Cafe Latte

andha mohammad
Karya andha mohammad Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2017
Cafe Latte

Cafe Latte, syarat baginya untuk menjaga mata agar senantiasa memiliki arwah, bukan untuk membuatnya siaga, namun untuk mengimbangi wanita yang kerap mencecap kopi hitam pekat tanpa gula di pojokan kedai kopi favoritnya.

Bukan masalah siapa yang menemukan siapa, atau siapa yang duluan berkuasa, wanita itu adalah pelanggan setia sudah sejak lama, bahkan banyak pelanggan yang mengira dia adalah pemilik dari kedai kopi itu, si lelaki hanyalah pendatang baru, tersesat dan terpaksa memesan kopi, karena tidak ada menu lainnya kala hujan memaksanya untuk lebih dahulu menepikan bahu.

Hampir dua bulan berlalu si lelaki menjelma menjadi pelanggan setia baru di Kedai Kopi Inspirasi, begitu nama dari kedai kopi yang selalu ramai itu. Dia hanya memesan satu jenis kopi yaitu Cafe Latte dengan susu murni yang dominan dan kopi yang sedikit, hal biasa bagi seseorang yang tidak terlalu menggemari kopi. Satu-satunya alasan dia mengunjungi kedai kopi itu adalah si wanita dengan kursi di pojok tidak jauh dari tempat barista meramu racikan kopinya. Sedang si wanita yang sudah dua bulan terakhir menjadi sasaran mata-mata si lelaki tanpa pernah sekalipun peduli bahkan tak pernah sadar telah menjadi perhatian.

Entah cecapan yang keberapakali, sudut cangkir kopi hitam kembali bertemu dengan gincu merah marun, dan selang beberapa detik tanpa mempedulikan si lelaki yang seperti patung dengan tatapan lekat kearahnya, wanita itu membasahi sedikit telunjuk jarinya dengan lidah; sudah hampir usai novel tebal yang berjudul “The Prince Who Loves River And Stone” dihabiskannya.

“ahhh”, si wanita merenggangkan kedua tangan seolah membebaskan beban berat pada persendiannya, sepertinya novel terjemahan yang seharian dibacanya itu telah cukup membuatnya lelah. “mas aku pesan Cafe Latte ya?” si wanita kehabisan bahan bakar, dia butuh segelas kopi lagi. “Cafe Latte?”, barista mengernyitkan dahi, dia sangat ahli meramu kopi, tapi untuk sekelas pelanggan setianya itu, dia hampir tak percaya, mungkin ini kali pertama si wanita memesan kopi bercampur susu.

Lelaki dengan modus pecinta kopi yang tak lelah memandangi satu meja di pojokan. Sadar si wanita memesan Cafe Latte seperti dirinya, pikirannya melontarkan tanya: “apa yang dilakukannya?”, “bukannya dia selama ini selalu memesan kopi hitam murni, bahkan tanpa gula?” pertanyaan yang bercampur rasa penasaran, sekaligus menarik hatinya, bagaimana tidak, lelaki tersebut mendadak menjadi pelanggan kopi bukan karena kopi itu sendiri, melainkan si wanita yang sempat membius matanya tepat pertama kali dia berteduh dari hujan, lalu terpaksa memesan minuman, karena tak ada minuman lain selain kopi maka Cafe Latte adalah pilihan terakhir baginya. Siapa sangka, meski kopi adalah minuman yang selalu dia hindari, tapi dari kopi itulah dirinya selalu berupaya bagaimanapun caranya agar bisa bertemu kembali dengan si wanita, meski hanya sebagai penikmat setia dengan pandangan sembunyi-sembunyinya.

Secangkir Cafe Latte bermotif hati diantar ke meja pojok, si wanita tersenyum, “Cafe Latte kan mbak?” pertanyaan barista seolah meyakinkan kembali si wanita benar-benar tidak salah memesan kopi. “tepat sekali, terimakasih mas Pram”, Pramudia, nama si barista, seperti nama seorang penulis ternama di Indonesia. “kembali kasih”, jawabnya.

Novel tidak dilanjutkan, Cafe Latte yang dipesan pun tak disentuhnya, si wanita sibuk dengan tisu yang dijadikan lembaran seolah kertas. Kacamata, novel terjemahan dan dompet kulit bewarna coklat muda satu persatu dimasukkan ke dalam tasnya. Dia beranjak dari kursi, sore itu hujan memang tidak ada, satu hari seperti musim kemarau muncul di tengah kepungan hari-hari dengan mendung lalu milyaran rintik yang terjun. Si wanita berlalu, matanya yang terlihat sudah lelah bergulat dengan kata-kata mengirimkan pesan pada si lelaki yang sudah dua bulan terakhir menjadi pemerhatinya. Si wanita memandang sekilas lelaki yang tergagap di depannya, lelaki yang kecewa padanya karena terlalu dini meninggalkan kedai kopi, namun lelaki itu juga seperti tak percaya, pertama kalinya selama dia menjadi pelanggan mendadak kedai kopi Inspirasi, si wanita menatap mata bodohnya.

Selang beberapa menit terpaku, tatapan wanita itu seperti palu yang menggebuk habis kepala si lelaki, kemudian tak bisa berbuat apa-apa, membeku. Dia habiskan Cafe Latte miliknya, bersiap-siap pergi, pikirnya untuk apa lagi berlama-lama di kedai kopi tanpa tujuan utama yang dia ingini, si wanita sudah tak ada lagi. Lelaki itu berdiri, bergegas. “mas mas, ini ada pesan dari mbak April untuk mas” Pramudia menyeru pada lelaki itu, si lelaki menoleh padanya “apa? Pesan untuk saya?” seperti tak percaya. “iya itu di meja pojok”. Si lelaki seperti tersambar dan tersengat listrik yang menggelitik, menyebabkan dirinya tak tahu apa yang harus dibuat, aneh, gila, tak percaya, wanita yang amat menarik perhatiannya selama ini memberikan pesan untuknya. Lelaki itu urung pergi, dia segera ke meja pojok tempat si wanita biasa menikmati kopi, menemukan dua lembar tisu dibawah cangkir Cafe Latte yang masih utuh, hangat.

Tisu itu bertuliskan pesan yang cukup panjang, pelan-pelan si lelaki menikmati kata-perkata dari pesan tisu untuknya:

“dear Theo, setelah kamu membaca tulisan ini, itu berarti kamu sudah sedikit menunjukkan kemajuan, dan aku sangat bahagia menyadari hal itu. Hampir setahun dari masa sulitmu pasca kecelakaan, aku selalu menunggumu di kedai kopi ini, tempat di mana kamu dulu sering membuatku tertawa, mengajarkanku bagaimana caranya menikmati kopi murni tanpa gula dan di kedai kopi ini pula, kamu mengutarakan cinta serta melingkari jari manisku dengan ucapan “will you marry me?”

Maaf jika kamu merasa bingung atau masih belum siap mengembalikan seluruh memorimu yang hilang, aku pun berharap kamu tidak tergesa-gesa menelan kenyataan ini semua yang terasa amat sulit untuk dicerna dan diterima.

Setelah membaca surat ini aku ingin kamu habiskan Cafe Latte itu, aku rasa kopi campur susu murni cukup membantu dalam mengembalikan memorimu pelan-pelan. Setelah ini segeralah pulang, kamu harus habiskan obat terapimu, dan fokuslah pada dirimu dahulu jangan ragukan aku, esok jam 10.00 pagi aku akan kembali berada di meja ini, memesan satu kopi Gayo murni tanpa gula, dan aku akan sangat senang jika kamu mau datang, mungkin kali ini adalah giliranku mengajarkanmu betapa nikmatnya segelas kopi murni dibanding kopi yang terkontaminasi gula atau susu. Aku tunggu.

 

Your pieces of memories

Aprilliana

Si lelaki menerawang ke langit-langit kedai, tak ada lukisan atau ukiran apapun di atas sana namun pandangan kosongnya seakan tercengang pada mahakarya termasyhur di dunia, secangkir Cafe Latte disambar, dua helai tisu tercekik dalam genggaman yang gemetar.

 

  • view 127