Bahaya Laten Ade Armando: Ketika Dosen menjadi Penyebar Hoax

andre mahendra
Karya andre mahendra Kategori Politik
dipublikasikan 29 April 2017
Bahaya Laten Ade Armando: Ketika Dosen menjadi Penyebar Hoax

Berita hoax, tetap berkembang-biak dengan caranya yang cantik di negeri ini. Begitu massif. Hampir semua orang pernah menikmati –atau setidaknya berpapasan-, dan bahkan mungkin ikut membagikan (share) berita hoax yang bertebaran di dunia mayantara. Tentu saja kecuali mereka yang tidak bersentuhan dengan dunia digital bernama medsos sajalah yang selamat dari keganasannya. Korbannya pun beragam, mulai dari orang biasa hingga penguasa sekelas Presiden dan Wakil Preseiden pun tak luput incarannya.

Disebut berkembang dengan cara yang semakin cantik, justeru karena penyebarannya “dibantu” oleh orang-orang yang masuk dalam kategori berpendidikan atau mungkin intelektual. Mereka yang harusnya ikut menjaga dunia sosial melalui media sosial dengan kemampuan berpikir dan sikap kritism justeru ikut terjerembab dalam “dosa” yang sama. Mereka yang diharapkan memberi kesejukan dalam setiap cuitan, status, atau uploada-nya, justeru ikut menjadi bagian dari silang-sengkarut yang diciptakan hoax.

Contoh terbaru dari intelektual (anggap saja begitu) yang secara konsisten menjadi bagian dari hoax itu adalah Ade Armando, sosok dosen berkumis yang ava twitternya tetap stand on the right side. Sosok yang beberapa kali sengaja membuat geger untuk menopang popularitasnya, termasuk kemarin ketika menyebarkan meme hoax tentang JK dengan status yang agak naif (sebagaimana kebiasaannya), “Jangan salah ya Jusuf Kalla ini salah satu pelindung Anies. Dia penggemar Zakir Naik. Kalau di film2, julukannya Musuh dalam Selimut”.

Apa yang diharapkan dari status dan share semacam itu oleh Ade Armando, sebagai intelektual (anggap saja begitu)? Tapi ini mungkin yang dinamakan celaka “duabelas”. Sudah menjadi korban karena ikut menyebarkan meme hoax, ia juga membumbuinya dengan status yang “kurang ajar”. Kenapa?

Pertama, ia telah menistakan intelektualitas dan sikap kritis yang sering dibanggakannya. Berbicara tentang idealisme dan nilai-nilai bangsa, tapi menjadi bagian dari penyebar berita hoax. Bertanya, mengklarifikasi, dan tabayun tak lagi menjadi sarat yang dipertimbangkan. Intelektualitas semacam apa yang bisa kita harapkan dari intelektual (anggap saja begitu) semacam Ade Armando ini?.

Kedua, ia telah menyerang JK terutama pada kata “musuh dalam selimut” dan menegasikan JK sebagai sosok yang radikal (hanya karena menurut pandangan Ade Armando, Dzakir Naik itu radikal. Ini menurutnya, (menurut otaknya). Ade Armando berbicara, seakan-akan perkataannya tidak mengandung efek dan implikasi yang tidak sederhana karena telah “membunuh karakter” JK dalam posisinya sebagai Wakil Presiden (orang nomor dua di republik ini), sebagai musuh dalam selimut, karena akan memunculkan multi tafsir yang luar biasa. Musuh dalam selimut dari siapa? Ini Wakil Presiden lho!. Wakilnya Jokowi, dimana Ade armando begitu setia membelanya. Jokowi-JK tak bisa dipisahkan. Satu kesatuan. Ini menjadi semacam niatan untuk adu domba. Untung saja tidak ada yang melaporkannya, sehingga tidak berkali-kali menyandang status sebagai tersangka.

Akhirnya, berbicara tentang Ade Armando, kita seperti dihadapkan pada penghuni neraka yang berbicara tentang enaknya tinggal di surga. Banyak hal yang telah dilakukannya, dan bertentangan dengan konsep yang selama ini dibelanya. Ini aneh dan gila. Ia berbicara kebangsaan dan persatuan, tapi menjadi bagian dari penyebar hoax dengan kata-kata yang provokatif. Apa maksudnya? Mungkin benar kata banyak orang, tak ada istilah untuk mereka yang mendukung hoax kecuali penghianat.

Ade Armando berbicara tentang kebhinekaan dan Islam yang moderat, dan pada saat yang bersamaan status-status dan pernyataannya justeru menyulut konflik horizontal antar umat. Tentu kita masih ingat dengan status tersangkanya sebagai penista. Penghianat dan penista!

Apa yang bisa diharapkan dari sosok berkumis yang mempunyai kepribadian labil seperti itu? Apa yang bisa diharapkan dari sosok intelektual (anggap saja begitu) penghianat dan penista seperti itu?

Apa yang bisa diharapkan dari sosok perusak dan pembuat onar dengan menegasikan pihak lain seenak udel seperti itu?

Apa yang bisa diharapkan dari sosok dosen yang suka berbicara seakan pembela dan pejuang kebhinnekaan, humanisme, persatuan, kebangsaan, dan konsep “wah” lainnya tapi pada saat yang bersamaan suka mencaci kelompok lain, menyebarkan hoax, dan suka memprovokasi? Apa yang bisa diharapkan dari pemecah belah dan pengadu domba seperti itu? Apa yang bisa diharapkan?

Anehnya, Ade Armando menjadi pembicara dalam sebuah seminar bertajuk “Fikih Informasi” yang diadakan oleh Muhammadiyah. Melalui Majelis Pustaka dan Informasi, PP Muhammadiyah merasa pelu untuk merumuskan bagaimana “informasi” dalam perspektif fikih.

Kita tidak ingin berbicara tentang acaranya yang keren dan tentu saja kontributif, tapi kehadiran Ade Armando dengan segala jejak informasi hoax dan status-statusnya di medsos yang sering naif dan provokatif menjadi anomali.

Bagaimana mungkin sosok Ade Armando yang suka berkutat dengan hoax dan suka menegasikan kelompok lain secara sadis bisa dipercaya ketika berbicara tentang “fikih informasi” yang harus suci, apalagi ditopang dengan tema keagamaan dalam konstruk penggunaan kata “fikih”?

Bagaimana bisa intelektual (anggap saja begitu) yang suka melakukan hoax berbicara segala hal tentang hoax dan bahaya latennya?

Bagaimana mungkin seorang yang tidak bisa mempergunakan informasi secara bijak berbicara tentang kesucian informasi? Pada titik ini, kita merasa cukup aneh dan agak rancu dalam konstruksi nalar kewarasan kita.

Realitas itulah yang membuat banyak orang lebih suka melihat sosok Ade Armando sebagai sosok Intelektual Cabul yang Suka Ngibul.

Intelektual “cabul” bukan hanya karena perilakunya yang cabul, tapi karena kecabulannya sudah dimulai sejak dalam dunia idenya. Sejak dalam otaknya. Ia telah mencabuli pikirannya sendiri, sehingga tema-tema kebhinekaan, moderat, humanisme, dan persatuan yang dibelanya menjadi “kosong”. Tak bernilai .

Suka ngibul karena dalam banyak kesempatan, apa yang disampaikannya adalah kebohongan, adalah hoax, yang dikemas seakan-akan ia adalah pembela dan penjaga kebhinnekaan.

  • view 404