Kado Untuk Niana

Kado Untuk Niana

Ane Fariz
Karya Ane Fariz Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 September 2017
Kado Untuk Niana

“Pakeeet.” Suara lantang seorang pria terdengar dari luar.

“Ada paket Bu.” Dua bola mata bening itu menatapku,  seolah meminta restu untuk menjadi penerima paket yang dibawa sang kurir.

Kuanggukkan kepala seraya tersenyum, “Ambillah!”

Tanpa menunggu aba-aba lagi, gadis kecil itu setengah berlari menuju pintu depan untuk menyambut kiriman.

“Untuk Niana.” Terdengar suara Mas Kurir menyebutkan nama yang tercantum pada paket.

“Iya, Saya.” Gadis kecilku menjawab antusias.

“Ibu... tanda tangannya sama Ena, boleh?” Tanya Niana dari arah luar setengah berteriak. Namanya Niana Faradisa, dan kami memanggilnya Ena.

“Boleeeh.” Kujawab sedikit berteriak agar terdengar jelas oleh Niana dan Mas kurir.

Braaak! Suara pintu ditutup cukup keras. Pasti putri kecilku terburu-buru ingin memperlihatkan paketnya padaku.

“Bu... Ibu... ini paket buat Ena Bu, dari Ayah.” Gadis berponi itu berseru girang, kedua matanya berbinar, senyum mengembang memperlihatkan deretan giginya yang sebagian telah terkikis dan menghitam oleh karies.

“Wah... senangnya, coba lihat, Ayah ngasih apa?”

Tangan mungil itu begitu lincah melucuti selotip dan bungkus paket di tangannya.

“Bu, bagian dalamnya dibungkus lagi pakai bungkus kado. Bagus gambarnya, Hello Kitty, kesukaanku.” Binar itu semakin nyata di wajah cantiknya.

“Ibu... lihat, tas hello Kitty...” Setengah memekik Enaku menunjukkan sebuah tas berwarna pink yang kemudian didekapnya sangat erat.

“Terima kasih Ayah...” lirih suaranya seraya semakin mengeratkan dekapan pada tas bergambar Hello Kitty kesukaannya.

Hatiku bergemuruh menyaksikan pemandangan ini, dapat kulihat betapa ia merindukan sang ayah. Ya, sosok sang ayah yang telah enam bulan tidak bertemu dengannya.

“Bu, kapan Ayah pulang? Kenapa Ayah tidak menelpon mengucapkan selamat ulang tahun untukku?” Tatap penuh harap dari wajah mungil itu benar-benar telah merobek-robek hatiku. Kupalingkan wajah berpura-pura kembali menekuni bungkusan kue-kue yang tadi tengah kami susun, aku tak ingin merusak hari bahagianya dengan mataku yang mulai berkaca-kaca.

“Ayah masih sibuk sayang, kan sekarang Ayah kerjanya di luar pulau, jauh... jadi nggak bisa sering-sering pulang,” jawabku, mencoba membuat dia mengerti.

“Ehmmm... kalau gitu, Ena mau nelpon Ayah aja Bu, Ena mau bilang Ayah kadonya sudah sampai. Ena juga mau bilang terima kasih.” Binar itu kembali hadir, gadis kecilku merasa telah menemukan sebuah ide cemerlang. Ya, sebuah ide cemerlang yang membuatku kembali harus memikirkan sebuah cara tanpa mengecilkan hatinya.

“Sebentar, Ibu coba hubungi Ayah dulu, ya.” Kuambil ponsel yang tergeletak di atas kulkas, menekan beberapa nomor, dan coba menghubungi. Kulakukan hal itu berulang-ulang.

“Sayang... handphone Ayah tidak bisa dihubungi, mungkin sulit sinyalnya di sana,” terangku sambil berjongkok menyejajarkan tinggiku dengannya. Binar di wajah itu meredup, sebuah gambar kekecewaan yang terasa meremas-remas hatiku. Sakiiit.

“Hei, Ena nggak minta hadiah dari Ibu?” Kutatap dua telaga bening itu lembut, seraya menggenggam kedua tangan kecilnya. Matanya menatap lurus padaku, dengan kerlipan bintang-bintang di sana.

“Memangnya Ibu beli hadiah buat Ena juga?” tanyanya.

“Iya dong, tentu saja Ibu sudah punya hadiah buat bidadari kesayangan Ibu.” Kutarik tubuh mungil itu ke dalam dekapanku, dengan ciuman bertubi-tubi yang kudaratkan di hampir seluruh permukaan wajahnya. Bidadariku tertawa tergelak riang.

“Ayo, kita ambil kado Ibu.” Tubuh mungilnya kini sudah kubopong menuju kamar.

“Itu, coba ambil di dalam laci bawah lemari Ibu!”

Tubuhnya seketika melorot turun dari gendongan dan berlari memburu laci lemari. Ditariknya laci itu, sebuah kotak bersampul gambar Hello Kitty kini telah berada di tangannya. Matanya menatapku, seolah meminta izin untuk membukanya.

“Bukalah!” kataku.

Seperti pada kado pertama, antusiasnya tak berkurang sedikit pun. Lembar demi lembar kertas yang membungkus kotak sepatu itu dibuka.

“Ibu, ada kartunya. Bagus sekaliii.”

“Coba dibaca tulisannya!”

“Se... la...mat, u... lang ta...hun yang ke lima. Se... mo...ga...” Sementara gadis kecilku mengeja tulisan yang kubuat, ibu jariku bergerak lincah menyentuh huruf-huruf pada layar ponsel. Kucoba mengirimkan sebuah pesan pada seorang lelaki yang tengah sangat dirindukannya.

“Niana ulang tahun hari ini, jika kau tak keberatan dan rela menyisihkan sedikit waktumu, telponlah dia. Tadi dia ingin menelponmu untuk memberitahukan jika kado yang kau kirimkan telah sampai, dia ingin mengucapkan terima kasih. Tidak usah bingung, karena kado itu memang aku yang mengirimkannya, atas namamu. Supaya putri kecilku tidak bersedih di hari ulang tahunnya. Semoga istrimu tidak keberatan.”

'Send.'

Pesan pun terkirim melalui SMS.

  • view 126