Bulan Sabit

ana febriana
Karya ana febriana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Juli 2016
Bulan Sabit

Bulan adalah satu-satunya satelit alami Bumi, dan merupakan satelit alami terbesar ke-5 di Tata Surya. Bulan tidak mempunyai sumber cahaya sendiri dan cahaya Bulan sebenarnya berasal dari pantulan cahaya Matahari. Di waktu-waktu tertentu terdapat keadaan bulan separuh dan bulan sabit, yakni pada saat posisi Bulan terhadap Bumi membentuk sudut tertentu terhadap garis Bumi - Matahari.

Pada saat itu, hanya sebagian permukaan Bulan yang disinari Matahari yang terlihat dari Bumi. 

 

Malam itu gelap sekali. Cahaya bulan mengecil karna hanya sepotong terlihat. Membentuk setengah lingkaran kecil. Bulan sabit, malam itu aku berjalan di atas trotoar jalan raya ibukota jakarta yang masih padat merayap, karena masih jam pulang kantor. Ritual pulang kantor, setelah naik trans jakarta lalu turun di halte kuningan dan jalan 500 meter menuju kos-kosan. Jenuh dengan rutinitasku setiap hari yang tidak berubah layaknya buku cerita yang habis dibaca berulangkali.

Hari itu terasa lelah, sangat lelah, sambil terus berjalan cepat kulihat dari arah berlawanan seorang pria jangkung dengan kacamata berbingkai hitam yang elegan berjalan santai sambi memasukan salah satu tangannya kedalam saku celana kain yang melekat pas dengan kaki jenjangnya. Aku terpesona

Malam itu melihatnya membuat langit tidak segelap diawal, semua nampak bercahaya. Dia terlihat bercahaya. 

 

Tidak ada hal yang paling bodoh selain melakukan ritual rutin menunggu 5-10 menit di trotoar tempat berpapasan dengan laki-laki bercahaya itu lagi hampir setiap hari sepulang kerja. Aku dengan sabar menunggu sambil mencari alasan dengan membeli sebotol air mineral di pinggiran trotoar sambil sibuk memainkan smartphone tapi mata tetap 'awas' mengamati orang-orang yang lewat mencari sosok bercahaya itu melintas di hadapanku. 

Sudah hampir sebulan aku tidak-sengaja bertemu, rasa rindu yang janggal disebabkan orang asing yang baru sekali bertemu tidak menurunkan semangatku untuk selalu setia menunggu 5-10 menit di trotoar bersejarah itu. Meskipun peluang berpapasan lagi dengan laki-laki bercahaya itu 1:1000. Tak apa, toh jodoh tak tahu datang dari mana kan? 

 

Suatu malam, malam itu bulan terlihat separuh bercahaya. Aku sedikit demam. Jadi kuputuskan untuk pulang lebih awal dan tidak melakukan ritual rutin menanti laki-laki bercahaya. Aku berjalan cepat, ingin segera sampai kos dan beristirahat untuk melanjutkan aktivitas esok hari. Dan karena sudah terlalu pusing kuputuskan menyetop taksi yang kebetulan lewat. Setelah mobil taksi itu berada di tepi trotoar dan aku ingin segera masuk ke dalam, tiba-tiba seorang laki-laki menyerobot. 

"Hei, ini taksi saya duluan yang order" Aku mencoba melawan dorongan laki-laki itu

"Mba maaf ya bisa share nggak taksinya, saya buru-buru mba, please" Sambil setengah memohon, laki-laki itu dengan cepat meluluhkan hatiku. Ya  tentu saja aku luluh, karena dia adalah si laki-laki bercahaya yang telah membuatku menunggu seperti orang bodoh belakangan ini. Akhirnya aku ijinkan dia untuk berbagi taksi, selama perjalanan kami tidak saling bicara satu patah kata pun, yang jelas kami sama-sama tahu bahwa tujuan kami sama, daerah Kuningan.

"Pak nanti saya perempatan lampu merah belok kiri ada tempat caffe resto bar gitu pak namanya Metro Life nanti saya berhenti disitu ya pak" laki-laki bercahaya itu mencoba memberi petunjuk arah kepada supir taksi ketempat tujuannya. Aku hanya diam sambil melihat ke arah luar jendela, sambil sesekali menghela napas untuk menenangkan detak jantung.

"Mba, tinggal di daerah kuningan?" Laki-laki bercahaya itu memulai percakapan. Aku menoleh cepat, sedikit kaget melihat reaksiku laki-laki bercahaya itu tersenyum ramah.

"Iya. nge-kos kok maklum perantau" Ujarku se-kena-nya

"Asli mana mba ?"

"Solo mas, mas nya asli jakarta?"

"Iya mba, ni baru pulang ngantor, mau ada ketemuan janji sama temen-temen"

"Oh, kayanya hapal banget daerah sini, sering ke daerah sini ya mas?"

"Iya soalnya ini tempat nongkrong saya, jadi udah bulak-balik daerah sini tiap hari, Pak nanti depan situ kiri ya pak" Laki-laki bercahaya itu menunjuk ke arah sebuah tempat yang terlihat menyala dari kejauhan, sebuah Bar & Resto bergaya modren yang menurutku agak terpencil letaknya.

"Mba duluan yaa" Laki-laki bercahaya itu dengan segera membayar dan keluar menuju tempat itu, kulihat dari kejauhan segrombolan pria dan mulai berbincang akrab.

"Mba sebentar ya saya ada telepon dari istri" Supir taksi minta izin untuk mengangakat telpon dari istrinya sambil keluar mobil. Aku kembali sibuk memperhatikan laki-laki bercahaya dari luar jendela. Dia duduk di kursi luar sambil asik berbincang, tidak lama seorang pria yang juga berwajah tampan mendekati sambil dengan santai melingkarkan tangan dipinggang laki-laki bercahaya itu dan menyentuh halus leher tegap laki-laki bercahaya itu. Aku sedikit terkejut namun aku tetap fokus memperhatikan. Tak lama bahasa tubuh diantara laki-laki bercahaya dan teman pria nya semakin aneh, aku mencoba berfikir positif namun saat teman pria nya mencium tengkuk si laki-laki bercahaya aku langsung mengerti apa yang kulihat.

 

"Mba, ini dianter ke jl.Wijaya?" Pak supir sudah kembali ke dalam mobil dan bersiap mengantarku menuju kos ku. Tapi kepalaku mendadak bertambah pening dengan lemas aku menjawab

"Ke rumah sakit 24 jam di depan jl. wijaya dulu ya pak, saya kayanya tambah pusing nih mau minta obat sakit kepala"

 

 

Taukah kamu bulan sabit ?

Cahaya matahari hanya separuh menerangi bulan, dan itu berlangsung selama beberapa waktu.

Namun sebenarnya, bentuk bulan sabit itu tetaplah bulat dan utuh seperti layaknya bulan.

Jadi dengan kepala pusing dan hati campur aduk, aku berkata dalam hati,

"Aku percaya bulan sabit itu akan kembali diterangi cahaya dan akan kembali menjadi bulan seutuhnya. Entah kapan, tapi pasti dia akan kembali kebentuk semula. Bentuk sejatinya, semoga"

 

 

Untuk  semua rasa cinta yang tidak terbatasi oleh apapun juga, termasuk perbedaan yang mereka sebut 'tak semestinya'

Inspired by my bestfriend : Putri Widya

 

 

  • view 278