Ayahku Idolaku

Angga Priyadi
Karya Angga Priyadi Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Januari 2016
Ayahku Idolaku

"Berlayar itu harus siap karam nak, engkau harus bisa berenang, setidaknya saat engkau melaut dan kapalmu karam, engkau masih bisa bertahan sambil mencari pertolongan" dielus-elusnya kepalaku.

Ayahku adalah seorang nelayan, besar di lautan yang garang, tubuhnya hitam legam terbakar sengatan matahari. Ia buta aksara karena tidak pernah mengenal pendidikan. Laut adalah gurunya, hidupnya keras sejak kecil ia sudah menghabiskan waktu bermainnya bersama jala dan perahu di laut lepas. Ia muda menemani almarhum kakek menjala ikan di laut untuk dijual kepada juragan yang punya kapal dengan harga murah sekali. Walau begitu, ia tetap melakoninya, "tak kerja, tak makan" katanya, dan sebagian hasilnya ia tabung sebagai mahar untuk seorang perempuan yang kini menjadi ibuku. Ayah adalah idolaku, kehidupannya yang keras mendorong aku agar tidak mengikuti jejaknya, ia memaksaku sekolah hingga aku sarjana. Ia tak ingin aku menjadi nelayan yang miskin dan direndahkan sepertinya.

Ibuku adalah wanita terhebat yang ku kenal, bukan berlebihan atau karena aku anaknya, tetapi atas sikapnya yang tegas dan berani mengambil keputusan menikah dengan ayahku. Ibuku seorang wanita anak seorang guru tersohor kala itu, berparas ayu, tinggi semampai berkulit kuning langsat dan bermata bulat dan berlesung pipit, kesimpulannya ia cantik jelita dan berpendidikan. Banyak pemuda yang terpikat oleh pesonanya, tapi ia memilih ayahku yang tak punya apa-apa sebagai jawara cintanya. Keputusan yang diluar nalar pemuda sekampungnya, termasuk ibunya sendiri, tapi ia tetap saja tegas pada keputusannya. "Aku melihat apa yang tidak kalian lihat darinya", begitu penuturan dari Bibi yang tau persis perjalanan asmara ibu dan ayahku.

Rasa penasaran yang besar, kutanyakan langsung pada ibuku, mengapa ia memilih ayahku kala itu?
"Lihatlah cermin ini nak, bila engkau sungguh ingin tau jawabannya... Engkaulah alasan aku memilih ayahmu, meskipun ia tak punya dunia di tanganya, tak bisa membaca aksara latin tapi kebijaksanaan di dadanya, lautan mengajarkannya hidup keras tapi melembutkan hatinya. Ia adalah lelaki tegar dan optimis memandang masa depan. Setelah aku menikah dengannya aku semakin dalam mencintainya, aku sering mendapati ia menangis di penghujung malam di atas sajadahnya, ia selalu berdoa untuk kebaikanku dan kesuksesanmu. Ia banyak mengajarkanku menjadi ibu terbaik bagimu nak... Dan kesuksesanmu hari ini adalah bukti aku tidak pernah menyesali keputusanku untuk memilihnya dulu. Jika aku mati lebih dulu, aku yakin ia pasti tetap mencintaiku melalui doa-doanya untukku, atau bila ia yang pergi lebih dulu aku yakin ia telah titipkan anak sholeh sepertimu yang akan selalu mendoakannya dan menjagaku." tanpa sadar mataku telah bersimbah cinta mereka.

?

  • view 328