[Dewasa] Liburan...?

Ajo Gaara
Karya Ajo Gaara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2016
[Dewasa] Liburan...?

Liburan…?

 

Jam 23.45 WIB.

Seseorang kepayahan menyeret-nyeret sesuatu. Sosoknya tidak terlihat jelas di antara celah tumbuhan semak yang tidak terlalu tinggi. Hanya desahan dan helaan napasnya saja yang terdengar. Sesekali ia memandang berkeliling, lalu kembali lagi menyeret-nyeret benda yang cukup berat.

Di lain tempat, sejumlah muda-mudi tengah mencari-cari sesuatu. Ada lima orang, dua di antaranya adalah wanita, masing-masing membekal sebuah senter di tangan, menyorot ke semua arah.

“Roy… Roy! Ayolah men, Jangan becanda!” teriak seorang pemuda.

“Roy…” teriak yang lain.

Sosok yang menyeret-nyeret sesuatu mendongakkan kepala, ia mendengar suara teriakan tersebut, ia juga bisa melihat sejumlah cahaya yang bergerak kian kemari di kejauhan sana. Tergesa-gesa, ia meneruskan aksinya. Di satu titik yang ia tuju, ia berhenti. Di situ ada sebuah lubang yang baru saja digali, sejumlah tanah yang masih lembab bertumpuk di sisi luar lubang.

“Roy… Come on man, this is not funny!” satu dari dua cewek dengan rambut panjang dikuncir ke belakang mulai kesal.  “Gimana, nih?!”

“Cari aja terus!” timpal yang lain.

Cukup lama kelima orang itu mencari-cari keberadaan seseorang yang mereka panggil ‘Roy’ tersebut.

Beberapa puluh meter di depan, tertutup rimbunnya semak belukar dan keheningan gelapnya malam, sosok yang tadi menyeret-nyeret sesuatu yang berat, tengah menguruk tanah galian. Menimbun sebanyak dan secepat mungkin tanah hitam lembab itu ke dalam lubang.

“Roy…”

Sosok yang ternyata seorang pria tersebut kembali mendengar suara teriakan, bahkan terdengar cukup dekat. Tergesa-gesa, ia berlari meninggalkan apa yang sedang dikerjakan, dengan membekal sebuah cangkul bergagang pendek di tangan kanan sembari mengendap-endap, ia meninggalkan lubang yang tidak tertimbun sempurna.

Sregg…

“Hahh! Roy!?” Langkah kaki pemuda yang berada paling depan terhenti mendengar suara gemerisik rerumputan dan semak, sesuatu berlari menjauh. Ia mengira itu adalah rekan yang mereka cari. Cepat pemuda itu mengarahkan cahaya senter ke arah suara gemerisik.

Namun ia dan juga empat orang rekannya tidak melihat siapa atau apa pun di sana, hanya gerakan dari sejumlah dahan dan belukar yang bergoyang-goyang seolah tersenggol sesuatu.

“Sial,” gerutu salah seorang di antara mereka.

“Roy…”

“Roy!”

Kembali mereka memutuskan untuk meneruskan pencarian rekan meraka yang sudah menghilang seharian. Satu dari dua gadis melangkah sembari berpegangan erat pada teman cowoknya, bahkan lebih merapat.

“Apaan, sih?!” gerutu si cowok kurang senang.

“Takut,” jawab si cewek gemetaran.

“Arghhh!”

 

Grusaak.

Bruukh…

“Aoww,” cewek berambut panjang terjerambap. Tersungkur karena menginjak sesuatu, ia menahan perih di kedua sikunya.

“Aghh…” dengus rekan cowok yang berada dekat dengannya. “Jalan pake mata!”

Si cewek menggerutu tak senang, ia bangkit sembari membersihkan sejumlah tanah yang menempel di kedua siku tangannya, meraih senter yang tergeletak di tanah.

Ia coba mencari tahu benda apakah gerangan tadi yang ia injak sehingga ia harus menahan perih karena tersungkur.

Alangkah kagetnya ia dan terenyak, dengan cepat beringsut ke belakang.

“Aaa…!” ia menjerit histeris dibarengi dengan tangis yang meledak, tangis yang lebih terdengar sebagai suara ketakutan yang teramat.

Empat rekannya sama kaget, menahan histeris yang nyaris menyembur keluar dari mulut dengan kedua tangan, sehingga hanya terdengar geraman-geraman tak jelas.

“No-no-no…” ujar salah seorang sembari kedua tangan memegangi kepala.

“Roy! Gak, Roy!” teriak yang lain.

“Ya Tuhan, Roy, nggak…” sahut yang lain lagi.

Kedua yang lain tidak sanggup berkata apa-apa, terutama cewek yang bergelayut dibahu pria itu, keduanya berpelukan menahan kesedihan.

Satu dari cowok yang berada dekat dengan cewek yang masih duduk di tanah, coba memeriksa lebih dekat. Ia mendesah berat, rahangnya bergemeratakan, ia menggeram menyalurkan amarah dengan meninju tanah berkali-kali.

“Roy…!” kembali dara yang terduduk di atas tanah itu menjerit, menangis sejadi-jadinya.

Sesuatu yang menyebabkan cewek itu tersungkur adalah tubuh dari rekan yang mereka cari dalam beberapa jam terakhir, tepatnya bagian tangan sebelah kiri. Tubuh itu tidak lagi bernyawa, tertimbun sejumlah tanah hitam, hanya pada bagian tangan kiri sebatas siku juga bagian kepala sebatas hidung serta kedua kaki sebatas pergelangan saja yang masih terlihat, sementara bagian tubuh yang lain tertutup timbunan tanah hitam.

Pada bagian kepala terdapat luka menganga, bekas terkena benda tajam, bahkan pada luka menganga itu masih mengalir darah.

Grsskk…

“Berengsek…!” geram cowok yang tadi memeriksa tubuh Roy. “Jangan kabur lu, anjing!” kemarahan dan kekesalan yang menggunung membuat cowok itu kalap dan nekad, mengejar ke arah mana datangnya suara, berbekal senter di tangan kiri dan sepotong dahan seukuran lengan orang dewasa, ia berlari menggila sembari berteriak-teriak menantang seseorang yang ia duga adalah pelaku pembunuh sahabatnya.

“Lex… Alex, jangan!” teriak cewek yang masih saja duduk di atas tanah menghentikan tindakan nekad Alex.

“Alex!” seru cowok lainnya. Sesaaat ia bingung harus berbuat apa, ia memandang pada ketiga temannya. “Gue susul tuh anak, lu pada  buruan balik ke penginapan, telpon Polisi!” perintahnya dengan cepat, sesaat berikutnya ia pun menyusul rekan mereka yang bernama Alex yang telah lebih dulu menghilang di gelapnya malam.

“Jun…” teriak cewek berambut pendek.

Namun Jun sepertinya tidak mendengar seruan itu. Sekarang, hanya tinggal mereka bertiga saja, plus dengan sosok Roy yang tak lagi bernyawa setengah tertimbun tanah hitam lembab.

“Kita musti balik! Telpon Polisi, bantuan…” ujar satu-satunya cowok yang masih bernyawa di sana.

“Roy?!” tanya cewek yang masih berpegangan erat pada pemuda tersebut.

“Biarkan di sini dulu,” jawab si cowok. “Lebih cepat mendapatkan bantuan lebih baik!”

 

***

 

Subuh menjelang pagi.

“Kita kembali ke sana!” pinta cewek berambut panjang.

“Lo gila apa?!”

“Lo yang gila!” balas si cewek tak kalah sengit. “Gak kasihan lo lihat si Roy, hahh?!” jeritnya menahan tangis.

“Sudah-sudah!” jerit cewek berambut pendek menengahi. “Cukup…!” sembari berurai air mata. Ia terduduk lemah di atas kursi rotan.

Kembali ketiganya terdiam, hening. Hanya isakan tangis yang sesekali terdengar.

 

“Alex!” Suara Jun sudah terdengar parau, sudah berjam-jam ia berteriak seperti itu. “Lex…” sampai detik ini pun orang yang ia cari tidak kelihatan batang hidungnya. “Brengsek!”

Jun menghentikan langkah, memindai sekeliling dengan bantuan lampu senter yang cahayanya sudah mulai redup. Kesal tidak menemukan jejak keberadaan rekannya, ia pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan, namun sesaat ia merasa bingung ke arah mana jalan pulang kembali ke penginapan.

Setelah menimbang sesaat, ia melangkah ke arah kiri.

 

Braakh…

Suara pintu terbuka paksa mengejutkan tiga orang yang berada di dalam ruang tamu.

“Lex!?” seru ketiganya nyaris berbarengan.

“Tolol semua kalian!” bentak Alex, sembari melangkah masuk, terlihat letih dan lusuh. “Mo mati, hahh? Pintu kalian biarkan gak kekunci?” makinya lagi, kesal dengan keteledoran rekan-rekannya tersebut.

“Jun mana?!” tanya cewek berambut pendek, seolah tidak menghiraukan kekesalan dari Alex.

“Mana gue tau!” dengus Alex, merebahkan tubuhnya di atas meja. “Bukannya sama kalian!?”

“Gak!” jawab rekan cowok yang seorang lagi.

“Arrg, tolol…!” Alex semakin kesal. “Bego! Ke mana lagi tuh anak?!”

“Jun nyusul lo,” sahut cewek berambut panjang.

“Goblok! Ngapain nyusul gue?!”

“Lo jangan nyalahin dia dong!” potong si cewek ketus. “Kalo lo gak main kejar sembarangan, gak mungkin juga dia lakuin itu!”

“Aghh, sudahlah…” kesal, Alex memejamkan matanya. “Udah telpon Polisi?” tanya Alex kemudian. Kali ini dengan nada rendah. “Ron?”

“Udah.”

“Terus?”

“Sekitar satu jam lagi mereka nyampe,” ujar Ron sembari melirik jam di pergelangan tangan kanannya.

“Aghh…” Dengus Alex.

“Terus, gimana nih?!” tanya cewek berambut pendek, cemas. “Jun belum balik. Roy, hahh masih di sana.”

Alex menggeram panjang, sepasang mata masih dalam keadaan terpejam. “Kalo ampe setengah jam lagi dia kagak balik, gue ma Ron, bakal nyariin tuh anak.”

“Ok,” Ron menimpali.

“Gita ma Ayu, biar tetep di sini, nungguin Polisi,” ucap Alex lagi.

Kedua cewek itu hanya mengangguk lemah menanggapi ucapan rekan mereka tersebut.

 

“Sial,” maki Jun saat langah kakinya terhalang rimbunan tanaman merambat. “Arah mana nih?!” Cahaya sang fajar yang mulai merangkak naik memberi sedikit penerangan. “Berengsek! Kesasar keknya nih…” gerutunya lagi. Kembali Jun melanjutkan langkah.

Trrk

Whuut

Duaakh

“Argg…” teriak Jun panik.

Baru beberapa langkah, idak sengaja Jun menginjak semacam jerat, satu kakinya terbelit tali. Ia tergantung pada sebuah dahan besar dengan posisi terbalik, kaki di atas dan kepala di bawah, satu meter dari permukaan tanah. Dan pada bagian kepalanya mengucur darah, akibat terbentur urat pohon yang menyembul saat tubuhnya tertarik tali jerat.

Jun meringis kesakitan, berusaha meronta, melepaskan diri dari belitan tali di kaki kirinya. Namun akibat gerakannya yang dalam posisi terbalik, justru menyebabkan tubuhnya berputar-putar.

Pandangan Jun menangkap satu sosok yang bergerak mendekat. Jun bisa dengan jelas mengenali sosok tersebut. Seorang pria bungkuk dan buruk rupa, ia dan rekan-rekannya pernah menjahili pria tersebut dua hari yang lalu di dekat sebuah pasar di bawah kaki bukit.

“Bang, tolong saya.”

Namun begitu pria tersebut semakin mendekat, Jun semakin bergidik. Ia jelas melihat senyum aneh dan tak wajar dari sosok itu, ditambah pria bungkuk menenteng sebuah cangkul dengan gagang pendek dan sejumlah tanah masih menempel di mata cangkul. Instingnya mengatakan; pria bungkuk adalah pembunuh Roy. Kalut, Jun meronta lebih keras.

Sosok bungkuk menarik kaki kanan pemuda itu yang tidak terbelit tali, Jun berusaha berontak, dua tangan diayunkan, memukul pria bungkuk.

“Anjing, lepasin gue!”

Pria bungkuk mengayunkan kaki Jun dengan sekuat-kuatnya. Tak ayal, tubuh Jun berputar kencang seperti gasing. Tali yang menjerat kaki semakin berderit ketat, seolah meremas kuat pergelangan kaki Jun, ia menjerit kencang. Juga, pusing luar biasa.

Pria bungkuk memandang tanpa ekspresi, saat putaran tubuh pemuda itu semakin pelan, dengan keji dan brutal ia ayunkan lagi tubuh tergantung terbalik itu. Tapi kali ini bukan ayunan memutar, melainkan lurus mengarah pada batang pohon.

“Bang, maaf! Gak, Bang… jangan!” pinta Jun mengiba. “Tolong…” jeritnya kesetanan, berharap seseorang atau temannya mendengar teriakannya.

Whuss

Duaakh…!

“Heghh,” Jun melenguh pendek.

Bunyi benturan tubuh terutama kepala pemuda itu dengan batang pohon terdengar menggidikkan. Hidungnya patah mengucurkan cairan merah kental, Jun tersedak kesakitan luar biasa.

Pandangan matanya nanar, namun Jun masih bisa melihat pria bungkuk kembali menarik tubuhnya menjauh dari batang pohon.

Whuuss

Duaakh…!

Kembali tubuh malang itu membentur keras batang pohon, kucuran darah semakin banyak berceceran seiring ayunan tubuh pemuda itu.

Jerit memilukan terlontar dari mulut Jun, bercampur dengan semburan darah berbusa. Melengking panjang menembus keheningan pagi.

 

“Hehh…!” Gita tertegun, merasa mendengar jeritan seseorang. “Eeh, lo pada denger, gak?”

Alex bangkit dari meja, ia memandang pada Ron. Ron pun melakukan hal yang sama. Tidak menunggu lebih lama, Alex menghambur keluar.

“Kalian berdua di sini aja, kunci semua pintu!” teriak Ron sembari ikut mengejar di belakang Alex, ia meraih sesuatu.

Tidak banyak waktu untuk berpikir, Gita dan Ayu segera menutup semua pintu dan jendela yang ada, mengunci rapat-rapat.

Sementara Alex terus berlari ke arah selatan, jeritan panjang berasal dari arah tersebut, ia berlari kencang sembari membekal potongan kayu seukuran lengan orang dewasa. Di belakangnya, Ron mengikuti dengan sebuah golok panjang.

 

“Jun…!” Alex berteriak lantang, sepasang mata mengawasi sekitar.

“Jun?” Ron ikut memanggil.

 

Sudah hampir lima belas menit kedua cewek itu mengurung diri di dalam penginapan. Cemas dan takut melanda hebat.

Saat mendengar suara mesin mobil di luar, keduanya terkesiap. Cewek berambut panjang melangkah ke sisi jendela, mengintip ke luar.

“Siapa Git?” tanya Ayu setengah ketakutan.

“Polisi!” jawab Gita, dan secepat kilat membuka pintu.

Ayu mengikuti Gita yang berlari keluar menemui sejumlah Petugas Kepolisian berseragam lengkap.

“Pak, tolong Pak!” jerit Gita seketika. “Teman kami dibunuh Pak!”

 

“Jun…?” Ron merasa jantungnya mau pecah, napas tersengal-sengal.

“Ron!” panggil Alex dengan lantang. Ron mendapati sesuatu yang tidak beres dari gelagat juga pada raut wajah temannya itu. “Jun, Ron!” Alex menghambur, menuruni undakan tanah.

Ron bergegas mengikuti. “Tuhan…!!!”

“Bantu gue!” teriak Alex berusaha menopang tubuh Jun yang tak berdaya tergantung terbalik.

Dengan cepat Ron mendekat, ia masih bisa merasakan kalau Jun masih bernapas. Ron meraung menatap pada sahabatnya itu, wajah Jun tak lagi berbentuk, nyaris remuk ditambah pula dengan darah yang terus mengalir.

“Tolol! Potong talinya!”

Seolah tersadar, Ron bergegas mendekati pohon besar, sekali ayun saja tali jerat itu putus dibabat golok.

Tubuh Jun jatuh, Alex bisa menangkap dengan cekatan. Alex melepaskan baju kaos yang ia kenakan, kemudian dengan hati-hati menyeka darah di wajah sahabatnya itu.

“Jun?” Alex tak mampu menahan gemuruh di dada.

“Hei, Jun…” panggil Ron.

Jun kepayahan, sesekali lelehan darah kental mengucur dari mulut dan hidung.

“Hei, siapa yang ngelakuin?!” tanya Alex, sepasang mata memerah panas, sepasang rahang bergemeretakan.

“Jun! Please, jangan mati men!” ujar Ron menahan tangis yang membuncah.

 

“Alex!”

Gita berteriak memanggil rekannya, dari kejauhan ia bisa melihat dua rekannya itu sedang memapah seseorang. “Lex!”

 

Alex dan Ron sama berpaling ke asal suara, mereka bisa melihat Gita juga Ayu datang ditemani sejumlah aparat Kepolisian.

“Jun…” teriak Ron dengan berurai air mata pada Gita dan Ayu.

Tergesa-gesa Gita dan Ayu segera mendekati. Namun langkah Gita terhenti, ia mendekap mulut dengan kedua tangan.

“Jun…” Ayu menjerit histeris, ia coba memeluk tubuh itu, menggoyang-goyangnya, berharap kalau sahabatnya itu baik-baik saja.

 

Pria bungkuk berlari kesetanan, nyaris saja ia tertangkap basah oleh dua pemuda itu tadi. Ia memacu larinya ke sisi utara perbukitan.

Sejumlah personil Kepolisian bersenjata lengkap menyisir daerah perbukitan, mencari seseorang yang paling tidak bisa dimintai keterangan atas penyerangan pada dua orang pemuda sebelumnya.

Salah seorang petugas kepolisian menemukan sebuah cangkul bergagang pendek, pada gagangnya masih terlihat bekas terkena darah meski tidak banyak tapi itu sudah cukup sebagai barang bukti bagi pihak berwenang. Setelah membungkus cangkul tersebut dengan plastik transparan, kembali ia lanjutkan penyisiran bersama rekan Kepolisiannya.

Pria bungkuk semakin mempercepat lari. Pengaruh medan yang menurun plus gaya gravitasi Bumi, pria tersebut seolah lari kesetanan tubruk sana tubruk sini. Pada satu momen, ia tergelincir karena menginjak satu patahan dahan seukuran paha, dan tersungkur. Tidak sampai di situ saja, tubuh pria bungkuk terguling-guling, terus ke bawah, menabrak apa saja yang dilewati, membentur sejumlah tunggul, bahkan batu-batu besar.

Meski ia jatuh bergulingan dan menabrak sesuatu yang keras, tidak satu teriakan pun keluar dari mulutnya.

Di bawah sana, ada celah menganga lebar dan panjang, tertutup rapat oleh kerimbunan semak, tubuh yang bergulingan itu terus saja meluncur ke arah celah tersebut.

Sreggh, sreggh…

Jleeebh…!

“Heeckh!” hanya keluhan pendek itu yang terdengar dari mulut pria bungkuk tatkala tubuhnya terperosok ke dalam celah dan sebuah urat pohon yang mengeras menghunjam telak punggungnya hingga menembus ke dada. Ia megap-megap menahan sakit teramat.

Pria bungkuk tersedak, seiring cairan kental menyembur hebat di luka tusuk juga dari mulutnya. Hanya dalam hitungan detik, kepala dan tubuh pria bungkuk terkulai lemas, tak lagi bergerak.

 

***

 

Jam 07:25 WIB, pagi.

Kawasan penginapan di daerah perbukitan itu lebih ramai. Sejumlah aparat Kepolisian mengangkut dua buah kantong jenazah yang berisi mayat, sedikit kepayahan para aparat menaikkan dua kantung mayat itu ke dalam sebuah mobil ambulance.

Alex, Ron, Gita dan Ayu berada di dalam mobil ambulance yang satu lagi, sejumlah para medis menemani.

Tidak lama, mobil Kepolisian meninggalkan kawasan tersebut, diikuti pula oleh kedua mobil ambulance. Bunyi sirene dari mobil-mobil tersebut saling bersahutan.

Di dalam mobil ambulance yang ditumpangi keempat muda-mudi itu lengang dari pembicaraan, kesemua penumpangnya diam membisu.

Gita menatap pada Ayu yang masih saja terisak, kembali ia layangkan pandangan keluar jendela. Memandang rerumputan yang seolah saling berkejar-kejaran. Tak  habis pikir, kenapa semua ini terjadi, harus kami alami? Pikirnya.

Lintasan-lintasan peristiwa  dalam tiga hari kembali bermunculan di pikiran Gita. Silih berganti, tumpang tindih. Bagaimana senangnya mereka saat pertama kali menginjak kawasan itu dengan maksud berlibur, keceriaan yang tercipta juga canda-tawa terutama dari Roy dan Jun. Namun semua itu berubah mengerikan, dan itu semua diawali saat mereka berada di satu pasar tradisional yang tidak begitu ramai.

Ya, di pasar itu Roy dan Jun memang sempat bercanda dengan salah seorang pedagang mainan, candaan yang “sedikit” melewati batas. Roy dan Jun mempermainkan dagangan yang berupa mainan karya tangan, memang tidak terlalu bagus karena itulah keduanya bercanda seperti itu. Pedagang itu ternyata bisu dan sedikit bungkuk, hanya suara ah-uh-ah-uh saja yang terdengar saat ia mencoba merebut dagangannya dari tangan Jun.

 

Hanya sekejap saja, mobil-mobil itu telah pun menghilang di kejauhan sana, meninggalkan kawasan penginapan yang kembali ditelan keheningan.

 

-----o0o-----

Sumber ilustrasi.

Terima Kasih Admin Inspirasi^^


  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Jadi inget film Animal. Bukan ding, House of Wax kayaknya lebih mirip.

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    ?Roy? Roy! Ayolah men, Jangan becanda!? teriak seorang pemuda.

    'Men' nya kurang harokat, kecuali kalo gaya cengkok planet Mars... ^_

    • Lihat 5 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Fotonya saya kenal, cewek bule yang kesengsem tinggal di desa dan mengkritik kehidupan Jakarta dengan cara yang asyik lewat video, keren tuh bule... ^_

    • Lihat 2 Respon