Anomali

Ajo Gaara
Karya Ajo Gaara Kategori Puisi
dipublikasikan 07 Mei 2016
Anomali

Bibir mungil bertanya. Lugu tanpa dosa. Sebab gadis belum belia, hanya takjub pada yang ada.

Duduk manis di atas kursi bambu. Berteman pelita minyak tanah menerangi malam kelabu.

 

Ayah… apa itu adil?

Bagaimana rupa arif?

Seperti apa wujud makmur?

 

Bibir tua tersenyum. Membelai lembut hitam rambut terurai.

 

Mila… adil itu seperti sepasang sayap putih burung merpati. Tiada bercela kiri dan kanan. Seimbang jumlah setiap sisik bulu-bulu halus. Yang sanggup menopang tubuh. Tidak pincang saat berjalan. Tak akan menggelepar saat  terbang.

Rupa arif sangatlah memesona. Ia umpama si merak jantan. Sayap hijau kebiruan mengimbangi terbang dalam keanggunan. Ekor indah dalam hitungan pasti. Tengah lebih panjang, kiri-kanan menutupi kekurangan. Dengan warna memukau. Corak indah dalam pandangan. Anggun dalam tindakan.

Makmur itu perpaduan keduanya, Nak.

Lengkap melengkapi. Isi mengisi. Tiada cela dalam setiap hal. Seperti burung-burung bernyanyi riang menyambut pagi. Atau ocehan kelelawar di rembang petang. Ayunan rumpun padi seirama belaian sang bayu. Gemericik halus pada riam air yang berkejaran.

Ketika tiada lagi kepala yang pusing. Bibir yang pecah kekeringan. Perut yang kempis menahan lapar. Saat tiada lagi caci-maki dan umpatan.

Itu semua… ketenangan yang hakiki. Mungkin.

 

Bibir mungil tersenyum penuh makna. Bersitan pandangan sejuta arti.

Berarti… kita juga memiliki itu semua ya, Ayah!

Kita punya merpati putih, merak jantan yang indah. Rumah kita di antara hamparan padi yang sebentar lagi menguning. Menunggu panen. Di belakang ada sungai yang airnya terus mengalir.

Tapi… kita tidak memiliki perpaduan keduanya.

Kita… gak makmur. Kadang makan, kadang enggak. Gak tercukupi. Gak terpenuhi, Yah!

Gimana bisa tenang…?

 

Mila sayang…

Apakah engkau bahagia? Meski hanya tinggal di gubuk reot ini? Hanya berdua saja dengan Ayah? Kita makan umbi meski tinggal di tengah surga pangan, apakah kaubahagia, Nak?

 

Gadis kecil mengangguk. Tersenyum lagi. Berbinar lagi. Memeluk tubuh tua dengan segala kasih.

 

Berarti… bahagialah ketenangan yang hakiki. Ya kan, Ayah?

Pria tua mengangguk dalam pelukan. Tak terasa, bulir berkilau menggenangi pandangan.

 -----o0o-----

 

Sumber ilustrasi.

Terima Kasih Admin Inspirasi^^


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Dipikir2, prosa lirismu memang beneran cantik, Bando, dan keren adem dalam kelembutannya... ^_

    • Lihat 3 Respon