Caraku Mencintaimu

Angga Ramadhana Putra
Karya Angga Ramadhana Putra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2016
Caraku Mencintaimu

?

Mencintai dirimu memang seharusnya begini, dan banyak sebagian orang lupa arti sebenarnya dalam mencintai. Ini adalah tentang bagaimana caraku mencintaimu, lalu apakah engkau melakukan hal yang sama untuk mencintaiku?

?

1. Tidak hanya memantaskan diri, tetapi juga menjaga diri

Memang ada yang bilang bahwa jodoh adalah cerminan diri karena itu banyak yang menginginkan memantaskan diri sebelum mendapatkannya. Itu tidaklah salah, tetapi banyak diantara kita sering lupa ada satu faktor lagi dalam memantaskan diri yaitu menjaga diiri. Menjaga diri dalam beribadah, menjaga diri dalam pandangan, menjaga diri dari perbuatan jelek, menjaga diri dari perkataan yang bisa menyakiti orang lain, dan lain-lain. Intinya banyak diantara kita memantaskan diri dalam ibadah tetapi tidak menjaga dalam akhlak dan perbuatan. Atau sebaliknya banyak diantara kita memantaskan dalam hal akhlak dan perbuatan tetapi tidak menjaga diri dalam beribadah. Keduanya haruslah seimbang.

?

2. Tidak hanya berani mengambil kesempatan tetapi juga berani mengikhlaskan

Untuk kalimat diatas kita mungkin sering mendengarnya, ya itu adalah kalimat yang sering terlintas saat mendengar kisah cinta Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Yang menceritakan bagaimana seorang Ali berusaha menahan cintanya kepada Fatimah karena sebelum dia ada seorang lelaki yang sangat sakrab dan paling dekat kedudukannya dengan Nabi Muhammad SAW melamar Fatimah, iya dia adalah Abu Bakr Ash Siddiq. Akan tetapi lamaran Abu Bakr ditolak, belum lama setelah itu datanglah seorang laki-laki yang sejak dia masuk Islam membuat kaum muslim berani mengangkat muka, yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut, melamar putri Rasul tersebut. Ia adalah Umar bin Khattab, akan tetapi lamaran Umar pun ditolak. Dan pada akhirnya yang mendapatkan restu untuk menikahi Fatimah adalah Ali. Seorang pemuda sederhana tetapi tidak diragukan lagi keshalehannya. Iya kisah cinta Ali dan Fatimah mengajarkan bahwa,

?Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan yang ini adalah keberanian atau mengikhalskan yang ini disebut pengorbanan.?

?

3. Tidak hanya berdo?a untuk milikinya tetapi juga berdo?alah untuk kebahagiannya.

Untuk yang satu ini kemungkinan banyak yang lupa bahwa sejatinya mencintai seseorang bukan berarti dia harus menjadi milik kita. Sama seperti halnya ketika memberi sesuatu ke orang lain, apakah kita juga harus menerima dari orang tersebut. Tentu tidak bukan. Iya itu adalah perumpamaan untuk yang stu ini. Bahwa sejatinya mencintai seseorang tidak mengharuskan kita untuk memilikinya, untuk masalah itu adalah urusan yang Maha Mengetahui yaitu Allah SWT. Yang bisa kita lakukan adalah berdoa, dan bukan hanya berdoa meminta agar dia menjadi milik kita, tetapi berdoalah agar dia mendapat jodoh yang terbaik untuknya dan bisa membuat dia bahagia dunia akhirat. Setidaknya ketika kita yang terpilih itulah jawaban atas doa kita yang pertama, dan apabila yang terpilih bukan diri kita setidaknya itu adalah jawaban doa kedua kita.

?Karena sejatinya besarnya cinta bukanlah diukur dari seberapa sering menyapa, ngobrol, dan seberapa sering perhatian yang kita berikan, tetapi seberapa sering kita menyebut dia dalam doa kita untuk kebahagiannya.?

?

4. Tidak hanya berubah karena inginkan dia, tetapi yang terpenting adalah berubah karena Dia.

Untuk yang satu ini sudah sangat jelas bahwa pada dasarnya ketika kita ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik, alasan utamanya adalah bukan karena sesuatu ataupun seseorang, berubahlah karena niat yang tulus dan ditujukan kepada-Nya. Ya hanya kepada Allah SWT.

?

(Nagga)

?

  • view 172