Banjir Bukan Lagi Berkah

Angga Priyadi
Karya Angga Priyadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Februari 2016
Banjir Bukan Lagi Berkah

?

??Bila nanti kau dewasa Nak, hal yang paling kau rindukan adalah hari ini.? Begitu dogma kakek buyutku yang memergokiku main air di pekarangan rumah. Kegemarannya adalah berpetuah, bercerita tentang kisah perang yang Ia lalaui untuk kemerdekaan tanah air ini. Kalimat yang lahir dari mulutnya bak air terjun yang tanpa jeda. Kata-katanya tidak akan bertemu pada tanda titik sebelum aku mengangguk setuju dengan sabdanya. Aku hanya perlu percaya apa yang Ia katakan dan perkara selesai, itu artinya aku boleh main lagi di luar rumah.

?Menurut stastik Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, Februari dan Maret adalah klimaks dari musim Penghujan, intensitasnya bertambah tiga kali lipat dari biasanya. Kapasitas air yang dimuntahkan dari lagit tidak mampu tertampung oleh kanal alami dan buatan manusia. Pohon-pohon besar telah ditebangi, hutan telah beralih fungsi, gedung tinggi di sana sini, wajar saja bila banjir tak dapat dihindari.

??Banjir telah tiba. Banjir telah tiba. Hatiku gembira.? Kunyanyikan serupa dengan nada lagu libur telah tiba yang dipopulerkan oleh Tasya. Musim hujan selalu diikuti musim banjir, musim yang selalu kutunggu dari tahun ke tahun. Aku menjadi seperti orang kaya bila banjir menyapa. Kolam renangku lebih luas dari pekaranganku. Aku bisa bermain air sepuasnya, tidak ketinggalan juga Mamat, Lusi dan Rifki tetanggaku. Sungguh menyenangkan menjadi anak kecil, aku tidak perlu berpikir tentang what?s going on?, semua baik-baik saja dalam kacamataku. Meski Ibu dan Bapak selalu terlihat sibuk kala banjir menamu kerumah kami.

?Menjadi anak kecil selalu menyenangkan, tidak ada beban yang melelahkan pikiran dan menguras tenaga. Hari-hari yang dilalui penuh dengan tawa. Tidak ada dendam meski telingaku sering menjadi korban serangan tak terduga oleh kecepatan jeweran petirnya Atuk. Aku hanya perlu menangis masalah selesai. Bagiku menangis adalah senjata pamungkas persis AK-47 yang bisa menembakkan peluru hingga 600 butir permenit. Tidak ada komporomi dengan lawan, tangisanku selalu sukses membombardir lawan hingga bertekuk lutut dihadapanku. Tangan atuk yang sedari tadi bersarang ditelingaku terlepas begitu saja bila mendengar tangisku pecah. Tangisanku juga berulang kali menjadi penjarah kantong ibu untuk setumpuk cokelat dan permen.?

?Atuk, engkau benar dengan segala dogmamu.? Aku merindukan hari-hari tanpa masalah. Bukan ? Tapi aku merindukan hari-hari saat masalah tidak membenani pikiran dan seluruh tenaga yang kupunya. ?Atuk, aku sudah lupa bagaiamana caranya bermain dalam banjir, tertawa dan terbahak-bahak seolah yang terjadi adalah berkah dari langit. Dan yang paling ku sedihkan adalah Jurus tangis gledekku sudah tidak mempan lagi Atuk.?

Aku rindu ?.

MTP, 280216

?

  • view 129