PEREMPUAN SINTING PUN MERINDU

Andini Febrianti
Karya Andini Febrianti Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 16 November 2016
PEREMPUAN SINTING PUN MERINDU

Lelaki, hari lalu aku berjalan melewati pasar ikan di seberang pelabuhan, seolah aku melihat senyummu diantara tambatan kapal.

Lelaki, hari itu aku putuskan naik kapal penumpang bersama sepasang muda mudi, seolah aku melihat genggaman tanganmu diantara gulungan tampar jangkar.

Lelaki, siang itu aku memandang jauh ke pulau kecil yang pantainya dihampiri ombak tenang, seolah aku melihat lampaianmu diantara pohon kelapa.

Lelaki, sore itu aku tinggal sejenak di warung kopi samping dermaga, seolah aku mendengar gelakmu di antara kepulan asap rokok para kuli panggul.

Lelaki, berhentilah sebentar dari semua kemunculanmu di kejauhan di sela keseharianku. Temui aku, berdirilah di depanku. Ingin kutanyakan banyak hal padamu.

Lelaki, saat kau mati, sudahkah kau memaafkanku? Apakah cintamu tak beranjak untukku? Sembuhkan lukamu?

Lelaki, kau membalas telak sakit hatimu. Kau mati meninggalkan wanita bodoh pengkhianat yang kini berbau amis pasar ikan, dikucilkan dan dijauhi, bahkan pantas diludahi.

Kekasihku, ya ini aku. Aku wanita kumal yang diteriaki bocah-bocah pesisir sebagai “orang gila”. Aku menyesal. Aku mencintaimu. Kini aku rindu, rindu yang mati bersama kewarasanku.

  • view 220