Hidup Lugu Mbah Sunthi Sekeluarga

Andik Ceritanya
Karya Andik Ceritanya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Maret 2016
Hidup Lugu Mbah Sunthi Sekeluarga

Kamus?Lugu Mbah Sunthi Sekeluarga

?

Mbah Sunthi berusia 75 tahun. Tinggal di rumahnya yang sederhana, tepatnya memprihatinkan. Tak jauh beda dengan istrinya, Dambreng yang setia menemaninya puluhan tahun dalam hidupnya. Rumah ?gubuk? itu seusia dengan anak sulungnya, bernama Sri-yang telah keburu dipanggil malaikat pencabut nyawa di usia remajanya. Otomatis Mbah Sunthi hanya berharap pada anak terakhirnya si Supri. Lagi-lagi Supri yang hanya tamatan SD-tepatnya kelas empat SD berhenti sekolah-harus pula memanggul nasib keluarganya.

Mbah Sunthi memang unik. Perawakan yang gempal mungkin menakutkan bagi anak kemarin sore, tapi bagi orang-orang waras menyebut itu sebagai bukti laki-laki sejati. Leher bagian belakang menggelembung layaknya punuk unta. Saban hari tak terhitung beban yang diangkatnya. Menjadikannya nyaris seperti buku sejarah yang mendefinisikannya ?Meganthropus PaleoJavanicus?-manusia purba tertua dari jawa. Haha..?!

Hidup bagi mbah Sunthi adalah sebotol minyak cap Tawon dan kemampuan alamiahnya, di mana tubuh siapapun yang disentuh oleh telapak tangannya lalu dioles minyak tawon sedikit saja bakal hilang segala keluh kesah tentang tubuhnya. Mbah Sunthi si tukang urut orang-orang melabelinya seperti itu.

Istrinya, namanya Dambreng. Aneh memang tapi itulah namanya. Sama-sama tak bersekolah seperti suaminya. Ketakutan selalu nampak melukis di raut wajahnya yang gersang disapu terik sinar surya. Menyabuti rumput ketika padi menghijau dan menyabiti padi ketika telah menguning. Itulah profesinya. Buruh tani mewakili sebagian pokok pekerjaannya. Selain itu ia nguli klenthek tebu. Menguliti daun tebu yang telah menguning sehingga tebu terlihat hijau kembali.

Supri adalah anak terakhir dari mbah Sunthi. Tapi nasib menyamaratakan dengan keadaan orang tuanya. Mending. Ia sempat menjilat bangku sekolah walau 2/3 perjalanan dari lulus SD-nya. Kemampuan otaknya memang di bawah rata-rata. Itu kenapa ia sering dikemplang oleh gurunya semasa sekolah. Semenjak itu keluarganya memutuskan pendidikannya karena memang keadaan ekonomi keluarga juga yang memprihatinkan. Beberapa tahun belakangan ia gila setelah kepulangannya kerja sebagai kuli bangunan di Solo. Konon karena Supri merusak bangunan keramat semacam makam kuno. Kepulangannya membuat tambah derita keluarganya. Lebih dari itu dia seharusnya jadi penopang buat keluarganya.

Hidup bagi keluarga mbah Sunthi adalah apa yang nampak di depan matanya bukan di depan apalagi di dalam pikirannya. Mereka memijat, menyabut, menyabit dan segala pekerjaan yang disuruhkan padanya. Potret mbah Sunthi adalah keluguan hidup sekaligus keironian diri dalam memandangnya. Keluguan itu terekam kala istrinya, Dambreng begitu ketakutan saat Supri?yang gila?membawa sebuah kertas tepatnya sebuah brosur, warna-warni, bergambar kotak-kotak. Dambreng mengaitkan kertas itu sebagai ?sesuatu? yang mungkin berhubungan dengan pihak berwajib (baca Polisi). Dalam analisisnya ia menganggap brosur itu berhubungan langsung dengan perilaku Supri yang gila. Padahal kertas itu tak lebih dari selembar brosur promo sebuah produk elektronik alias promosi. Tapi karena kebutaan huruf yang membuat ia sampai-sampai berfikir semacam itu. Menggelikan nan ironi.

Bagi orang secara umum hal demikian adalah kelucuan yang dramatik tapi bagi mbah Sunthi atau keluarganya itu adalah ketakutan dramatik. Hidup memang sedemikian lucu ala Mbah Sunthi, meski seharusnya yang ada di balik kepala orang harusnya miris memandang hal tersebut. Karena bukan lagi bicara siapa yang mengalami tapi kenapa itu bisa terjadi?hidup ala mbah Sunthi. Tentu semua berangkat dari cara berpikir dan sudut pandangnya. Tidak sekadar melihat tapi hakikatnya buta.?

Hidup lugu ala mbah Sunthi. Keluguan dalam artian sebenarnya. Ketulusan tercermin dari cara ia mengobrol sewaktu mengurut pasiennya maupun saat ia mendiagnoksa urat-urat tertentu. Mbah Sunthi adalah penyambung ketulusan yang jujur. Keluguan mengamankannya dari sikap ?berkepentingan? seperti, mungkin pasien yang dipijatnya dan mungkin orang-orang dewasa seperti kita ini. Baginya hidup bisa sedemikian membuatnya bahagia jika bisa dimaknai dengan ketulusan-keikhlasan berkorban untuk sesama. Tentu dalam cara ia yang begitu sederhana. ?Menjadi begitu bahagia tanpa dibayar atau barangkali segelas kopi hitam dan sebatang rokok baginya cukup. Tak apa karena nasib berlaku seperti itu baginya. Sama nasibnya ketika orang tak mau beranjak dari kesadarannya bahwa semua orang sebenarnya lugu. Lugu sama ala mbah Sunthi hanya beda pembatas pemahaman tetang keluguannya saja. Barangkali.?

Kamus lugu ala mbah Sunthi adalah ketulusan tak dibuat-buat apalagi rekayasa genetik sebuah kepentingan. Tapi suka bisa dimaknai sebuah rasa syukur. Sebab keluguan ?alami? yang dibentuk oleh keadaan ekonomi maupun status sosial, mengamankan mbah Sunthi dari sikap orang kebanyakan. Kamus mbah Sunthi adalah parameter untuk mengukur ketulusan hati tanpa embel-embel, totalitas tanpa tedeng aling-aling. Mengorek perangai-perangai absurd-kadalisme dan sebagainya, yang mengharuskan tunduk dalam-dalam. Ke-nuranian adalah pertaruhan, pertaruhan kenuranian manusia itu sendiri. Agaknya seperti itu.

Ketidaktahuan posisi di mana kita berdiri adalah ketidaktahuan posisi bagaimana duduk. Apalagi mendudukkan. Ketidaktahuan melihat dari yang seharusnya begitu terlihat di depan penglihatan sebagai manusia. Ketidaktahuan keberadaan dalam memaknai sesuatu membuat manusia tak berarti apa-apa, tak berada. Ketidaktahuan akan kebodohannya yang congkak meski di dalam dirinya mengandung kepintaran sekalipun. Kamus ala mbah Sunthi mengajarkan bagaimana memaknai keluguan mbah Sunthi adalah keluguan manusia semuanya. Kiranya demikian adanya. Karena kita manusia juga,kan?!

?

?

  • view 129