Flick dan Flack

Andri Surya
Karya Andri Surya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Maret 2016
Flick dan Flack

?Ini berarti perang! Kita harus bersiap!? Amarah Flack memuncak.
?Perang katamu? Kita bisa mati konyol.? Flick mencoba menyadarkan sahabatnya itu.
?Lalu, kita harus lari seperti biasanya? hei, kau ingat? kita tak dilahirkan untuk menjadi penakut. Kita ini pejuang bahkan hari di mana kita makan di hari itu juga kita harus siap mati.? Flack tetap tak bergeming dengan peringatan Flick.
Beberapa sahabat Flick dan Flack memang tak pernah kembali. Seperti biasa, mereka hanya bilang bahwa mereka lapar. Saat salah satu dari mereka mengatakan itu, maka yang lain akan memberikan kata-kata perpisahan. Ya, itu sudah terjadi sejak dulu. Beberapa yang selamat akan kembali dengan perut membesar karena kenyang. Beberapanya lagi hanya tinggal kenangan, sebuah kenangan yang biasa?
?Tapi, semua sudah bersiap pindah Flack.? Flick tetap berusaha mengajak Flack.
?Aku tak akan ikut, aku ingin menjadi pejuang untuk kaum kita dan dikenang dengan cara yang tak biasa.? Flack tetap ngotot, tak terlalu peduli dengan peringatan Flick.
Flick tahu watak sahabatnya itu, ia memang keras kepala. Jika sudah berkemauan, ia tak akan bisa diubah bahkan jika itu membahayakan nyawanya. Flick menghela nafas panjang.
?Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu, aku tak akan memaksa lagi, kami akan segera pindah dari tempat ini. Kau sudah tahu rute pindah kami, susul kami kalau kau berubah pikiran? Flick berlalu. Flack tak menggubrisnya.
Beberapa jam setelah perdebatan kecil itu Flack tetap tak berubah pikiran. Baginya ini adalah hari di mana rasa marahnya sudah sampai di tingkat paling tinggi. Ia sudah lelah harus terus berpindah. Paling penting lagi, ia tak ingin hanya dikenang dengan cara yang sudah biasa.
Flack mendengar suara berisik di dekat tempatnya hinggap. Ia mendekati sumber suara itu perlahan walaupun tak terlalu dekat. Rupanya para manusia itu sudah bersiap dengan senjata mereka. Masker, helm berwarna kuning, dan senjata besar yang paling ditakuti oleh kelompok Flack.
Senjata besar dengan suara bising itu mulai dinyalakan. Asap putih mulai mengepul dari moncongnya. Semakin lama asap putih itu akan seperti kabut pagi yang pekat. Namun tentu sensasinya tak sama, bahkan untuk para manusia itu sendiri. Sejenak Flack mengingat kenangan bersama Flick dan kawan-kawan nyamuk lainnya. Mereka selalu menceritakan pengalaman saat menghisap darah para manusia.
?Ini saatnya! selamat tinggal Flick.?
Flack terbang cepat. Ia menerobos asap putih tebal yang keluar dari moncong alat fogging. Ia tak punya rencana lain selain menyerang salah satu manusia yang mengarahkan alat fogging itu. Jaraknya sudah cukup dekat . Pandangan Flack buram karena asap yang semakin tebal. Yang paling menganggu adalah nafasnya yang semakin sesak saja. Dalam beberapa menit, suasana menjadi senyap. Alat fogging dimatikan. Dan kabut putih yang aneh itu segera menghilang perlahan. Flack tak terlihat lagi.
Barangkali, di tempat yang baru Flick akan menceritakan tentang seekor nyamuk sahabatnya bernama Flack yang mati dengan cara yang tak biasa. Dan pada akhirnya keinginan Flack untuk dikenang dengan cara yang tak biasa pun terwujud.

  • view 127