Ketika Puan Maharani Menari dan Bernyanyi

Rico Sinyoman
Karya Rico Sinyoman Kategori Budaya
dipublikasikan 11 Desember 2017
Ketika Puan Maharani Menari dan Bernyanyi

Puan Maharani mencintai seni.

Tersebab itulah, sebagai bentuk apresiasi Puan Maharani untuk seni dan segala hal yang berkaitan dengan kebudayaan, ia tak jarang menerima permintaan untuk menari dan menyanyi. Keduanya memang tidak dipelajari Puan Maharani, ia tidak ahli. Tapi itulah wujud apresiasi dan penghargaannya atas budaya dan seni.

Kepedulian Puan Maharani terhadap seni dan budaya tampak dalam beberapa pernyataan serta program dan kebijakannya. Seperti pernyataan Puan Maharani bahwa seni dan budaya adalah “ruh” kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Hal itu disampaikan dalam sebuah helatan tahunan berupa Pesta Kesenian Bali ke-39 di Taman Terbuka Ardha Chandra, Denpasar, Bali.

Seni dan budaya merupakan potensi bangsa yang perlu ditingkatkan, seperti yang disampaikan Puan Maharani pada acara gelar budaya Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang digelar di Taman Blambangan, Banyuwangi. Termasuk juga salah satu yang membanggakan adalah ketika Indonesia menjadi tamu kehormatan pada Festival Seni Budaya Europalia di Brussel, Belgia, 10 Oktober 2017 lalu, dan Puan Maharani menjadi salah satu sosok yang paling berperan.

Sebagai wujud kecintaan Puan Maharani terhadap seni adalah penghargaan dan rasa cintanya terhadap karya anak bangsa sendiri. Puan Maharani tak bisa dipisahkan dari batik dalam kesehariannya, atau kebaya ketika menghadiri acara pesta. Puan Maharani juga menari dan bernyanyi, sebagai wujud penghargaan untuk seni, atau untuk orang-orang yang mendedikasikan hidupnya untuk seni.

Puan Maharani, barangkali, tak bisa menari. Tapi Puan Maharani menjadi orang yang paling bersemangat untuk menari ketika berkaitan dengan program kebangsaan seperti untuk gerakan nasional revolusi mental (GNRM), misalnya. Kita masih ingat ketika Puan Maharani menarikan sebuah tarian yang berasal dari Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) bernama Gemu Fa Mi Re di Stadion Manahan Solo.

Selain itu, Puan Maharani mencintai mereka yang menghabiskan hidupnya untuk seni dan kebudayaan. Hal ini bisa dilihat ketika Puan Maharani bela-belain untuk menghadiri acara yang bertajuk In Memoriam Benny Pandjaitan, sebagai penghargaan atas salah satu musisi legendaris Indonesia yang ikut membesarkan Band Panbers itu. Pada acara tersebut, Puan Maharani membawakan dua lagu karya Panbers, yaitu “Akhir Cinta” dan “Terlambat Sudah”.

Sekali lagi, mungkin, Puan Maharani tak terlalu pandai menari dan menyanyi. Ia bisa, namun tidak ahli. Tapi penghargaannya terhadap seni dan kebudayaan tidak perlu dipertanyakan, bahkan apresiasi Puan Maharani terhadap orang-orang yang mencintai seni dan keindahan juga begitu besar.

Pastinya: Puan Maharani mencintai kebudayaan dan seni. Kerja untuk keduanya, telah banyak ditunjukkan Puan Maharani melalui berbagai program dan kebijakan yang memungkinkan mengangkat kembali kejayaan seni dan kebudayaan Indonesia. Minimalnya, Puan Maharani (selalu) berupaya untuk mempertahankan kekayaan dan khazanah kesenian bangsa.

  • view 99