Pemuda Kekinian

Andhika  Wildan
Karya Andhika  Wildan Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 November 2017
Pemuda Kekinian

Ketika mendengar kata “pemuda” orientasi saya adalah sesorang yang mempunyai harapan besar untuk masa yang akan datang. Kenapa begitu? Karena sebuah hal baik memang harusnya tetap dipertahankan syukur bisa dikembangkan. Inilah peran yang diemban para pemuda, generasi yang dirasa paling siap untuk mengambil tanggung jawab tersebut.  Banyak tantangan pasti menghampiri dari zaman ke zaman. Mulai dari tonggak sejarah yang dibuat tanggal 28 Oktober 1928 lalu, Peristiwa Sumpah Pemuda. Dengan kebulatan tekad para pemuda mencurahkan gagasan dan impian mereka untuk tanah air. Hingga sekarang, zaman kekinian,  era digital yang erat dengan derasnya arus informasi dan komunikasi.

Gambaran Semangat Pemuda Sekarang

            Kehidupan yang terjadi zaman sekarang dengan tahun 1928 tentu berbeda jauh.  Dulu untuk menuangkan gagasan dan ide tentunya tidak semudah sekarang yang sudah terfasilitasi dengan kecanggihan teknologi yang bisa secepat kilat menyalurkan ide kita hingga bisa diterima siapapun apabila terkoneksi ke internet. Kemudian dari kemerdekaan hidup tentu lebih nyaman sekarang yang tidak terkungkung penjajahan. Itu sangat jelas dan bisa terbayangkan. Tapi dulu mengapa para pemuda Indonesia bisa sehebat itu? Itu yang membuat saya terkesan dan pastinya bangga. Para pemuda saat itu bisa menghasilkan pemikiran yang jauh dari kata egois, dengki, ataupun diskriminasi. Mereka menghasilkan gagasan yang sungguh mulia untuk Tanah Air yang mereka cintai. Tapi bagaimana dengan sekarang?

Ternyata, menurut pengalaman saya, kecanggihan teknologi zaman sekarang yang manfaatnya sungguh luar biasa untuk kehidupan manusia menimbulkan tantangan tersendiri. Fasilitas yang ada tidak berbanding lurus dengan kualitas pemuda Indonesia, khususnya di lingkungan sekitar saya. Contoh nyatanya saja saat berorganisasi di lingkup kampus. Secara umum hanya pada periode awal saja semangat para pengurus untuk berkecimpung dengan kegiatan yang digagas oleh organisasi tersebut. Kebanyakan dari mereka menyerah terlalu mudah. Karena acara yang dilaksanakan tidak menarik teman-teman mahasiswa yang lain hal itu membuat mereka  semakin acuh tak acuh dan malas berkegiatan. Ada juga yang saat rapat, baik rutin maupun tidak rutin, tidak tepat waktu dengan berbagai alasan entah yang dibuat-buat maupun yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan. Sayangnya, itu tidak hanya dilakukan satu atau dua orang, bahkan bisa mencapai separuh anggota yang ada. Juga, pernah saya alami pada organisasi Karang Taruna. Untuk yang ini lebih parah lagi, setelah kesepakatan dibuat ternyata rapat yang sebelumnya direncanakan pukul 19.30 WIB baru dimulai pukul 20.30 WIB. Untuk kali pertama saya merasa menyesal datang tepat waktu. Semoga itu hanya terjadi di desa saya.

Masalah waktu ini memang sangat memprihatinkan. Menghargai waktu untuk bertemu dengan orang lain itu semakin susah. Apalagi zaman sekarang dengan hiburan digital seperti aplikasi chatting dan media sosial lainnya. Manusia cenderung lebih egois. Jika keinginan untuk berinteraksi dengan lingkungan saja kurang bagaimana caranya mengerti satu sama lain. Apakah dengan berkirim pesan saja cukup? Saya rasa tidak. Ya memang ada fitur video call untuk berinteraksi secara lebih nyata. Tapi saya rasa itu jauh kurang efektif bila dibandingkan bertemu secara langsung. Apa perlu dijajah dalam arti sesungguhnya lagi untuk mengumpulkan semangat para pemuda?

Realitas yang Semakin Terlihat

            Tak dapat dipungkiri bahwa kecanggihan teknologi membuat dunia semakin terbuka, terbuka realitasnya, yaitu bahwa perbedaan itu tampak semakin nyata. Jika kita lihat Indonesia, tentu dengan jelas terbayang perbedaan yang sangat kompleks pada masyarakatnya. Bisa dilihat dari kenyataan bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan, tempat berbagai suku, dan wilayahnya sangat luas. Mustahil untuk memaksakan bahwa Indonesia adalah hanya satu golongan. Dengan adanya media sosial tentunya, ya tadi, realitas perbedaan itu semakin tampak, kita ditantang oleh zaman bagaimana sikap toleran kita. Misalnya dengan adanya pernyataan yang bersebrangan dengan pendapat kita, apakah kita langsung menghujat atau mencoba mencari titik temu dari pendapat yang berbeda. Banyak kasus di dunia maya tentang masalah seperti itu. Sampai-sampai terungkap bahwa ada proyek penyebar kebencian di media sosial. Wow! Saya tidak habis pikir. Pemuda yang cerdas adalah mereka yang bukan kaum sumbu pendek, sedikit-sedikit baper merasa terhina/tersalahkan/tersakiti.

            Kasus demikian sangatlah perlu diperhatikan. Kita tidak ingin hanya karena silang pendapat menimbulkan permusuhan apalagi sampai melakukan tindakan di luar nalar. Ada baiknya silang pendapat yaitu untuk melihat sudut pandang yang belum kita mengerti. Perlu kolaborasi untuk menemukan titik temu di era digital yang memungkin siapapun menyatakan ide/gagasan. Tapi jangan lupa bahwa walaupun, mau tidak mau, kita itu berbeda tapi satu kesatuan dalam pelukan Ibu Pertiwi.

Lalu Apa?

Generasi pemuda kekinian ini perlu menghadapi tantangan yang ada dengan penuh komitmen. Kita perlu berusaha menghargai waktu apalagi untuk hal-hal kecil yang penting, bisa dimulai dari kemauan untuk meluangkan waktu berbagi ide dan gagasan tentang permasalahan sosial secara terbuka. Apakah bila yang lain salah kemudian kita pasti benar? Juga, pemanfaatan fitur-fitur kecanggihan teknologi saat ini perlu dilakukan secara maksimal. Bisa digunakan untuk menggali informasi yang mendorong penyelesaian masalah-masalah. Ingat, kaji terlebih dulu informasi yang didapatkan untuk memperoleh informasi yang benar-benar benar. Menurut saya hal-hal kecil seperti itu adalah modal yang cukup untuk membentuk karakter pemuda modern ini.  Bukankah sesuatu yang besar selalu dimulai dengan hal-hal kecil? Semangat tersebut akan menjadi jauh bermakna apabila kita mau menerima perbedaan yang ada. Karena kita memang tidak bisa lepas dari situasi itu khususnya di bumi Indonesia yang beragam. Tapi ada istilah ajaib yang bisa membuatnya mudah diwujudnyatakan. Saya menyebutnya kerja sama.Nah, kita tidak sama, kita kerja sama. #SumpahPemuda2017

  • view 35