Adam Kepada Hawa

Ryo Siansu
Karya Ryo Siansu Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Mei 2016
Adam Kepada Hawa

Adam terjaga….! Alangkah terkejutnya ia ketika dilihatnya ada makhluk manusia seperti dirinya hanya beberapa langkah di hadapannya. Ia seolah tak percaya pada penglihatannya. Ia masih terbaring mengusap matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang sedang dilihatnya.

 Hawa yang diciptakan lengkap dengan perasaan malu, segera memutar badannya sekadar untuk menyembunyikan wajah yang memerah juga degupan jantungnya yang tak karuan, seraya mengirimkan senyum manis bercampur manja, diiringi pandangan melirik dari sudut mata yang memberikan sinar harapan bagi hati yang melihatnya.

 Dengan keyakinan demikian Adam a.s menjemput Hawa dengan berkata: “Kekasihku, ke marilah engkau!” Suaranya halus, penuh kemesraan. “Aku malu!” balas Hawa seolah-olah menolak. Tangannya, kepalanya, memberi isyarat menolak seraya memandang Adam dengan penuh ketakjuban.

 “Kalau engkau yang inginkan aku, engkaulah yang ke sini!” Suaranya yang bagaikan irama seolah-olah memberi harapan. Adam tidak ragu-ragu. Ia mengayuh langkah gagah mendatangi Hawa. Maka sejak itulah teradat sudah bahawa wanita itu didatangi, bukan mendatangi...

Mungkin seperti itulah sepenggal sketsa romansa perihal kisah cinta pertama yang tercipta pada suatu senja di syurga. Namun sebagaimana halnya tak ada kesedihan yang abadi maka tak ada pula kebahagiaan yang kekal.. tersebab tak kuasa menahan godaan iblis, Adam dan Hawa mengalami kegagalan dalam ujian pilihan bebas pertama bagi umat manusia tatkala memakan buah khuldi yang terlarang. Pasangan paling purba yang meneguk manisnya anggur cinta di syurga dengan segala atribut kemewahan dan keindahannya ini harus turun ke bumi, di tempat yang terpisah ribuan mil. Dosa pertama generasi manusia yang hadirkan ribuan sesal namun juga sekaligus jutaan hikmah..tak tertolak..

 Membayangkan gundahnya sang Adam terpisah oleh jarak di tempat paling asing.

Adam kepada Hawa..Bagai musafir tanpa kompas ia berusaha melacak jejak sembari mencoba memberi nama untuk sebuah rasa ingin berjumpa yang kerap kali membuncah sekaligus menyesakkan dada..kerinduan..perasaan misterius paling pertama di muka bumi. Ia pun mengukir setiap nestapa rindunya pada gurun pasir hanya untuk melihat angin menghapusnya begitu saja..namun langkah tak pernah disurutkan, pijar cinta tak urung ia padamkan.

 Adam kepada Hawa..Perpisahan adalah level tertinggi dari ujian setiap kisah cinta dan pertemuan merupakan hulu dari segala do'a juga harapan yang tak pernah gagal hadirkan tawa bahagia. Arafah (kenal/tahu) adalah altar titik temu dan Jabal Rahmah menjadi saksi monumental bahwa tulang rusuk akan selalu berhasil 'mengenali' pemiliknya..di sana ia mendekap erat Hawa, membisikkan rindu dengan nada yang lirih, merayakan cinta dengan nadi yang luruh.. penuh gegap gempita.

 Adam kepada Hawa...Pendosa yang secara ksatria menerima hukumannya sebab jauh di kedalaman hatinya ia mengetahui bahwa bersama  cinta sang Hawa semuanya akan baik-baik saja. Cinta yang selalu menyertainya dalam menunaikan titah sebagai khalifah, meneruskan keturunan dan mengembangkan peradaban.

 Adam kepada Hawa..museum sejarah yang mengendapkan mutiara sarat makna tentang takdir 'bias' setiap manusia untuk menjadi seorang pendosa, perihal prasasti cinta yang menguak tabir jodoh, rindu pun kasih sayang..serta terkait ketabahan dan prasangka baik terhadap setiap ketetapan-Nya yang mampu menjadi semacam energi kuantum dapat membalikkan hukuman menjadi sebuah samudera nikmat.

 Berguru dari Adam kepada Hawa..Ketika menemukanmu di simpang jalan takdir, aku tahu bahwa kita berdua memiliki jejak tertinggal di belakang yang mungkin tak perlu lagi kita susuri kembali karena kini kita telah memiliki arah dan tujuan baru yang sama. Mungkin sebelumnya kita telah menjalani takdir 'bias' setiap manusia sebagai seorang pendosa, bukankah kini saatnya untuk menjalani hukuman bersama???

 Berguru dari Adam kepada Hawa..Hukuman itu mungkin sekarang sedang bekerja, saat kita terpisah oleh satuan jarak  ketika aliran rasa dan rindu tengah menderas. Namun biarlah sang waktu, ibunda dari segala kemungkinan menunjukkan petanya menuju 'altar titik pertemuan' kita. Di sepanjang perjalanan melacak jejakmu kembali, izinkan aku meniru Adam dalam mengeja rindu, menemukan kembali daya ledak metaforisku tentang pagi, senja ataupun malam lewat sudut lengkung senyummu. Senyum yang menjadi serambi pusat bahagia, penuhi bilik rahasia, tempat semesta menyimpan rupa-rupa rasa.

 Berguru dari Adam kepada Hawa..Saat kita bertemu kembali, hati ini hendak bersalin rupa menjadi seperti padang Arafah yang selalu berusaha mencintai bukit Jabal Rahmah..tak pernah ingin menjadi lebih tinggi namun hanya tahu bagaimana caranya untuk selalu menjadi yang paling lapang..buatmu. Dan jika esok kau terbangun lebih dulu, tanyakan pada semesta bagaimana pagiku sebelum bertemu denganmu. Maka pintaku, jadilah seperti Hawa yang kasihnya akan menemaniku menunaikan tugas dan tanggung jawab yang tersisa. Sebab sungguh..atas nama segala gen yang kau warisi dari Hawa..dan seluruh DNA yang diturunkan oleh Adam kepadaku.. aku pun yakin bahwa tulang rusuk akan selalu berhasil 'mengenali' pemiliknya...

 Makassar, 7 Mei 2016

 Aku kepadamu...

 Ryo

  • view 211