali dengan curhatan sedihmu dan nasehat bijakku, kamu pasti tahu esensi obrolan kita sore ini berbeda. Kita mencoba saling mengenal. Menelaah setiap digit frekuensi yang bisa ditangkap telinga, mencari sesuatu yang tak tercetus oleh sekedar kata. Kamu tak menyangka aku seorang pendiam, dan aku tak menyangka kamu seorang pembicara. Kamu berceloteh dan bercerita, tertawa tawa akan canda, dan aku masih disini. Mendengarkan.

Kamu seorang filosofis sempurna. Dengan teorimu yang mempesona, dan tak pernah kusangka. Bahwa ternyata ada hal yang membuatku berjengit menahan rasa selain kelopak matamu yang lentik penuh aura. Aku suka. Kamu bisa mengimbangi teoriku, bakan mematahkannya terkadang. Membuatku tercengang sekaligus tersenyum senang. Bahwa ada satu orang di dunia serabutan ini yang memiliki otak sama liarnya dengan aku, tak lebih dan tak kurang. Seimbang. Sempurna. Mempesona.

Tapi lagi lagi, kamu masih membicarakan dia. Seseorang yang sudah kuanggap lebih dari sekedar saudara. Orang yang sangat kukenal. Orang yang sangat kau cinta. Cinta menggebu layaknya film romantis zaman dulu, menggetarkan jiwamu dan menyesatkan logikamu. Mengesampingkan hatimu demi bahagianya. Memproduksi tetesan airmata demi menahan sakitnya. Kau, wanita penuh cinta, tanpa kasta dan tanpa perlu kosa. Tulus, bersih, sejati. Definisi cinta yang kudamba. Dan definisi cintamu yang penuh cerita.

Aku masih disini. Mendengarkan.

***

"Ya? Kamu kenapa?"
"Aku tak tahan lagi. Cukup sampai disini. Aku nggak kuat."
"Jangan. Jangan menyerah. Jangan biarkan hidupmu sumbang. Kalian sama sama cinta, jangan disia-siakan. Dia cinta mati sama kamu."
"..."
"Kau masih disana?"
"..."
"Tolong jangan diam... Kumohon. Aku akan bersimpuh bila itu yang diperlukan agar kalian kembali bersama."

"Aku.. cinta mati sama dia. 

Aku terlalu cinta dengan cinta yang dia beri kepadaku. Aku merasa aneh tiap pagi aku bisa terbangun sendiri, tak ada yang membangunkan atau memarahi. Tidak ada yang mengucap selamat pagi. 
Aku selalu merindukannya tiap malam... Bahkan aku pernah misscall dia dan meng-hide nomorku, hanya untuk mendengar suara dia sekali saja, tanpa sepengetahuannya. 

Aku sakit tiap berfikir kalau kami akan berpisah. Tak ada lagi yang menanyakan kabarku, tak ada lagi yang mengkhawatirkan keselamatanku, hidupku, sosialku. Aku sangat sakit ketika tahu dia ada yang mendekati. Aku tak bisa, benar-benar tak bisa membayangkan kelak ketika kami berpisah dan aku melihatnya bersama seseorang yang sama sekali baru... Sekalipun mungkin aku sendiri sudah punya yang baru, aku tau hatiku tak akan diam. Dia akan menangis, luka, berdarah. Bahkan hanya membayangkannya saja aku tak kuat, sesak, pingsan... 

Di satu sisi aku tahu dan sadar, mungkin aku takkan bisa lagi mencintai dan dicintai seperti aku mencintai dan dicintai dia... Aku sadar mungkin tak bisa lagi mendapatkan cinta seperti yang dia beri. Tapi sungguh aku tak kuat lagi. Aku tak dianugerahi hati yang cukup besar dan cukup kuat untuk meneruskan ini. Jadi, dengan segala sakit ini, aku masih akan memutuskan berpisah darinya, dan menahan satu lagi sakit yang abadi."

...
Aku masih mendengarkan.
Dan menangis.

***

Tolong
Tolong. Tolong aku.
Dia membuatku takut. Teriakannya memekik telingaku,
Caciannya membunuku.
Aku takut.
Tolong. Tolong aku. 
Tolong tetap disini. Dengarkan aku.

***

Kamu telah lama kembali padanya. Namun kamu tak pernah lagi sama. Ada yang berubah darimu, entah apa. Kekosongan menjadikanmu hampa.

Kita saling menggenggam telepon kita masing masing. Menunggu malam dengan tak sabar. Menunggu sebuah kosa untuk berbicara. Ada yang berubah darimu, menjadikanmu berbeda. Tak lagi penuh cerita dan derita. Kini kamu diam dengan sempurna. Ada apa denganmu? Takutkah kamu aku tak lagi mendengarkan? Aku masih disini. Mendengarkan. Aku tak pergi. Tak pernah pergi. Kau memberiku diam penuh siksa. Memaksaku berbicara tanpa tema. Merasukiku dengan kekawatiran tak berkata. Ada apa denganmu?

Telah lama aku menunggu kita untuk saling berbicara lagi. Aku ingin kembali menyelami suara sengaumu, yang kini frekuensinya telah beruba. Aku merasa aku harus kembali menelaahmu. Menghitung digit demi digit, kata demi kata, frase demi frase. Mencoba mengenalmu lagi dan mencocokkannya dengan memori dan definisiku soal kamu. Aku ingin terpesona lagi, aku ingin tercengang lagi, aku ingin merasakannya lagi. gairah tak terdefinisi yang tengah kurasakan dan kutahan agar tak keluar dengan membabi buta. Tak membiarkan monster ini lepas dari rantainya. Tak membiarkanmu tahu apa yang sedang kurasa.

"Ada satu statement yang ingin aku ungkapkan."

Akirnya, statement lagi. Filosofi lagi. Dahaga yang terus kutunggu, tak terpuaskan. Aku menunggu. Aku mendengarkan.

"Aku mencintaimu."

...
Aku tak yakin sedang mendengarkan. Ada yang salah. Semua salah hari ini. Aku harus lebih mendeng...

"Aku jatuh cinta. Dan aku hanya bisa mencintai satu orang. Kamu."

...
...
Tak ada kata lain yang mampu terujar oleh otakku selain satu kata.
"Aku juga mencintaimu. Lebih lagi."


***

Malam ini sama gelapnya. Sama sepinya. Sama dinginnya. Tak ada yang berubah. Bahkan dengan cara kita menelepon. Kamu masih menangis disana, dan aku masih mendengarkan disini. Mendengar suaramu yang jauh lebih sengau karena isak, tanpa bisa cerita. Karena cintamu belum usai namun katamu telah duluan habis. Kamu merasa tak lagi ada yang layak untuk dilakukan, tak ada lagi kata yang pantas untuk diujar, tak ada lagi curahan yang mumpuni untuk diceritakan. Kamu merasa semua percuma. Kamu putus asa. Kamu habis, kamu pecah, kamu lelah. Lelah akan ekspektasimu sendiri tentang definisi kebahagiaan. Lelah akan permintaan sederhana yang enggan Tuhan kabulkan. Lelah akan ikhtiarmu untuk terus membahagiakan namun berujung cercaan dan kembali merenggut setiap senyuman. Menggantinya dengan tangisan. Lagi. Dan lagi...

Kamu telah meninggalkannya. Kamu telah sadar dari getaran jiwa dan kesesatan logika. Bahwa kamu tak bisa bahagia dengannya. Kamu menuruti kata seseorang yang menyuruhmu mengambil jalan yang paling membuatmu bahagia. Seseorang yang kini sedang mendengarkanmu. Dan kamu sudah ambil jalan itu. Kamu rela menunggu, karena hanya itu yang bisa membuatmu merasa sedikit lebih baagia daripada pilihan pilihan lainnya. Namun ketika kamu ditanya apa kamu benar benar baagia akan pilihanmu, kamu akan bingung. Karena kebaagiaan apa yang layak untuk ditukar dengan menyakiti hati tiga, bukan. Empat orang sekaligus, terutama kamu sendiri? Kamu melihat sebuah masa depan maha bahagia di mataku. Namun bertanya tanya akankah dengan memilihku beserta segala ketidakadilan dunia ini, dapat cukup menjamin kamu tak lagi berujung sendirian? Kamu memilihku dan meninggalkan cinta yang sebenarnya masi kamu harapkan getarannya. getaran yang tak lagi mungkin dirasa karena akan membuatmu teringat lagi bawa itu hanya sebuah kenangan belaka. Kenangan bertahun tahun yang membuatmu gila. Bawa seorang buruk rupa hanya bisa disembuhkan oleh princess berhati mulia, bukan kamu. Kamu sadar kamu tak semulia princess. Karenanya kamu hanya akan terbunuh oleh sang monster itu, tanpa bisa merubahnya. Opini yang terlalu objektif hingga tipis batasnya dengan fakta. Bawa itu hanya satu lagi ekspektasi layaknya meminta dongeng menjadi nyata. Namun hatiku sakit melihatmu semakin menggila, menyadari bahwa tidak hanya itu dongeng yang harus kamu hadapi kesemuannya. Tidak hanya itu dongeng yang tak mungkin jadi nyata. Kamu punya dua dongeng. Dongeng yang kau sebut sebagai dongeng terindah dalam hidupmu. Aku.

Kamu masih boleh menangis. Aku masih ada disini, terduduk dengan telinga siap mendengar cuapmu. Aku akan merengkuhmu dalam diam, mengecupmu dalam keterbatasan dan menghentikan tangismu dalam jarak terbentang. Aku siap. Jangan berhenti bila kamu belum siap berhenti. Kamu tidak sendiri. Aku memanggil namamu, dalam sepi. Yang pasti telah kau sadari. Namun kamu tepis karena cincinku di tangan kiri.

Kamu meninggalkan demi seseorang yang telah memiliki.
Tapi aku masih disini. Mendengarkan.

  • view 176

  • Tee 
    Tee 
    1 tahun yang lalu.
    apa ini perselingkuhan via telephone.?

    • Lihat 2 Respon