Kamu Melihatnya

Anggitha Soraya
Karya Anggitha Soraya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Mei 2016
Kamu Melihatnya

Kamu sedang berada di balik kaca.
Kaca dua sisi yang biasa berada di ruang interogasi kantor polisi.
Kamu berada di sisi dimana bisa melihat semuanya, sedangkan dia tidak bisa melihat kamu.
Kamu bisa bebas melihat dia tersenyum kepada orang-orang yang lewat, tertawa melihat badut, menyeruput hot coffe-nya yang terlihat sangat enak, melihat matanya yang tajam ketika sudah berada di meja kerjanya.
Kamu sangat mengaguminya.

Kamu melihat dia mempersiapkan pagi harinya. Ia mematikan alarm jam di samping kasurnya, terduduk dan menggaruk rambutnya, lalu ke kamar mandi. Ketika ia sudah lebih tampan dari sebelumnya setelah mandi, ia mencari kemeja putihnya dan dasi yang sesuai dengan harinya. Kamu hafal kebiasaan dia, Senin adalah Hari Dasi Merah Polos, Selasa adalah Hari Dasi Kuning Bercorak, Rabu adalah Hari Dasi Biru Bergaris, dan seterusnya. Sambil bersisir dia menyiapkan roti panggang dan mentega, sarapan yang tak pernah berubah. Kamu tahu dia sebenarnya suka variasi. Kamu tahu dia mendambakan roti panggang bersama sosis, saus Barbeque dan telur mata sapi, tapi kamu pun tahu kamu tak bisa memasak untuknya.

Kamu melihat dia memakai jas terbaiknya dan mengambil tas kantornya. Menutup semua jendela dan mematikan semua lampu. Setelah mengunci pintu, ia meloncat keluar mengejar waktu yang seolah telah pergi lebih dulu. Kau melihatnya berlari, mengejar sesuatu yang lebih nyata daripada arus waktu yaitu bus umum. Kamu melihatnya berdesakkan di dalam bus, mencari tempat duduk. Ada yang kosong. Tapi lalu ada seorang wanita yang juga mengincarnya. Kamu tahu dia gentleman, maka kamu sudah menebak dia pasti akan memberikan kursinya pada sang wanita. Kamu pun seorang wanita, maka sudah menebak akan ada semu merah di pipi si wanita. Kamu adalah orang yang cemburuan. Dan yang menyakitkan adalah dengan mengetahui bahwa kamu masih tak bisa berbuat apa apa.

Kamu melihat mereka bercakap-cakap. Si wanita menjadi sangat cantik dengan semu merah di pipinya dan pupil matanya yang membesar. Seperti yang sudah kamu duga, mereka bertukar nomor handphone, berjanji untuk saling menghubungi. Sudah di blok dimana kantor dia berada. Kamu melihatnya pamit ke wanita itu dan meninggalkannya untuk segera turun dari bus.

Kamu melihat betapa tampannya dia di depan meja kerjanya. Gesitnya dia dalam membolak-balikkan kertas dan menanda tangan. Cermatnya dia dalam membaca detail-detail kecil dalam setiap dokumen. Itulah yang membuatmu jatuh cinta kala dulu masih menjadi sekretaris pribadinya. Namun sekarang kamu tidak bisa lagi mengantar setiap dokumen yang dia butuhkan. Dia sudah memiliki sekretaris yang jauh lebih cantik dan lebih cekatan. Seketika, kamu merasa kalah.

Kamu melihat handphonenya berdering. Hari sudah sore, sudah saatnya dia pulang. Namun telepon saat itu kelihatannya merusak jadwal tetapnya untuk segera pulang. Kamu melihatnya tersenyum malu dan menyebut salah satu restoran favoritnya. Restoran tempat kalian sering bertemu. Saling bersemu merah dan malu-malu. Dan sekarang dia menggunakan restoran itu untuk bertemu wanita lain. Kamu merasa hatimu dicincang hingga sudah tak jelas bentuknya. Hingga hatimu berbentuk lebih mirip steak.

Malam pun tiba. Jam menunjukkan jam 7 dan kamu melihat dia yang datang tergesa-gesa karena tahu si wanita berpipi merah tadi sudah lebih dulu datang. Kamu melihat dia bercakap-cakap, berganti euforia dari yang "sekedar teman" menjadi "intim". Kamu merasakan aura asmara dari keduanya. Kamu melihat dia mulai menggenggam tangannya, mengelus pipinya, merapikan anak rambutnya, dan berciuman. Kamu melihat si wanita yang telah mabuk itu menggelayut manja di lengan dia. Mereka pulang bersama namun si wanita tidak mau pulang ke rumahnya. Kamu melihat mereka pulang ke rumah dia dan memasuki kamar tidur bersama. Namun kamu memutuskan untuk tidak membuka pintunya untuk melihat apa yang terjadi.

Pagi buta, rupanya dia tak bisa tidur. Dengan hanya memakai kimono tidur, ia membuat kopi panas untuk pergi ke balkon dan duduk. Memandang bintang dan memandang kursi kosong disebelahnya yang seharusnya diduduki oleh kamu. Dia menunjuk ke angkasa, mencoba membuat bentuk rasi bintang sendiri namun terasa tidak menyenangkan jika tidak sambil mendengar celotehan dan ide idemu. Satu statement yang paling dia ingat adalah definisi peri bagi kamu. Ia ingat bahwa kamu suka bintang, karena mirip peri yang juga memancarkan cahaya. Kamu melihat ia tersenyum dan sesekali tertawa lembut, namun diikuti dengan isak tangis setelahnya. Ia merindukanmu. Namun ia tak kuasa menanggung sakitnya tanpa kamu. Sifatnya yang kaku membuat ia berubah apatis dan tidak lagi percaya apapun. Sekonyong-konyong, dia berkata dengan mulutnya sendiri, "Aku tak pernah percaya peri."

Kamu terkesiap. Kamu kaget karena dia lupa. Dia lupa satu statement sederhana namun sangat penting untuk dirinya sekarang. Statement yang berkata "Everytime a child says 'I don't believe in fairies', there's a little fairy that falls down dead." Sayapmu patah, serbuk terbangmu berjatuhan. Kamu menengadah ke angkasa dengan bingung karena dia sudah bukan anak kecil lagi, lalu kenapa sayapmu tetap patah? Kamu menangis, kamu memandangi wajahnya yang juga bersimbah airmata. Lalu kamu menyadari, bahwa inilah satu-satunya saat dia memohon kepada Yang Kuasa untuk kembali menjadi anak kecil. Kembali ke masa-masa sekolah kalian dulu. Masa masa sekolah dasar yang membuatku sering berpetualang ke gunung. Masa masa Junior High School yang bergabung di ekskul yang sama yaitu basket. Masa masa Senior High School yang belajar bersama demi diterimanya kalian di universitas terkenal. Masa masa perkuliahan dimana kalian mulai serius memikirkan masa depan dan masuk ke lapangan kerja yang sama. Masa masa kerja dimana kalian akhirnya baru menyadari rasa masing-masing setelah sekian lama dan memutuskan menikah. Masa masa manis awal pernikahan yang selalu menjadi kenangan manis, namun berubah menjadi kenangan pahit di masa masa bulan madu ke Bali. Masa masa yang seharusnya romantis namun menjadi ironis baginya ketika melihat bunga api dan melihat kamu terlempar sangat jauh karena bom itu. Kamu melihatnya mengejar kamu, berusaha menyelamatkan kamu dari terantuknya kepalamu. Namun apa daya, kepalamu tetap terantuk hingga pandanganmu gelap. Ketika sadar, kamu sudah ada di balik kaca ini. Kaca pemisah.

Kamu melihat dia memeluk boneka kesayanganmu. Kamu melihat dia menangis di nisanmu. Kamu melihat dia hancur karena kehilanganmu.

Sayapmu sudah hancur dan berada di potongan terakhirnya. Sembari merasakan serpihan serpihan sayapmu jatuh, kamu berjalan menyusuri balkon, berdiri di sampingnya, membungkuk dan mengecup pipinya.

Seketika, kamu merasa bebas. Seolah tubuhmu adalah sebuah puzzle dan kini setiap bagian dari dirimu bisa bebas kemanapun kalian mau. Namun rupanya setiap bagian dari tubuhmu sudah sepakat akan pergi kemana.

Kamu ke langit. Dan menunjukkan padanya keindahan terakhir yang kalian lihat di Bali. Bintang jatuh.

Kamu melihatnya terkesiap. Kamu melihatnya tersenyum. Kamu melihatnya menutup matanya dan menghembuskan nafasnya.


Kini,
Kamu tidak lagi bisa melihatnya.