Puan Maharani: Rumah Sakit Jangan Mata Duitan!

Rico Sinyoman
Karya Rico Sinyoman Kategori Kesehatan
dipublikasikan 18 September 2017
Puan Maharani: Rumah Sakit Jangan Mata Duitan!

Siapa pun tahu, bahwa menjadi tenaga atau instansi yang berkaitan dengan kesehatan itu adalah tugas kemanusiaan. Jadi, apapun bentuknya, lebih-lebih dalam keadaan darurat, harus berada di bawah nilai-nilai kemanusiaan, termasuk yang berkaitan dengan prosedur, apalagi hanya persoalan biaya dan uang.

Kesembuhan, keselamatan, dan nyawa harus menjadi pertimbangan pertama dan utama. Tak ada yang bisa mendahului itu! Tak ada!

Masalahnya, akan sangat mengecewakan ketika seorang tenaga atau sebuah instansi kesehatan lebih mendahuluan uang ketimbang tertolongnya nyawa seseorang. Ini ironis. Paradoks. Tapi, fakta itulah yang ditemukan atas peristiwa meninggalnya bayi Debora, yang diketahui, berdasarkan pengakuan orang tuanya, tidak diperlakukan dengan semestinya karena tidak mampu membayar.

Itulah yang menjadi kekecewaan dan ketidak-pahaman Puan Maharani atas keberadaan Rumah Sakit mata duitan. Ini bukan yang pertama kalinya terjadi, karena kita memang kerap mendengar atau membaca berita tentang pasien tak punya uang yang akhirnya terpaksa kecewa dan tidak diterima oleh Rumah Sakit tertentu.

Lalu apa maksudnya? Kesehatan dan sembuh itu hanya milik orang yang mampu dan kaya saja? Tentu ini adalah pengingkaran atas nilai-nilai kemanusiaan, dan mencederai fungsi rumah sakit itu sendiri. Perlakuan rumah sakit yang mengutamakan soal pembayaran pasien dianggap, tentu saja, telah menyalahi prinsip utama mereka untuk bantuan kemanusiaan.

"Rumah sakit yang beroperasi di Indonesia (harus) lebih mengutamakan keselamatan pasien dalam kondisi darurat dibanding mempertimbangkan hal-hal yang bersifat komersil," Tegas Puan Maharani dalam sebuah wawancaranya.

Puan Maharani tentu saja merasa kecewa ketika ada Rumah Sakit yang lebih mendahulukan kepentingan finansial seperti itu. Apalagi sampai menjadi sebab-musabab terjadinya kematian karena “diterlantarkan”. Hal semacam ini tentu saja harus dihentikan. Rumah Sakit harus kembali kepada khittahnya sebagai pelayan kesehatan. Tentu saja tak mungkin menafikan pembiayaan, tapi perlu melakukannya dengan cara-cara yang tidak menafikan kemanusiaan.

Puan Maharani prihatin atas peristiwa tersebut. Rasa empati dan simpatinya ditunjukkan dengan mengucapkan belasungkawa dan doa, sekaligus pada saat yang bersamaan menginstruksikan kepada Kemenkes untuk segera melakukan evaluasi terhadap SOP di Rumah Sakit, karena bagaimanapun, tugas tenaga atau instansi kesehatan adalah memberikan pelayanan terhadap kemanusiaan.

Komitmen Puan Maharani jelas, bahwa jangan sampai ada anak tak berdosa yang sedang sakit menderita, meregang nyawa hanya karena biaya. Soal nyawa, memang Tuhan yang kuasa, tapi tidak kemudian menghilangkan upaya. Jangan sampai ada Rumah Sakit yang mata duitan!. Tegas Puan Maharani mengharapkan.

  • view 26