Aku Lelah - Salah

Ajo Gaara
Karya Ajo Gaara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Februari 2016
Aku Lelah - Salah

?

Mengapa Tuhan tak memperlihatkan keajaiban?

Agar aku tenang menjalani kehidupan

Meski lelah mengalangi badan

Sedikit saja kebaikan? itu sungguh berpadanan

Mengapa hidup harus berbeda?

Mengapa tiada akhir derita?

Tuhan?

?

?Mak, Pak? apa kalian tenang di sana? Maafkan Awan, ti-tidak bisa, shh, memenuhi keinginan kalian. Sungguh, Awan sudah berusaha? memohon pada mereka, u-untuk me-menguburkan? Mak, Bapak di? sana. Maafkan Awan??

Awan, melangkah gontai. Meninggalkan makam kedua orang tuanya. Bukan di TPU yang pantas, hanya di tanah tak bertuan. Pinggiran hutan. Tiada seorang pun yang menghadiri. Tidak sanak famili, tidak pula jiran tetangga. Terkucil jauh dari tanah asal. Ulah piciknya pikiran, tuduhan jatuh pada ibu-bapak. Tukang santet.

Warga yang gampang terhasut, tak tahu pada kata usut. Mengusir mereka dari dusun, tersisih hidup dalam maki dan caci. Ke mana langkah membawa cucu-anak-istri? Kabar seperti angin bergerak, tidak seorang jua di kampung sebelah berbaik hati. Terpaksa langkah menyusuri hutan. Hanya di sini? hanya di sini berharap Tuhan ulurkan tangan.

Kini hanya tinggal kenangan pahit. Awan menangis dalam hening, langkah terseok tinggalkan hutan. Sudah berupaya kembali ke dusun, memohon dalam ratap pada penduduk. Menangis menyembah hingga bersujud, meminta kerelaan sejumput tanah demi liang lahat. Kebencian begitu terpampang. Ke mana kata legowo diri? Meski masa berlalu sudah bertahun, tiada sedikit jua berbaik hati. Tuduhan tiada pernah terbukti, hanya hasutan dari hati yang dengki. Terpaksa keinginan dilarungkan, air mata berderai lepaskan, hanyutkan. Hanya tanah tak bertuan ini tempat akhir tujuan.

Awan terhenti, ujung jari kaki tersandung tunggul kayu. Tersenyum pasrah sakit dilupakan. Menatap nanar langit siang nan angkuh. Tertunduk menahan perih. Tak kuasa menantang teriknya mentari.

Kini tinggal ia sendiri. Ke mana badan mengadu nanti?? Siapa? Pada istri yang menyesal dinikahi? Sebab bermertua tukang santet haram diri? Gemuruh di dada hanya mampu ditahan, demi buah hati si kecil tiga tahunan.

***

?Ke mana saja kamu, Mas?? Bukan senyum manis menyambut kepulangan, tanya kasar terlontar dari mulut yang dulu pernah memuji. ?Udah gelap gini baru pulang. Kelayapan terus kerjamu itu!?

?Dek? Mas tadi ke makam Mak, Bapak,? Awan duduk perlahan di atas bangku tua, mengurut kaki kotor yang lelah.

?Samperin terus!? Mata yang dulu pernah memikat, kini selalu kilat menghujat. ?Yang mati ya sudah! Jangan menyusahkan orang yang hidup!? Orang dicinta hadirkan wajah tak senang, kasar meletakkan gelas ke atas meja hingga air goncang tertumpah. ?Hidup cuma ngedatangin musibah, mati masih aja bikin susah!?

?Astaghfirullahaladzim? Dek,? Awan hanya mampu mengurut dada. ?Me-mereka Mak-Bapak kandung Mas, Dek. Apa salahnya?? tidak, Awan tidak sedikit pun pernah mengasari sang istri. Ia tahu, istrinya berubah mungkin termakan hasut warga dusun yang dulu.

?Anakmu itu yang harus kamu urus, Mas!? sang istri menunjuk kasar pada anak balita yang tertidur pulas, di atas dipan tak berkasur. ?Yang masih hidup! Bukan yang sudah menjadi tulang, Mas!?

Awan tak kuasa membantah ucapan istri. Ia tahu, hanya akan memperkeruh keadaan.

***

Hujan datang tak memberi peringatan, gelegar guntur membangunkan si kecil. Rumah tua berderik dipermainkan angin. Atap lapuk rumbia tak lagi mampu menahan aliran air. Si kecil menangis dalam pangkuan istri. Awan sibuk menampung cucuran. Ember, baskom, teko? apa pun jadi, asal air tak memercik lantai tanah.

?Gimana anak bisa tidur nyenyak? Kerjaanmu gak da yang benar,? ketus sang istri sambil menimang anak. ?Apa yang kamu perbaiki kemaren? Bocor gini!?

?Udah, Dek. Bagian belakang?? Awan coba tersenyum, berharap istri redakan kemarahannya.

?Kenapa gak semua saja? Lihat, kan? Kerjaanmu, nanggung!?

?Besok Mas perbaiki lagi?? Awan menatap bocoran atap. Hujan, berhentilah mengguyur bumi. Kumohon? Biarkan anakku tidur dalam kehangatan, malam ini, kumohon?

?Gak akan ada gunanya!? Sang anak semakin menangis kencang. ?Sekalian ganti genteng, atau pake seng!?

?Ya Allah, Dek?? Awan memelas. ?Dapat duit dari mana?!? tetap berusaha lembut, agar sang istri bisa sedikit tenang.

?Cari kerja kek, apa kek!?

Awan menyesali diri. Tidak, bukan pada sang istri. Menyesal terlahir tak sempurna, tangan kiri sedikit bengkok, jemari selalu bertekuk tidak pernah bisa diluruskan. Namun demi istri dan buah hati, Awan bertekad mengikuti saran.

Yaa, pagi nanti. Aku akan ke pasar sebelah, mencari kerjaan. Bantu aku Tuhan?

***

Nyaris semalaman Awan tak sedikit pun bisa memejamkan mata. Langit seolah menumpahkan tangisnya, tiada henti. Ia tersenyum hambar, mengingat lagi kenangan lama, tinggal di tanah kelahiran. Meski tidak kaya, tapi? itu sangat indah, di rumah semi permanen, di tanah sendiri, dengan ayah-bunda. Mengenal Rima gadis yang ia suka dan menyukainya, meski kekurangan fisik. Tapi? itu indah. Senyum menghilang, melintas lagi tuduhan tak beralasan. Pada ayah bunda. Tukang santet yang menyebabkan kematian kembang desa. Sebab mereka-mereka tahu, kembang desa tidak suka dengan Awan yang cacat, selalu menjadi olok-olokan. Hanya air mata yang setia menemani, kala fitnah itu kembali membayang.

Pagi ini gerimis masih membelai bumi. Tidak banyak sudut gubuk tua yang kering. Seakan kurang penderitaan yang datang, anak tersayang tak henti menangis sebab panas merajang.

?Apa kau buta, Mas? Haa?!?? Jerit sang istri khawatir pada anak. ?Jangan hanya berdiam diri! Panasnya gak akan berkurang dengan usapan tanganmu!? Sang istri menggendong anak ke dalam pangkuannya. ?Lakukan sesuatu! Cari pinjaman sama siapa kek! Atau? atau curi sesuatu, kek!?

?Dek?? Awan terpaku.

?Sesuatu yang bisa dijual!? jerit sang istri tak ingin mendengar sanggahan sang suami. ?Buat berobat anakmu ini!? sang istri memandang geram, mata berlinang.

Awan melangkah cepat, meninggalkan rumah reot peninggalan ayah-ibunya. Tujuannya hanya satu, mendapatkan uang, bagaimanapun caranya, meski harus mencuri. Ia menatap langit pagi, mengelus dada sesaat kalimat ?harus mencuri? melintas di benaknya.

***

Sudah hampir siang, namun sepeser duit pun tak didapatkan. Perut yang kosong semalaman, kaki yang lelah dipaksakan. Terus saja melangkah di tengah keramaian pasar. Ingin membantu ibu-ibu membawa belanjaan, mereka tidak butuh. Sudah ada motor, mobil, dan? tukang panggul pasar. Mengiba lagi pada pedagang makanan, sekedar menjadi tukang cuci piring, melihat keadaan tangan kirinya, itu? lupakan saja.

Yaa Allah? apa lagi yang harus aku lakukan?

?Wan!? ahh, itu Pak Wasito. ?Tadi saya lewat depan rumahmu!? tatapan mata tua itu begitu sedih, ?Anakmu muntah-muntah, binimu pesan: suruh pulang cepat, bawa duit buat brobat anak.?

Awan terhenyak, tak sepatah kata jua bisa ia keluarkan. Kelu. Pria tua itu berlalu. Gelagapan tidak tahu apa yang akan diperbuat, Awan melangkah tergesa-gesa. Kembali ke keramaian. Mengiba lagi, memohon lagi.

Pedagang ikan, pedagang sayur, warung makan? kalian yang membutuhkan kuli panggul, siapa saja. Kumohon, biarkan aku membantu kalian, demi sekeping receh. Demi? demi anakku, buah hatiku! Kumohon, berbaik hatilah!

Tuhan? kenapa seberat ini derita? Kenapa sesulit ini jalan hidup yang Kau berikan? Aku lelah Tuhan, lelah?

Menit demi menit berlalu, satu jam, dua jam? tak satu jua membutuhkan tenaganya. Awan terduduk, bersimpuh begitu saja di lantai jalan. Meraung di tengah keramaian, menengadah langit siang tak berkawan awan, mata terpejam. Bukan kasihan yang diterima, namun sinisnya pandangan begitu menghina. Abaikan tangis tak berkesudahan.

Pandangan mata yang teduh berubah tajam, jahat. Liar menelisik orang-orang sekitar. Lemah, ia bangkit berdiri. Menyeka mata memerah. Memandang langit tinggi, menembus cakrawala. Menantang Kekuasaan.

Demi buah hati? Aku rela, neraka menanti!

Sepasang mata liar membidik. Seorang wanita paruh baya perhiasan mengusik. Sasaran empuk untuk diikuti, diintai. Kesempatan datang menggelitik, keinginan tak lagi bisa berpatah balik. Sambar cepat, teruskan lari. Lari? larilah yang jauh, meski teriakan-teriakan itu terdengar menggidik.

***

Teruslah berlari Awan, teruslah? Masih jauh, anakku masih jauh. Cemas, letih, lelah, jantung panas terbakar, abaikan, abaikan Awan. Mana awan? Kenapa masih saja terik menyengat?

Jangan, jangan menoleh ke belakang. Biarkan? biarkan mereka mengejar, biarkan saja. Ikuti terus, ikuti langkahku? mari-mari, datanglah, lihatlah gubukku. Biar kalian lihat anakku sakit, buah hatiku butuh duit, butuh obat? lihatlah. Sedikit lagi, teruslah mengejarku!

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Hanya sedikit lagi niat terpenuhi. Sudah hampir langkah mendekati. Selangkah lagi maksud perbuatan akan mereka ketahui. Namun tubuh tak kuasa lagi. Terjerambap menghentikan lari.

Teriakan iba tertutup makian umpatan. Seruan memohon agar didengarkan tenggelam hujan pukulan. Hanya lenguh diri menahan deraan hantaman. Hingga tak berkutik lagi. Sebab tubuh remuk dipukuli, sebab wajah tak berbentuk lagi.

?Sa?lah,? tangan kanan terkulai menunjuk istri berlari menghampiri, menggendong anak menangis tak henti. Napas terhenti sebab jantung tak kuat lagi.

?Mas?? pekik Rima menyadarkan mereka. ?Mas Awan,? bersimpuh menopang kepala sang suami. Menyapu lumuran darah yang menghiasi wajah. Tangis buah hati menyayat hati. Terbatuk lagi muntah lagi.

?Mas?? Jeritan Rima sia-sia, Awan berarak pergi tertiup angin.

Rasa sesal mereka tiada berguna lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Satu per satu mereka menghindar menghilang diri. Takut ditagih perbuatan anarki. Mungkin kini, tidak nanti, pengadilan Ilahi.

*

Tuhan... biarlah badan remuk tersakiti

Biarlah raga hancur dan mati

Jagalah anakku nanti

Peliharalah buah hati

Meski jiwaku membusuk dalam neraka? abadi

?

***

Ketika hidup dihadapkan pada pilihan tersulit, masih akan adakah cinta kasih? Pada mereka yang tersisih? Atau pada diri dan orang terkasih?

Sumber ilustrasi.

?

  • view 323