Agar Marahmu Menjadi Berkahmu

Khoirul Anam
Karya Khoirul Anam Kategori Motivasi
dipublikasikan 02 Juni 2016
Agar Marahmu Menjadi Berkahmu

Marah adalah kondisi di mana hati tidak lagi terintegrasi dengan emosi. Dalam kondisi ini, seseorang cenderung akan melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kata hati; negatif. Dalam beberapa kasus, marah nyatanya tidak selalu membutuhkan alasan, laiknya ‘latar belakang’ masalah yang kemudian diteruskan dengan ‘rumusan masalah’ ala penelitian.

Orang bisa saja marah secara tiba-tiba, belakangan bahkan ada semacam fenomena di mana marah dijadikan sebagai pekerjaan rutin; mencari nafkah dengan jualan marah.

Namun tahukah anda, seperti halnya ekspresi diri lainnya, marah rupanya juga mengandung energi. Yakni energi yang dapat diolah menjadi kreasi.  Karenanya jangan sepelekan marah, jika  anda dapat mengelolanya dengan baik, marahmu akan menjadi berkahmu. Sebaliknya, jika marah justru diumbar, anda akan menjadi pribadi yang kasar dengan kewarasan yang sudah buyar.

Untuk marah yang terjadi begitu saja, tanpa ada sebabnya, cara terbaik untuk mengolahnya adalah dengan diam, stay cool. Rasul dulu sempat berpesan, jika sedang marah, cobalah duduk. Jika masih marah, cobalah berbaring, belum berhasil? Wudlu dan beribadahlah.

Sementara untuk marah yang dikarenakan suatu hal, maka treatment-nya berbeda. Anda harus dapat menentukan ‘apa’ and ‘mengapa’-nya; apa yang membuat anda marah? mengapa ‘apa’ itu bisa membuat anda marah?

Sebaga contoh; ketika anda membaca serentetan berita/postingan di media online tentang Islam yang terus-terusan ditampilkan dalam wajah-wajah kasar nan penuh kebencian, tentu hal itu akan membuat anda resah. Terutama karena anda yakin bahwa Islam tidak seperti itu; kasar dan penuh kebencian. Sebaliknya, Islam adalah agama damai yang bermuara pada kebaikan.

Perasaan resah itu jika dibiarkan terus akan naik level menjadi marah. Dalam kasus ini, anda marah karena ada oknum yang menjelek-jelekkan Islam dengan gambaran yang sangat salah. Oke, unsur ‘apa’ sudah ketemu. Tapi, kenapa anda harus marah? Bukankah pemberitaan provokatif itu terlalu kecil untuk menggoyahkan iman anda? Anda pun sepertinya tidak akan terpengaruh dengan provokasi kelas teri itu, jadi, kenapa marah?

Bisa jadi, anda marah karena ini bukan hanya tentang anda, tetapi tentang banyak orang lainnya. Anda bisa saja tidak terpengaruh oleh pemberitaan negatif itu, tapi belum tentu orang lain akan bernasib semujur itu. Jika demikian, maka unsur ‘kenapa’ telah ketemu.

Mengetahui unsur apa dan mengapa sangat penting, karena keduanya merupakan pijakan utama untuk melangkah ke stage berikutnya; bagaimana. Bagaimana mengolah marah agar menjadi berkah?

Satu, pastikan bahwa marahnya selesai di sini. Itu artinya anda tidak boleh terus-terusan marah, atau bahkan memancing pihak lain agar ikutan marah. Dua, it’s a payback time! Saatnya pembalasan…

Membalas marah harus apple to apple; jika anda marah karena tulisan miring tentang Islam, maka anda harus membalasnya dengan tulisan pula. Bukan tulisan miring tentunya, tapi tulisan yang menunjukkan bahwa Islam tidak semiring tuduhan orang. Dengan begini, marah anda akan lebih elegan, dan tentunya menjadi berkah untuk anda.

Sebagai catatan, apple to apple di sini harus selalu bermakna positif. Jika anda marah karena anda dimaki-maki oleh orang, maka apple to apple­­-nya bukan dengan balas memaki, karena jika anda balas memaki, anda tidak ada bedanya dengan si pemaki yang pertama. Sampai sini anda sudah tidak punya alasan untuk marah, karenanya anda lah ‘marah’ itu.

Balaslah makian dengan bukti. Jika anda dimaki karena kesalahan yang anda lakukan, balaslah dengan membuktikan bahwa anda mampu memperbaiki kesalahan tersebut. Bukannya malah menambah kesalahan dengan memaki balik.

Dus, jika ingin atau harus marah, maka marahlah. Tapi pastikan marah anda elegan, tidak urakan dan berlebihan, tentu agar marahmu menjadi berkahmu..

  • view 221