Don

Ajo Gaara
Karya Ajo Gaara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Don

?

?Kau tidak lagi mau menciumku?? emosi Demel begitu kentara, memerahkan wajah. ?Bahkan, sekadar pelukan??

Don menggeleng. Berat, ini teramat berat, Don membatin. Adalah satu kesalahan telah mengenal Demel andai ia tahu akan beginilah jadinya. Tidak-tidak-tidak, bukan pertemuan yang menjadi penyesalan. Tapi? memasuki ?lingkaran terlarang itulah alasan sebenarnya.

?Kenapa kau diam? Kau tidak ingin menjelaskan alasannya padaku?? Demel masih memberondong Don dengan selaksa belati yang tepat menghunjam ke jantung Don.

?Aku tidak akan menjelaskan alasannya padamu,? dengus Don terpojok seperti seekor tikus berhadapan dengan kucing kurus kelaparan. ?Kau sudah tahu itu, bukan??

?Kenapa??!? Demel memekik, kerah kaos hitam yang dikenakan Don menjadi sasaran cengkeraman kuku-kuku berhias merah kehitaman.

Don menahan kedua tangan itu sebelum membuat ukiran mengerikan di wajahnya. ?Hentikan?!? Don mendorong, Demel tersurut dua langkah. ?Inilah alasannya. Kau lihat? Posesif! Sedikit saja tidak senang, kau meledak seperti tabung gas tiga kilogram. Kau sadar itu, haa???

?Jahanam!? Demel mengumpat dan wajah yang semakin mengelam.

?Hei,? Don kembali harus menangkap tangan bercakar merah itu. ?Apa kau tidak sadar? Kita sudah terlalu jauh melangkah, kau paham? Terlalu jauh??

?Aku tidak peduli!? jerit Demel lantas memeluk erat tubuh Don.

?Tapi aku, iya!? Don berusaha melepaskan diri. ?Aku, suami dari seseorang. Ayah dari anak-anakku. Kau paham itu? Kau pun istri dari seseorang. Ibu dari benih suamimu. Sadarlah!?

?Pengecut!? Demel menjerit kesal luar biasa Don berhasil melepaskan rangkulannya.

?Terserah??

Don merasa tidak punya alasan lain lagi untuk terus mempertahankan hubungan tidak masuk akal itu. Dari teman terus menjadi percintaan? Absurd? Entah siapa yang memulai. Don mengutuk semua itu. Sumpah serapah mengiringi langkahnya yang kian jauh, meninggalkan Demel terhenyak di jalan sunyi.

?

***

?

Dua bulan Don tidak lagi mendapat ?gangguan? dari Demel. Don tidak lagi memedulikan ?hal? tersebut. Tidak peduli? Well, bukan tidak peduli pada Demel, lebih pada hubungan gila itu sendiri.

Siang itu, satu panggilan masuk ke ponselnya. Nomor dari nama yang sungguh ingin ia jauhi. Dengan berat hati, Don mengangkat panggilan itu.

?Kenapa??

?Sopanlah sedikit? Sudahlah. Lupakan saja!?

?Heh, lucu sekali,? Don menyeringai. ?Kalau kau ingin melupakan, kenapa meneleponku??

?Berengsek!?? hening sejenak? ?Oke, yang sebenarnya, aku ingin ketemu malam ini. Penting. Jadi, pastikan kau datang!?

?Kau pikir, kau itu siapa?? dengus Don.

?Aku tidak mau tahu. Kamu harus datang, ke tempat kita biasa menghabiskan malam. Kau dengar? Harus datang! Akan kuselesaikan semuanya?!?

Dan percakapan itu pun terputus. Don menggeram marah, padahal malam ini ia sudah berjanji untuk ?bermesraan? dengan istrinya. Tapi, tidak ada salahnya, pikir Don. Ini adalah yang terakhir. Bukan untuk bercinta dengan wanita itu, tapi untuk ?memuntahkan? apa yang menjadi ganjalan selama ini. Meski Don masih berharap bila Demel bisa berubah seperti saat dulu mereka bertemu pertama kalinya, sebagai sahabat baik.

Yaa, aku akan menemuimu. Dan, aku tak berharap kau tahu bila aku? telah memaafkanmu, Mel.

?

***

?

Kawasan taman itu semakin lama kian ramai, padahal cuaca subuh itu begitu dingin menggigit tulang. Beberapa orang berlarian ke satu titik. Di bawah pohon rindang. Para polisi membentangkan police-line berwarna kuning, namun di beberapa titik ternoda warna merah.

Ada dua tubuh yang terbujur di antara keramaian orang. Tubuh wanita itu ?terlelap? manis di atas bangku panjang. Di pelipis kiri, masih mengucur darah kental bercampur cairan otak, luka menguak bekas tembakan tembakan senjata api dari jarak terdekat yang bisa ia lakukan sebelumnya. Pistol itu, masih tergenggam di tangan kanannya yang menjuntai.

Satu tubuh lagi, berada jauh di kiri pohon rindang. Tubuh pria yang telah kaku. Darah mengental di tempurung kepala belakangnya yang berlubang, menembus pecah ke kening.

Satu per satu tim medis dan forensik mengangkut tubuh-tubuh yang tak lagi bernyawa itu. Seorang wanita dengan masih menggendong bayinya berlari histeris.

?Don???

?

?-----o0o-----

?

Sumber ilustrasi.

"Sesal dahulu pendatapan, sesal kemudian tiada berguna"

?

  • view 150