TUHAN, TOLONG CATAT.

Andini Febrianti
Karya Andini Febrianti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Juli 2017
TUHAN, TOLONG CATAT.

Aku menatap cermin. Mencermati kedua alis yang tidak simetri dan tidak tebal, kedua mata yang tidak bening seperti judul novel, hidung yang orang jawa bilang "dipangan grahono", bibir yang berwarna seperti seseorang yang kecanduan rokok bertahun-tahun. Tuhan, aku iri pada kupu-kupu. karena kupu-kupu juga memiliki komposisi wajah yang jika diperbesar akan membuat manusia berusia 30 tahun pun lari terbirit-birit. Beruntungnya, kupu-kupu punya wajah sangat kecil yang hanya dipandang sambil lalu hanya sekedar untuk memastikan kupu-kupu itu masih terbang dengan kepalanya, siapa pula orang yang repot-repot memastikan kepalanya atau wajahnya untuk mengagumi kupu-kupu toh Tuhan memberinya bagian tubuh yang lebih mencolok yang membuat banyak orang kagum. Hal yang mencolok dalam diriku, hanya kalau aku datang ke resepsi pernikahan salah satu kenalan yang mencantumkan pada undangnnya dress code  hitam putih, dan karena aku tidak membacanya, aku malah datang memakai baju merah rok hijau gaya mix and match mengikuti saran para fashion blogger. Itu iriku yang pertama. Tuhan, tolong catat.

Lima menit kemudian aku masih menatap cermin, mengamati telapak tangan dan kakiku. Tuhan, aku iri pada bintang. Bintang itu sering dijadikan tanda jasa dalam semua kategori atau unsur kehidupan. Jika kau seorang musisi terkenal dengan suara mahal, kau adalah bintang. Jika kau adalah ahli matematika di usia 8 tahun, kau adalah bintang. Jika kau naik jabatan, kau dapat bintang. Bahkan jaman sekarang bintang ada banyak ditemukan di sekolah-sekolah atau di setiap rumah, karena parenting guidance mengajarkan, semua anak adalah bintang, Tuhan tolong selamatkan bintang-bintang yang dibuang di selokan atau pekarangan. Jika kau wanita cantik memakai baju ketat bling-bling untuk memamerkan warna kulit yang cerah dan bersinar, dan tampil di acara televisi sore yang lulus sensor, kau pun disebut bintang. Rasanya orang tuaku tidak pernah mengatakan, "Kau adalah bintang di malam gelap kami". Aku curiga mereka mengira aku adalah malam gelap karena warna kulitku. Aku bukannya mendiskriminasi kalangan berkulit gelap seperti diriku, aku hanya sedang berkhayal betapa menyenangkannya menjadi pemilik pabrik kosmetik cream pemutih di negeri ini. Ini iriku yang kedua. Tuhan, jangan berhenti mencatat.

Masih di depan cermin dan kembali menatap wajahku sendiri. Tuhan, aku iri, sangat iri pada bulan. Kenapa? Karena dia bukan bintang tapi tetap terang di malam kelam, itu kutipan entah lagu atau puisi atau apa saja. Itulah. Itu yang membuatku iri. Dia tidak bersinar tapi menyinari malam banyak orang. Tambahan, aku cemburu padanya. Semua penyair, pencipta lagu, sastrawan, penulis, pahkan anak SD yang mengira dirinya jatuh cinta pada teman sebangkunya pun selalu membawa-bawa nama bulan. Untuk memuji, dipuji, merayu, mengadu,  kiasan, untuk menikmati malam-malam setelah pernikahan, bahkan untuk menggambarkan kondisi fisiologis yang dialami perempuan sebulan sekali pun, nama bulan yang disadur. Sial benar si bulan itu. Satu-satunya hal tentang diriku yang menyerupai bulan adalah permukaan wajahku yang tidak rata seperti permukaan bulan. Tuhan, apakah kau masih mencatat? Ah, ternyata Kau perintahkan Rakib dan Atid untuk mencatat. Baiklah.

Tuhan, iriku masih banyak, hanya saja aku belum menjabarkan semuanya. Aku harap, Kau berikan aku kesempatan lain untuk menjabarkan dengkiku yang lain. Tolong, maafkan salah-salahku. Aaamiiin.

  • view 175