Remaja, Keluarga, dan musik Rock

Ananta Damarjati
Karya Ananta Damarjati Kategori Budaya
dipublikasikan 31 Juli 2016
Remaja, Keluarga, dan musik Rock

Akan terasa sangat kompleks ketika menyoal remaja. Sebuah masa transisi yang haus akan eksistensi, hingga sibuk dengan pencarian untuk mengaktualisasi diri. Singkatnya, memastikan tempat bagi dirinya untuk dianggap ada.

Mungkin sebagian besar orangtua, masa remaja anak mereka inilah ujian terbesar dari proses pendidikan, penanaman nilai etis, iman serta imunitas kultural yang mereka ajarkan sejak dini. Pertaruhan dimulai. Orangtua akan disibukan proses tarik ulur. Semua yang dilakukan oleh anak, mereka usahakan agar tidak lepas dari tanggungjawabnya sebagai orangtua dalam hal peran dan fungsi.

Fase ini bagi remaja, mereka cenderung mengeksplorasi hal-hal yang dalam frame keluarga dianggap sebagai hal baru, terlepas hal tersebut baik atau buruk. Permasalahan yang muncul kemudian adalah; Apakah orangtua akan terlalu kencang menarik, atau terlalu kendor mengulur remajanya, terhadap hal-hal baru tersebut?

Jika kita mengkontekstualisasinya dengan konsep Tiger Parenting (Amy Chua-Battle Hymn Of Tiger Mother), ada dua metode pola asuh anak. Model timur yang cenderung tegas dan keras, serta model barat yang suportif dan santai. Dalam bukunya, Amy Chua bercerita tentang keberhasilannya menerapkan pola asuh model timur.

Metodenya yang cenderung otoriter sukses mencetak kedua putrinya berprestasi di bidang akademik. Terlepas dari dampak psikologisnya, Sophia dan Lulu (putri Amy Chua) terkesan samasekali tidak merasa tertekan dengan pemaksaan kehendak ala Tiger Mom-nya.

Lantas, efektifkah pola pengasuhan ini terhadap sebagian besar remaja lain, yang notabene sibuk mencari kebebasan? Padahal, Tiger Parenting terkesan tidak memberi ruang untuk tumbuh dan berkembang baik secara mental, emosional maupun secara sosial dalam pergaulan remaja? 

Dikutip dari utexas.edu, Su Yeong Kim, Associate Professor untuk bidang Human Development and Family science di University of Texas, lewat penelitiannya mengungkapkan bahwa persepsi orang tua Cina-Amerika tentang Tiger Parenting dapat memproduksi anak ajaib adalah tidak akurat.

Bahkan sebaliknya, studi longitudinalnya selama delapan tahun itu menunjukan, bahwa keluarga Cina-Amerika yang memodel pola suportif dan santai berhasil lebih optimal baik dari segi penyesuaian akademik dan sosio-emosional pada remaja Cina-Amerika.

Kesimpulannya, para "anak macan" lebih sulit beradaptasi, terisolasi dalam keluarga ketimbang anak-anak dari orangtua yang lebih suportif dan santai.

Namun, tidak sedikit orangtua yang kelewat menarik remaja kepada kehendak tendensiusnya dengan sudut pandang kolot. Dampaknya bagi remaja adalah, matinya kreatifitas mereka ketika menghadapi persoalan. Remaja akan terkesan fatalistis, semua terserah “restu orangtua".

Refleksi dari dinamika orangtua-remaja itu, jika melihat trend di Indonesia sekarang, adalah para remaja yang terkungkung oleh proteksi orangtua dari apa yang seharusnya menjadi dunianya, cenderung melakukan pelarian dari realita. Ada banyak hal yang menjadi bahan pelarian dari kesendirian, dari yang positif hingga negatif.

Mungkin, hal paling sederhana yang dilakukan remaja terhadap sikap otoriter orangtua dapat dilihat dari isi kamarnya, serta koleksi barang pribadinya. Jika orangtua menengok, barang-barang yang remajanya miliki pastilah simbol dari kebebasan dan idealisme. Remaja akan dengan senang hati mengikuti trend simbol-simbol yang mereka koleksi itu.

Spesifiknya tentang kebebasan dan idealisme tadi, pastilah sebagian besar simbol-simbol koleksi para remaja adalah dari kalangan seniman atau profesi lain yang memainkan sisi kreatifitas, dimana hal itulah yang remaja idamkan. Dan seniman itulah pahlawan-pahlawan utopis mereka.

Lebih realistis lagi, ekspresi remaja dapat dilihat dari musik apa yang mereka dengarkan, dengan berbagai alirannya. Bahkan tidak sedikit, remaja yang secara ekslusif mengakumulasi apa yang mereka rasakan dengan pesan yang dibawakan musisi mereka, lewat aktualisasi kesehariannya.

Dan, dari bermacam genre, musik rock-lah yang menjadi media paling mewakili keterbukaan dan kejujuran terhadap diri sendiri, mewakili ketertindasan, subversif dan idealisme remaja. Tanpa harus secara vulgar-superfisial menyampaikan ketidaksepahamannya terhadap metode orangtua memperlakukan mereka.

Agak terkesan subjektif memang. Namun faktanya, musik rock semakin digandrungi remaja, sebagai alternatif dari kebosanan mereka dengan musik pop yang diam-diam membosankan. Masuknya musik rock kedalam playlist remaja Indonesia dewasa ini, sudah semacam “fardhu 'ain" prioritasnya.

Didalam negri, semangat idealisme remaja tercermin kuat lewat mantra-mantra lagu lawas milik Godbless, atau rockstar yang lebih muda, Superman Is Dead, Navicula, Slank, dan lain-lain. Di sudut Indonesia manapun, pasti penonton mereka berjubel tak karuan.

Bagi remaja yang mengalami dilema dalam hubungannya dengan keluarga, mendengarkan mantra musik rock seolah menjadikan mereka lebih merasa aman dan mantap dengan tanggungjawab terhadap diri mereka sendiri. Tak jarang, banyak remaja kemudian secara total mempelajari musik secara umum, khusunya musik rock. Mereka mulai memilah-milah instrumen musik untuk ditekuni.

Ironisnya, kadang keputusan remaja belajar musik untuk menyalurkan kreatifitas, tidak direstui orangtua. Dalil orangtua untuk melarang terkesan klise. Mereka hanya melihat musisi sebagai simbol kebebasan semu, entah itu perilaku seksnya, tatto-nya,  ketergantungannya terhadap obat-obatan, atau bentuk arogansi lain, tanpa mempertimbangkan substansi berkesenian.

Terpaksa, para remaja mengubur impiannya itu karena terbentur "restu bapak", yang lebih menghendaki anaknya menjadi PNS, daripada berwirausaha kreatifitas yang tidak menjamin kelangsungan masa depannya.

Orangtua, kadang lupa untuk mengembalikan peran dan fungsinya, sebagai perlindungan dan tempat pulang bagi remaja yang memiliki impian dan cita-cita, yang telah melalui tafakur yang mendalam. Padahal, remaja sangat membutuhkan dukungan orangtua terhadap apa yang merupakan passion mereka.

Para orangtua seharusnya, lewat kekuatan peran dan fungsinya dapat secara bijak bersikap, dengan mengiringi remaja mereka itu, yang mungkin sebagian besar masih ragu, tentang apakah yang mereka geluti adalah benar-benar apa yang mereka inginkan, untuk nantinya berprestasi dan berkarier disana.

Sebaliknya, seperti yang lazim terjadi sekarang. Di titik remaja ragu terhadap dirinya sendiri itu, bukan dukungan yang didapat, malah rasa takut yang disodorkan oleh orangtua. Padahal, rasa takut seringkali berkembang menjadi rasa takut lain, begitu seterusnya hingga remaja dipecundangi hidupnya sendiri.

Juga saking kuatnya hegemoni "harus manut" yang ditancapkan orangtua terhadap remaja. Hilanglah idealisme, hampir tak bersisa. Yang tersisa tinggal impian orangtua. Lantas, menjadi apa yang orangtua kehendakilah, kiranya cara remaja paling efektif, dalam menjalani hidup tanpa teror keluarga.

Beruntung bagi remaja yang secara total didukung oleh orangtuanya, hal apapun, khususnya musik. Indonesia sempat dibuat bangga dengan tampilnya Joey Alexander, dalam acara Grammy-nya Amerika. Mereka menjulukinya sebagai Indonesian Prodigy. Pianist dan jazzer yang didukung penuh oleh orangtuanya sejak kecil ini, mendapat standing aplause penonton.

Syahdan, sampai saat ini belum ada Joey Alexander lain di genre rock. Padahal jika dihitung, remaja jazzer tidak lebih banyak dari remaja rocker di Indonesia.

Regenerasi rockstar yang sukses dalam skala nasional seolah kalah bersaing dengan musisi subgenre lain. Rock seolah menjadi panggung yang terlalu buruk untuk perkembangan mentalitas serta sosio-kultur remaja. Superman Is Dead keliling Amerika pun seolah bukan menjadi headline menarik beberapa tahun lalu.

Lagipula Bapak bilang, lebih baik jadi PNS daripada menjadi arogan seperti Superman Is Dead.

  • view 169