Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Puisi 21 April 2016   15:43 WIB
Kartini, Siapa Dia?

Niatku hanya ingin berbagi, pada sedikit kebahagiaan yang telah datang pasti. Hari ini, detik ini. Yang digaungkan semenjak kemerdekaan ibu pertiwi. Soal kesetaraan emansipasi. Tanpa ego diri, tanpa arogansi. Alih-alih manipulasi.

Namun tanya wanita tua memaksaku berpikir ulang. Membuat lidahku tercekat seolah bertulang. Hening dan diam tak mampu kutantang. Takut kualat lebih-lebih lancang.

 

Nak… kauucapkan berita gembira peringatan, teruntuk semua wanita Nusantara yang bisa kausebutkan. Tentang sosok yang menjadi panutan, entah apa lagi gelar kalian sematkan. Sebutkanlah sebutkan… soal perubahan, penyamarataan kedudukan, lepas belenggu himpitan. Hingga kaumku mampu sejajar dengan pria-pria kebanyakan. Sebutkanlah sebutkan.

Kartini? Siapa dia? Apa yang telah dia lakukan hingga kalian begitu menggebu merayakan? Apa yang kalian rayakan? Apa yang dia suarakan? Terlihatkah perubahan, seperti yang dia idamkan? Atau… semua itu hanya semboyan?

Lihat aku, Nak. Lihatlah aku. Apa dia merasakan kemiskinan sebagaimana aku? Sehari makan dan puasa untuk seminggu. Hanya air tanpa kata putih pengganjal nafsu. Pernahkah dia merasakan semua itu? Aah, coba tanya pada pemerintahmu, tetanggamu, rekanmu, saudaramu.

Kautahu apa yang kualami?

Dipaksa menjadi pelacur pemuas nafsu penjajah, dari asing Belanda hingga Jepang tak terbilang sudah. Sebab ayah-ibu tak memiliki sawah, yang bisa dijadikan upeti untuk diperah. Puluhan tahun hinaan yang tak akan mungkin bisa kautelaah. Kauteriakkan dia meneriakkan begitu gagah, sementara nasibku sama sekali tak berubah.

Kautahu, Nak… bahkan bila hadir janin dari benih mereka di dalam rahim ini, tiada sempat kutimang, tiada sempat kususui. Tidak mungkin aku sempat! Sebab asing-asing itu menjamah terus dan menjamah… tak memberi hati pada kehidupan di perutku. Mencambuk, membenturkan kepalaku, bahkan menendang rahimku.

Kaulihat kini? Anugerah Yang Kuasa atas diri seorang wanita… tak lagi bisa kurasa.

Siapa yang sudi memperistri wanita bekas dijajah? Bahkan hingga kini kala tubuh sudah berbau tanah, yang sebentar lagi mati pun tiada seorang jua akan merasa resah.

Itu yang kausebut perubahan? Emansipasi?

Hanya satu pintaku, cuma satu tanyaku…

Kartini, siapa dia?

 

Nek, maaf. Aku…

 

-----o0o-----

Sumber Ilustrasi - by; goriau.com

Terima Kasih Admin Inspirasi^^

 

Karya : Ajo Gaara