Si Cuek Mengejar Si Cuek

Ananta Damarjati
Karya Ananta Damarjati Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 31 Juli 2016
Si Cuek Mengejar Si Cuek

Mulut Sri memang layaknya rubrik opini surat kabar, kata yang keluar dalam 24 jam bisa dihitung. Bertanya dia jarang. Menjawab pun bisa ditebak, karena dia selalu fokus hanya pada pertanyaan, tanpa pernah menampilkan dalam benaknya, tentang yang orang lain tanyakan. Alhasil, kata yang keluar tak jauh dari jawaban; ya, tidak, belum dan sudah, yang dia sertakan senyum kalau dia mau. Kejiwaan yang agak aneh memang.

Kejiwaannya itu membuatnya selalu tampak suram di depan pria, termasuk Sastro, tetangga rumah yang dua bulan lalu muncul dalam hidupnya, yang sejak cerita ban bocor itu mereka baru sadar kalau bertetangga.

Sri sadar bahwa dirinya tak paham arti penting penggunaan basa-basi, yang baginya hanya menjauhkan hal dari realita. Sri memang payah. Menerima janji bertemu dengan Sastro saja seperti menerima perintah atasan. Untungnya Sastro lebih teguh tekad.

Sastro tak pernah tahu, Sri sebenarnya juga sangat antusias dengan kesan pertama pertemuan, karena hanya mendapat persetujuan yang datar darinya. Satu minggu Sri mempersiapan untuk menutupi kekurangannya dalam bercakap-cakap. Dia juga bermaksud menciptakan dialog yang menarik dengan Sastro. Dia memang sedang ingin tahu lebih banyak tentang Sastro, yang dahulu pernah menolongnya ketika ban motornya bocor.

******

Hari itu, Sastro agaknya sadar bahwa Sri kikuk ketika menjawab rentetan pertanyaannya, di sebuah rumah makan. Sastro sempat seperti kehabisan ide berdialog di beberapa sesi, karena jawaban-jawaban Sri yang terlampau fokus itu. Sri memang terkesan cuek saja, latihannya untuk berbasa-basi seminggu yang lalu, tak mengubah keadaan sifat hematnya berbicara. Sri memang payah.

Percakapan mereka berlanjut pada pesan singkat malam harinya.

“Kau ingat ketika ban motormu bocor?” Tanya Sastro memulai.

“Ingat, Mas”

“Hari itu, kau tampak seperti bocah yang permennya jatuh ke pasir, lucunya kau waktu itu!”

“Haha, iya” Sri menjawab singkat..

“Tadi tempatnya asyik ya!! Ternyata kamu gak suka pedas ya?”

“Gak, Mas!”

“Hmm, yaudah”.

“Iya, Mas”

Sastro tak melanjutkan pesan singkatnya. Dia letakkan handphone itu di meja. Di pandang langit-langit kamarnya sambil bergumam,

“Dua bulan aku berusaha cerewet, dan itu menipu diriku. Menipu diri memang kebodohan di atas kebodohan”

“Ah, diri! Kembalilah! Kembalilah lagi untuk menghitung kata yang keluar dari mulut, tak usah beralasan untuk melakukan hal bodoh”

Sastro mengambil handphone-nya lagi, dengan senyum kuda dia bergumam:

“Aku tak berharap setelah ini, setelah kau tak tangkas menjawab ‘hmm, yaudah’ ku barusan” .

*******

Sastro tak berharap lagi pada Sri. Lebih tepatnya berusaha melupakan. Dia tenggelamkan dirinya dalam rutinitas kuliahnya, tugas-tugas, berdagang bakso, serta bertetangga.

Senin pertama setelah hari minggu terakhir bulan Mei, Sastro jumpa dengan Mbahkung Pram, dalam kegiatan kerja bakti mingguan. Banyak yang diceritakan orang sepuh itu, dan diamini Sastro. Mbahkung Pram benar-benar menghantui pikiran Sastro ketika membicarakan wanita. Beliau benar, wanita lebih suka mengabdi pada kekinian dan gentar pada ketuaan. Mereka dicengkeram oleh impian tentang kemudaan yang rapuh itu dan hendak bergayutan abadi pada kemudaan impian itu. Umur sungguh aniaya bagi wanita.

Sepulang kerja bakti dan diskusi kehidupan dengan Mbahkung Pram. Sastro pulang dengan seribu pertanyaan dalam benak. Dalam-dalam ia renungkan nasehat Mbahkung itu. Setelahnya, Sastro langsung memantapkan diri dan bergegas menuju rumah Pak RT. Dia hendak mengadu tentang Embah Markonah, nenek-nenek tua, ratu rumpi yang doyan desas-desus. Yang selama ini mengusik masa muda Sastro dengan segala potensinya. Tidak jelas apa yang diharapkan Embah Markonah kepada Sastro. Untuk sementara Sastro menilai; Embah Markonah murni mencari perhatian, agar tampak muda.

Sastro sudah satu tahun ini akrab dengan anekaria fasisme Embah Markonah, yang selalu membanding-bandingkan Sastro yang pedagang bakso dengan kisah anak muda sukses yang beliau lihat di sinetron. Bayangkan saja, anak muda 22 tahun dibebani bermacam tuduhan oleh ahli fitnah wal jamaahnya Embah Markonah. Dengan fasisme berlebihan terhadap Sastro oleh para tetangga, jelas Sastro kalah suara. Apalagi perbandingan yang disebarluaskan Embah Markonah sangat absurd.

Di rumah Pak RT, Sastro banyak diceritai tentang masa muda Embah Markonah. Kala muda, ternyata dia memang angkuh sejak dalam pikiran, kecantikan masa mudanya membuat Embah Markonah sering lupa daratan, menganggap remeh gadis-gadis di desa juga pria-prianya, termasuk Pak RT. “Bagi Markonah muda, hanya dirinyalah yang pantas disematkan kata ratu cantik sejagad” Terang Pak RT. Bahkan berlaku sampai sekarang, ketika Embah Markonah umurnya sudah karatan.

Sastro si penjual bakso itu semakin jembar hatinya mendengar cerita Pak RT. Mengetahui orang seumur Embah Markonah yang masih gila eksistensi serta merasa masih muda itu, Berkata dia pada Pak RT, “Ah, ternyata selama ini beliau hanya teraniaya umur, masa mudanya yang tak pernah kembali itu sekarang beliau isi dengan memperbesar suara, guna memompa keterkenalannya agar tak luntur”.

Pak RT hanya mengangguk mengiyakan. Sastro, dengan sandaran rumus matematis-empiris, membuat kesimpulannya tentang Embah Markonah.

“Wanita tua adalah akumulasi perasaan “masih muda” yang menjadikannya sangat fasis radikal, dengan jalan fitnah-fitnah kejam yang dilakukan terhadap orang lain yang lebih muda, serta dengan menutup kekurangan sendiri menggunakan kebohongan satu, dua, dan seterusnya”.

“Haha, setidaknya kesimpulan ini cukup untuk membenarkan kehidupanku selanjutnya. Umur memang musuh utama wanita. Dan Embah Markonah menghianati umurnya. Ah, ingat, Embah!! Kau sudah tidak muda!! Perbanyaklah amal saja yang bermanfaat”. Sastro bergumam lirih dalam hatinya.

Entah angin apa yang melewati Sastro, tiba-tiba saja dia teringat dengan Sri, gadis desa dambaannya. Sri, dengan segala keangkuhan dan segala hal yang Sastro tahu, ternyata hampir sama tata statusnya di masyarakat dengan Embah Markonah muda, seperti cerita-cerita Pak RT.

“Berarti Embah Markonah dulu hampir sama dengan Sri, putrinya Pak Rembes itu, Pak RT?” Tanya Sastro iseng.

“Hmm, ya. Bisa jadi pula, ada potensi Sri tua akan sebagaimana Embah Markonah sekarang”.

“Ah, tidak. Tidak akan ada argumen matematis-empiris yang dapat menyimpulkan bahwa Sri akan seperti Embah Markonah yang sekarang, Pak RT. Dia masih punya potensi lebih dari sekedar nenek fasis” Cergah Sastro buru-buru.

“Nak Sastro!! Ukuran tidak melulu sains matematis-empiris. Cobalah sudut pandang lain, sosio-historis misalnya. Boleh jadi, Sri kelak akan sama fasisnya dengan Embah Markonah, karena dari sisi sejarah superioritas mereka sama dan sebangun ketika menyikapi lingkungan mudanya. Bisa jadi, diskoneksi antara pikir dan bibir Sri nantinya lebih dahsyat dari Embah Markonah.”

“Ah, Pak RT mengada-ada, masak iya Sri akan juga menghindari realita umur seperti Embah Markonah?”.

“Ya, pada saatnya nanti pasti terjadi. Umur akan menjadikan Sri melakukan pelarian-pelarian seperti yang Markonah sekarang lakukan kepadamu, sejarah yang akan menjadi saksi. Sudahlah, jangan punya harapan sedikitpun pada Sri”

Sastro tidak menanggapi, hanya dalam hati dia berkata “Ah, Pak RT!! Tau apa sampeyan tentang Sri?”.

  • view 176