Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 8 Februari 2016   17:40 WIB
Andai Aku Bisa Mengeluh

Bunda?
Kau perlakukan aku begini, aku tidak marah.


Aku tahu, hadirku di rahimmu adalah kenistaan bagimu.
Mungkin juga kau akan menderita.
Aku tahu Bunda, bukan karena aku yang seperti benalu, yang akan menghisap sari kehidupanmu, menjadikan tubuhmu inang untuk hidupku di alammu.


Bukan pula pada bulan yang sembilan dengan hari yang sepuluh, bahkan mungkin seluruh sisa hayatmu.
Bukan Bunda! Aku tahu...


Sebab hadirku akan memaksamu bertunduk muka, berpaling wajah dalam setiap langkahmu berpijak, menghadapi dunia ini..,
Hadirku hanya akan menyudutkanmu Bunda, memerahkan wajahmu yang aku hayalkan seindah rembulan penuh, menumpahkan sepasang aliran sungai di indahnya bola matamu yang hitam, mungkin hingga kekeringan Bunda.
Tidak Bunda, aku tidak ingin itu semua menimpamu?!


Tahukah engkau wahai Bunda yang tiada 'kan pernah sempat kupeluk dan kurasakan hangatnya tubuhmu...
Tahukah engkau wahai Bunda yang tak 'kan bisa kurindu purnama di wajahmu...
Tahukah engkau duhai Bunda yang inginku tak 'kan pernah kesampaian mengecup keningmu, halusnya rambutmu yang menghitam...
Tahukah engkau duhai Bunda yang tiada pernah terpenuhi telinga ini dengan merdunya suaramu...
Tahukah engkau duhai Bunda, aku tetap mencintaimu?

Walau hadirku di alam rahimmu hanyalah sesaat.
Walau hadirku tiada pernah engkau harapkan, tiada pernah diiinginkan, tidak pula bagi lelaki yang mungkin saja Ayahandaku.

Meski seisi dunia ini menghujat, aku masih tetap mencintaimu? Bunda.

Kau tahu kenapa Bunda?

Aku tidak akan pernah mempersoalkan semua tindakanmu terhadapku, tidak Bunda, tidak sama sekali.
Sebab hadirku, bukanlah hujatan akan dirimu, Bunda?

Hadirku... adalah pengingat untukmu, pengingat akan indahnya duniamu yang tak 'kan mungkin kulihat.
Pengingatmu pada gemerisik dedaunan di pohon-pohon dalam desau angin yang semilir, atau pada gemericik tetesan-tetesan air di padang rumput menghijau tepat di kala mana anak-anak kecil bermain riang.
Hadirku... pengingatmu, betapa agung dan indahnya hidup itu.

Bunda?

Aku tidak akan pernah mau menghakimimu, meski kesempatan dijatuhkan atas pundakku, tidak Bunda, tidak!
Jikalau lah memang kesempatan itu disematkan pada pita suara yang tiada bergema ini, hanya satu inginku Bunda, hanya? satu.

Apa dosaku Bunda?

?

---o0o---

Sumber ilustrasi.

Karya : Ajo Gaara