Pusara Puisiku

Angga Priyadi
Karya Angga Priyadi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2016
Pusara Puisiku

Ku sesali tabiat terburu-buru ini sekali lagi. Andai saja aku sedikit lebih bersabar, tentu tidak perlu ada meditasi di bawah tawa?rembulan yang membuatku masuk angin berhari-hari. Mengingatmu dilarik-larik puisi yang pernah ku tulis di sepanjang tahun-tahun kebersamaan kita, tentang tawa, rasa dan cinta?yang kuterjemahkan dalam kecupan puisi. Aku mencintaimu dengan puisiku, aku menulis puisi dengan cintaku padamu.

Aku menyesal telah menghapus semua larik puisi tentangmu, tentang kita. Marahku... menghancurkan karya karyaku tentangmu. Aku harus mengeja kembali memori tentang kebersamaan kita untuk menulis lagi puisi untukmu. Sudah berapa malam ku lalui dengan terjaga tanpa segelas kopi buatanmu dan?kau?disisiku, sendiri, kesepian di bilik milik kita.

Aku menyesal, akhirnya aku tak mampu mengumpulkan semua serpihan ingatan kebersamaanku denganmu. Aku tidak bisa menulis puisi-puisi yang persis seperti kala itu. Aku hanya meraba dan mengumpulkan puzzle yang tidak lagi sempurna. Aku menulisnya dengan rasa yang berbeda, aku gagal menyusun bahasa untuk satu karya cinta?yang sama?untukmu. Karyaku kehilangan rasa, ia tak mengalir mengikuti rasa, tapi lahir secara terpaksa untuk sebuah ambisi agar engkau tetap abadi di alam ini.?

Akan ku bawakan sekeranjang bunga setiap hari jumat, seperti dulu untukmu. Akan ku bacakan lagi puisiku, seperti dulu untukmu. Akan?kutaburkan doaku untukmu pada malam-malamku, lewat sujud dan puisiku. Maafkan aku yang hanya sekali dalam sepekan bisa mengunjungimu, namun janganlah kau kesepian karena kutinggalkan satu kecupan di atas pusaramu?yang akan menemani tidur panjangmu.

  • view 226