Andai Aku Bisa Mengeluh

Ajo Gaara
Karya Ajo Gaara Kategori Puisi
dipublikasikan 08 Februari 2016
Andai Aku Bisa Mengeluh

Bunda?
Kau perlakukan aku begini, aku tidak marah.


Aku tahu, hadirku di rahimmu adalah kenistaan bagimu.
Mungkin juga kau akan menderita.
Aku tahu Bunda, bukan karena aku yang seperti benalu, yang akan menghisap sari kehidupanmu, menjadikan tubuhmu inang untuk hidupku di alammu.


Bukan pula pada bulan yang sembilan dengan hari yang sepuluh, bahkan mungkin seluruh sisa hayatmu.
Bukan Bunda! Aku tahu...


Sebab hadirku akan memaksamu bertunduk muka, berpaling wajah dalam setiap langkahmu berpijak, menghadapi dunia ini..,
Hadirku hanya akan menyudutkanmu Bunda, memerahkan wajahmu yang aku hayalkan seindah rembulan penuh, menumpahkan sepasang aliran sungai di indahnya bola matamu yang hitam, mungkin hingga kekeringan Bunda.
Tidak Bunda, aku tidak ingin itu semua menimpamu?!


Tahukah engkau wahai Bunda yang tiada 'kan pernah sempat kupeluk dan kurasakan hangatnya tubuhmu...
Tahukah engkau wahai Bunda yang tak 'kan bisa kurindu purnama di wajahmu...
Tahukah engkau duhai Bunda yang inginku tak 'kan pernah kesampaian mengecup keningmu, halusnya rambutmu yang menghitam...
Tahukah engkau duhai Bunda yang tiada pernah terpenuhi telinga ini dengan merdunya suaramu...
Tahukah engkau duhai Bunda, aku tetap mencintaimu?

Walau hadirku di alam rahimmu hanyalah sesaat.
Walau hadirku tiada pernah engkau harapkan, tiada pernah diiinginkan, tidak pula bagi lelaki yang mungkin saja Ayahandaku.

Meski seisi dunia ini menghujat, aku masih tetap mencintaimu? Bunda.

Kau tahu kenapa Bunda?

Aku tidak akan pernah mempersoalkan semua tindakanmu terhadapku, tidak Bunda, tidak sama sekali.
Sebab hadirku, bukanlah hujatan akan dirimu, Bunda?

Hadirku... adalah pengingat untukmu, pengingat akan indahnya duniamu yang tak 'kan mungkin kulihat.
Pengingatmu pada gemerisik dedaunan di pohon-pohon dalam desau angin yang semilir, atau pada gemericik tetesan-tetesan air di padang rumput menghijau tepat di kala mana anak-anak kecil bermain riang.
Hadirku... pengingatmu, betapa agung dan indahnya hidup itu.

Bunda?

Aku tidak akan pernah mau menghakimimu, meski kesempatan dijatuhkan atas pundakku, tidak Bunda, tidak!
Jikalau lah memang kesempatan itu disematkan pada pita suara yang tiada bergema ini, hanya satu inginku Bunda, hanya? satu.

Apa dosaku Bunda?

?

---o0o---

Sumber ilustrasi.

  • view 234

  • Ajo Gaara
    Ajo Gaara
    1 tahun yang lalu.
    wakakka, iya tah? monggo, yok cobain [renungan jumat] di mari hahaha

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    ^_

    • Lihat 5 Respon

  • Asep Kamaludin
    Asep Kamaludin
    1 tahun yang lalu.
    Dari rahim ibumu lah kau memang dilahirkan, nak. Kau memang jabang bayi yang tak berdosa karena kau terlahir dalam keadaan suci. Namun ibumu lah nak yang membuatmu merasa berdosa; karena keegoanku, karena rasa maluku yang mengalahkan rasa sayangku padamu. Kau terlahir seolah tak diinginkan oleh ibumu nak. Dan sesungguhnya kau pun terlahir atas kuasa Tuhan yang Ia titipkan melalui rahimku yang kemudian aku menyia-nyiakannya. Untuk itu, kukembalikan kau pada Tuhan nak. Mengenai dosaku, aku pun tidak tahu.