Maut, Seks, dan Kerja

Andi Triswoyo
Karya Andi Triswoyo Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 03 Februari 2016
Maut, Seks, dan Kerja

?

Berdialog dengan Maut

Rintik hujan masih membasahi pelataran rumah kontrakanku. Seketika, kenangan itu menyapa, dan menyisakan berbagai hasrat untuk terus mengulang, mengingat dan mencerna apa yang telah berlalu. Sesuatu yang tak terlalu penting, barangkali lahir untuk ada, dan dikenang di masa depan. Memoriku berulang kembali. Hari itu, hari dimana sebuah ketakutan yang tak berperi menghampiri dan mengguratkan memori penuh misteri di kehidupan, kematian. Pada hari itu, nenekku meregang nyawa. Sepanjang malam, kurasakan betapa perih dan pedih, nenekku merasakan sakit yang begitu mencekik. Tampak, rintihan dan erangannnya mengindikasikan bahwa kematian selalu didahului dengan kepedihan dan penderitaan yang tak berujung. Mungkin benar, pepatah yang mengatakan bahwa maut datang, dan menyisakan sakit ditusuk tujuh ratus pedang tajam. Maut, selalu datang tanpa pernah permisi dan menanyakan kesiapan. Dia datang dan pergi sesukanya, sesuka dia untuk mengulur dan mempercepat prosesnya. Tidakkah maut tahu bahwa seseorang terlampau pedih untuk menderita. Demikianlah, maut senantiasa egois dan angkuh. Dia tak pernah mau untuk bertoleransi, bahkan berkompromi tentang seberapa derajat sakit yang akan dibebankan untuk sebuah lepasnya nyawa dari raga. Keangkuhanya tampak juga kepergiaannya yang tiba tiba. Mereka tak segan-segan muncul, menerobos nadi, menyeret nyawa, membunuh dan menyayat tenggorokan, dan berujung pada pelampiasan untuk mencatut segala aroma perih dan pedih dari jasad kehidupan. Mengingat maut adalah mengingat kepedihan. Agama selalu menjanjikan sebuah ancaman tentang datangnya maut. Barangkali itulah hal yang memang benar-benar manjur untuk membuat manusia terlampau nyenyak untuk berdoktrin terhadap ajarannya. Kehidupan akan maut kemudian, dijadikan sebagai senjata untuk memaksa manusia agar tunduk dengan ketakutan dan ketidaktahuannya. Maut meyimpan tabir yang sedemikian rahasia. Begitulah kehidupan ini berjalan. Rahasia terus menerus hadir untuk dikuak. Dan, manusia masih terus berupaya untuk membuka rahasia terbesarnya, menyingkap maut dan menundukkannya dibawah kendali ilmiahnya.

Yogyakarta, 31 Januari 2016

Shinta, Seks dan Tanda tanya

Shinta termenung, di sisi istana Amarta. Dia tak lagi bercengkerama dengan kekasih sejatinya, Rama. Barangkali, hari itulah Shinta memutuskan untuk berpisah dengan belahan jiwanya. Rama tak lagi setia, seperti yang biasa dikisahkan cerita wayang. Shinta merasa Rama tak lagi mengemban dan menjaga kesetiaan cintanya. Rama terus berulang untuk mendustakan cinta tulusnya. Pada suatu saat, Shinta mendapati Rama sedang bercumbu mesra dengan Sarpakenaka, pelacur raksasa yang diam-diam menggodanya. Tampak, Rama menikmati percumbuan erotisnya dengannya. Rama tak henti-hentinya untuk menjulurkan lidah, sembari menggerayangi sepasang payudara molek milik sang raksasa. Sarpakenaka tak mau kalah. Berulang kali, dia mencoba melepaskan celana jarik yang menyelimuti kemaluan Rama. Keduanya saling beradu, melampiaskan hasrat liarnya.

? Rama, adakah engkau benar disana? ? Shinta berusaha memanggilnya.

Namun, Rama tak menghiraukan sahutan kekasihnya. Bercinta di depan pintu istana, barangkali merupakan obsesi sejak kecilnya. Mungkin wajar, untuk memaklumi tingkah ganjil sang raja, akhir-akhir ini. Dia terlampau muak untuk terus berlaku sopan, sesuai kemauan kerajaan. Raja sudah selayaknya harus mencontohkan perilaku yang baik terhadap kawulanya. Bersenggama, tentu saja merupakan hal yang disembunyikan, dan pantang untuk dipamerkan. Namun, entah petir apa yang menyambar tubuhnya. Rama dengan segala keganjilannya, memperlihatkan persenggaman anehnya dengan seorang raksasa, yang bervagina lebar dan payudara yang terus menyembul di busana ketatnya.

Shinta terus menerus tertegun, melihat penampakan yang tidak biasa dilihatnya. Terdapat perasaan dongkol yang menguasai dirinya. Sesekali timbul niatan untuk melabrak, dan membunuh keduanya, tentu dengan alasan yang dibenarkan. Pertama, Rama adalah suaminya, yang tidak seharusnya untuk bercinta dengan wanita binal haramnya. Kedua, dia seorang raja, yang ditangannya memikul amanah yang begitu luhur untuk memelihara nilai-nilai moral kerajaan. Dan ketiga, perasaannya terlukai dengan tidak seharusnya tubuhnya dikhanati setelah sedemikian lama, komitmen tubuhnya hanya untuk Rama ? termasuk dengan merelakan keperawanan satu-satunya.

Rama masih belum menuntaskan hasrat seksualitasnya. Torpedonya masih terlihat menancap di kemaluan Sarpakenaka. Sarpakenaka tampak terkekeh, dan menikmati sodokan-sodokan yang berulang dari Rama. Mata genitnya sesekali melirik, dan menggoda Shinta. Batinnya, ? Suamimu telah menjadi budak seksku, Shinta?. Rama juga terus menikmati untuk terus mengulum payudara montok yang menggantung binal di dada Sarpakenaka. Istana dipenuhi dengan desahan-desahan Rama dan Sarpakenaka. Tidak terdengar sekalipun, celotehan-celotehan sinis dari penghuni istana untuk mengganggu, bahkan mengusir persenggaman publik itu. Mereka seperti terlelap, dan terbius dengan suasana nikmat yang dipertontonkan. Barangkali, seks memang selalu menyisakan kenikmatan yang membius. Seksualitas selalu berbanding lurus dengan hasrat manusia untuk menuntaskan kepuasannya. Tidak sedikit mereka turut mereplikasi perbuatan Rama. Beberapa saat kemudian, di berbagai sudut istana, persenggamaan lain berulang. Tukang kuda menggenjot kemaluan kudanya. Para dayang kerajaan saling bermasturbasi dengan perkakas kerjanya, baik linggis, pisau, hingga keranjang sekaligus. Seks menjadi tema istana hari itu. Hentakan-hentakan kaki, dan kedutan-kedutan terlihat massal di berbagai sisi kemaluan yang bertemu. Rama dan Sarpakenaka belum terlihat mencapai klimaks pertempuran. Meski orgasme adalah momen akhir dari persenggamaan, ia lahir sebagai sebuah saat penting bahwa janji senggama untuk hadir dan mengulang kisahnya tetap langgeng.

Anehnya, Shinta masih terlelap dengan lamunannya. Tak sedikitpun hasrat dia untuk menuntaskan seksualitasnya. Memegang klitoris, mengambil mentimun, dan menggosokannya bukan menjadi opsi baginya. Barangkali, vaginanya telah menolak untuk membuka. Payudaranya telah begitu kaku untuk mengeras. Dia sesekali tertawa terkekeh, dan melantur sejadi-jadinya. Petang itu, Shinta berlalu lalang, dengan kaki kecilnya ? sembari mengutuk dan menanyakan sejadi-jadinya perihal seksualitas, kelamin, orgasme dan kosa kata sejenis yang mengurung dirinya, dan tak henti untuk membujuk, barang sesaat.

Yogyakarta, 31 Januari 2016

Kerja

Sejarah menunjukan bahwa manusia selalu terbelenggu untuk gagap dengan masa depannya. Kegagapannya itu terejawantah dalam berbagai hal. Berbagai penemuan, yang melandasi pergantian zaman, semenjak berburu hingga membangun sebuah industri maju. Manusia terus merangkai pikir untuk menuntaskan kegagapannya. Barangkali, karena kegagapan tentang kehidupan yang membuat manusia menciptakan kerja. Kerja tidak lahir dari ruang kosong ataupun dimensi khayali yang tiba-tiba hadir dan memaksa setiap manusia untuk mengimaninya. Kerja lahir dari sebuah ruang dan waktu yang spesifik. Barangkali, seperti itulah yang dikatakan Marx, berapa ratus silam yang melihat kerja dalam narasi materialisme historisnya. Kerja adalah sebuah ilustrasi konkret dari perkembangan mode produksi yang dipertunjukan manusia dalam sejarah.

Namun, tak penting untuk melihat asal-usul kerja bagi manusia abad ini. Dia lahir dan berkembang untuk memberangus kebebasan manusia. Kerja telah menjadi sistem tak terelakkan yang membuat manusia tidak berpisah darinya. Hubungan manusia dan kerja adalah sebuah hubungan dialektis yang saling mensyaratkan dan mengandaikan. Manusia terbelenggu hidup demi kerja, hingga tidak sedikit manusia melihat bahwa dirinya dapat bertahan tanpa kerja. Parahnya, pendidikan kemudian, menjadi media absurd untuk memfasilitasi permainan kerja. Dia tampil untuk menyiapkan manusia yang siap mengabdi untuk kerja, tentu dengan pelbagai alasan. Kompensasi menarik, upah tinggi, tunjangan ganda, hingga beban yang ringan. Namun, tetap saja kerja berkuasa. Pendidikan hanyalah sebuah panggung reifikasi kerja. Ia seakan akan hadir untuk mengaburkan akan kehadiran kerja. Kini, pendidikan itu kembali bertaruh, apakah dia selayak-layaknya menjadi budak kerja ataukah menciptakan sarana untuk melempar kerja dari laboratorium pemikiran manusia. Dan, kerja akan berubah menjadi alien yang terdepak dan menyembunyikan hasrat terdalamnya untuk terus menindas manusia. Akankah kegagapan itu sirna tanpa kerja?

Yogyakarta, 31 Januari 2016

  • view 265