Kopi Hitam Pak Sugeng

Angga Priyadi
Karya Angga Priyadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Kopi Hitam Pak Sugeng

??Selamat Pagi!? Usil si Bejo yang berulang-ulang memekakan telingku. Pak Sugeng sedari pagi sudah asyik mematut sangkarnya Bejo. Ia dan Bejo adalah alarm alami yang sudah tak bisa disangsikan lagi kehebatannya dalam membangunku setiap pagi. Beginilah uniknya hidup satu atap dengan bapak kos, sudah aturannya banyak sekali, berisiknya bejo dan dirinya yang tidak bisa ditawar-tawar. Itu sisi ga enaknya, kalau sisi enaknya tinggal bersama Pak Sugeng itu adalah selalu ada kopi hitam gratis setiap pagi untukku.

Kopi bukanlah hal menarik bagiku sebelum aku mengenal Pak Sugeng. Awalnya aku anti sekali dengan minuman hitam, pahit seperti ini, namun sebagai anak kos yang punya uang juga sedanya, apa aja yang gratisan langsung sikat. Apalagi kadang-kadang temannya segelas kopi itu adalah pisang goreng. Tentu saja sangat menggiurkan dan membuat ilerku tumpah. Akhirnya tidak ada pagi yang kulalui tanpa segelas kopi hitam.

Aku belajar banyak dari Pak Sugeng bagaimana meracik kopi hitam agar rasanya ?. Sulit bagiku menggambarkannya, karena sejatinya rasa itu tidak bisa dijabarkan, selamanya ia hanya bisa dirasakan. Bila ada kata yang coba menggambarkan rasa, itu hanya sebagian kecil dari rasa, dan tentu saja kata apapun tidak mampu mewakilkan seluruh rasa yang dirasakan. Pak Sugeng menyebut kopi buataannya itu nikmat, dan aku sepakat dengan kata nikmat itu, walau sekali lagi ia ?nikmat? hanya sebagian kecil dari yang aku rasakan.

?Seduh kopinya dengan air yang mendidih.? Celetuk Pak Sugeng yang membeberkan rahasia kopi nikmat ala dirinya. Setelah ku praktikkan sendiri, Pak Sugeng memang tidak membohongiku. Air mendidih yang bersenyawa dengan serbuk kopi hitam menimbulkan aroma yang sangat harum dan memberikan cita rasa kopi yang luar biasa. Sebelum menyeruput kopi selalu awali dengan mengenduskan napas ke bibir gelas untuk mengenapkan nikmatnya kopi hitam, begitulah Pak Sugeng mengajarkanku cara menikmati segelas kopi hitam.

Ini adalah pagi ke 1090 aku mondok di kos Pak Sugeng. Sudah 1090 gelas kopi hitam yang kunikmati bersama Pak Sugeng dan kelakar Bejo si beo kesayangannya. Waktu yang setara dengan tiga revolusi bumi mengelilingi matahari sepanjang 45 juta kilometer, aku telah jadi penikmat kopi mewarisi kebiasaan Pak Sugeng. Namun pagi ini ada yang berbeda dari segelas kopi hitam. Rasanya tak dapat ku nikmati dengan sempurna, ada segumpal rasa lain yang bercokol di dalam dada yang membuatku tak khusuk menegak segelas kopi hitam seperti biasa. Rindu dendam kepada Bulan, kekasih hati yang kutinggal pergi tiga tahun yang lalu. Mendekati hari kepulangan rasa rindu itu semakin menjulang, mengusik cita rasa kopi hitam buatan Pak Sugeng.

?Rindu ? Biarkan aku sejenak menikmati kopi hitamku pagi ini, kemudian silakan kau peluk aku lagi. jangan seperti ini, kopi hitamku rasanya tak lagi pahit tapi manis seperti tawamu. Rindu ? Buatlah jeda agar aku bisa merasakan pahitnya kopi hitam pagi ini. Namun bila kau tak bisa, begini saja Rindu ? Tolong sedikit saja kau bumbui senyummu di kopi hitamku agar aku bisa menikmati kopi hitam yang tetap ada pahitnya dan tetap ada rindunya.?

***

  • view 269