Dayung Sampan Kudayung

Ajo Gaara
Karya Ajo Gaara Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 April 2016
Dayung Sampan Kudayung

Dayung… dayung

Dayung sampan kudayung

Si Dayung anak Palinggam… palinggam

Anak Palinggam…

 

Mentari baru menampakkan semburat keemasannya di ufuk timur, malas merangkak dari peraduan. Kalah semangat dari tangan tua yang mendayung sampannya di keheningan pagi buta. Inyiak Andua, wanita tua menjelang senja.

Tangan keriput masih kuat. Dayung lagi, mendayung. Membelah keheningan gemericik aliran sungai. Sapuan angin subuh begitu dingin, namun tubuh renta tak terusik.

Tangan menjangkau semak rimbun di tepian, menghentikan laju sampan. Lincah memetik pucuk-pucuk paku.

Dayung lagi, berhenti lagi, memetik lagi. Tak kenal lelah mengulang hari. Menghabiskan masa tua sepeninggal suami dua dekade yang lalu. Tanpa anak. Dayung terus mendayung, sebelum lembayung mengubah rona langit subuh. Pucuk-pucuk muda semak paku, diikat satu per satu. Siap diantar ke pasar. Hanya ini yang bisa dilakukan, menyambung hidup yang entah sampai kapan. Jauh dari tanah kelahiran.

 

Baik-baiklah menyeberang

Jangan sampai titian patah…

Baik-baiklah di rantau orang

Jangan sampai berbuat salah…

 

Kicauan burung hutan ditingkah risih meringkik serangga bersahutan. Tetes-tetes embun di atas dedaunan, luruh menitik ke tepian. Lompatan ikan-ikan terusik, bersitkan rona keperakan sisik-sisik tubuh. Mengiringi helaan dayung. Seiring mentari tersenyum mencerahkan hari, wanita tua merapat di pasar rakyat, di tepian sungai yang menggeliat.

Satu, dua, lima ikat. Hanya segitu yang mampu ia kumpulkan. Ikatan-ikatan pucuk paku, berganti jerih payah berupa rupiah. Satu, dua, lima lembaran. Inyiak tersenyum puas meski hasil tak seberapa. Cukuplah mengalang kehidupan untuk hari ini.

Apa yang akan dibeli? Tidak ada! Inyiak tersenyum lagi, menggulung lembaran rupiah, menyimpannya di balik baju kuruang usang. Nasi semalam masih bersisa, cukuplah itu! Juga masih ada segenggam beras di dalam kendi.

Mengucap syukur pada Pemilik Kehidupan. Inyiak mendayung sampan, kembali menguras tenaga.

 

Dayung… dayung

Dayung sampan kudayung…

 

Inyiak Andua terus mendayung, meski cahaya mentari semakin panas meniti hari. Sekali waktu menepi, beristirahat sekejap. Lepaskan penatnya badan. Lemaskan jemari yang kesemutan. Melepas tingkuluak pendek yang melilit di kepala. Badan bermandikan keringat, membasahi baju di tiap sisi. Inyiak meraup air sungai. Dingin menyapa kedua telapak tangan. Membasuh muka yang letih. Tempias air pun telah melembabkan separuh kodek.

Lelah terobati, saatnya mendayung lagi. Kembali mengikat tingkuluak pendek ke kepala. Dayung dipegang mata terpentang. Senyum mengulas pengungkap ikhlas.

 

Si Dayung anak Palinggam… Palinggam

Anak Palinggam…

 

Tepat tengah hari, sampan merapat ke tepi. Inyiak Andua mengikat temali di kaki tangga. Tangga bambu sedikit lapuk, menjadi pijakan Inyiak naik ke daratan. Sekilas tersenyum memandang sampan, teman setia setengah hayat di kandung bandan. Melangkah perlahan tanpa bantuan tongkat.

Langkah Inyiak terhenti, di depan sebuah bangunan semi permanen. Bangunan kecil, klinik sederhana seorang bidan, satu-satunya tempat mengadu yang sakit di jorong nagari.

“Assalamualaikum, Nyiak,” Rosmi menyapa. “Baru pulang dari balai?”

Inyiak Andua tersenyum mengangguk. “Waalaikumsalam…” terpikirkan sesuatu, wanita tua mengeluarkan gulungan uang dari balik pakaian, menyerahkan hasil keringatnya tersebut pada sang bidan.

“Ya Allah, Nyiak…” Rosmi menolak halus pemberian itu. “Ndak payahlah Nyiak. Gunakan saja buat Inyiak makan, disimpan, kan lebih elok.”

“Indak baa-baa, doh, Ros.” Senyum Inyiak. “Lai babareh di rumah. Ko, kapatolong saketek!”

(Tidak mengapa, Ros. Di rumah masih ada beras. Ini, sedikit pemberian!)

“Nyiak,” Rosmi tersenyum haru, memegang dua pundak wanita tua. “Inyiak udah sering memberi. Untuk kali ini, simpanlah buat diri Inyiak!”

Lagi-lagi senyum mengulas di bibir yang keriput. “Ambiaklah! Kapatolong untuak nan sakik. Sia tau kapaguno dek nan ka lahia. Ambiaklah, Ros!”

(Ambillah! Untuk menolong yang sakit. Siapa tahu berguna bagi yang melahirkan. Ambillah, Ros!)

Rosmi tak lagi kuasa menolak. Menerima pemberian yang entah keberapa kalinya dari Inyiak Andua. Memeluk wanita itu seperti ibunya sendiri.

 

Pulau Pandan jauhlah di tengah

Di balik-lah pulau si Angsa Dua…

Hancur badan dikandung tanah

Budi baik dikenang jua…

 

Rosmi terisak terpaku, memandang gundukan basah tanah kuburan. Bersama beberapa warga jorong.

Inyiak Andua telah berpulang, hanya beberapa jam dari pertemuan mereka tadi pagi. Terpeleset jatuh saat mengambil wudu. Dan Malak Al-Maut datang menjelma. Inyiak dimakamkan di samping pusara sang suami.

 

Hancur badan dikandung tanah

Budi baik dikenang jua

Dayung… dayung

Dayung sampan kudayung…

 

---o0o--- 

Sumber syair; Alih bahasa lirik lagu Minang; Dayuang Palinggam – Elly Kasim.

Catatan:

Palinggam; salah satu daerah di Padang Selatan – Sumatera Barat.

Paku; pakis. Tumbuhan semak yang bisa dijadikan sayur – Diplazium esculentum.

Inyiak; nenek/kakek. Panggilan pada wanita dan pria sepuh di Minangkabau.

Andua; mandua; mandul. Tidak memiliki keturunan.

Baju Kuruang; baju kurung. Pakaian khas keseharian wanita Minang.

Tingkuluak pendek; variasi dari tengkuluk. Sejenis penutup kepala wanita Minang yang menggunakan selendang.

Kodek; lambak; jenis kain sarung tradisional Minangkabau.

Jorong; bagian terkecil dari satu pedesaan.

Nagari; distrik; wilayah (sekumpulan kampung) yang dikepalai oleh Penghulu.

Balai; pasar tradisional, pasar rakyat.

----

Sumber ilustrasi.

Terima Kasih Admin Inspirasi^^.

 

  • view 233