Cerita Puan Maharani dan “Kartu Sakti”

Rico Sinyoman
Karya Rico Sinyoman Kategori Politik
dipublikasikan 13 Juni 2017
Cerita Puan Maharani dan “Kartu Sakti”

 Seperti diketahui, sejak dikeluarkannya “Kartu Sakti” sebagai senjata utama pemerintahan Jokowi-JK untuk menghadirkan negara dalam kehidupan rakyat Indonesia, Puan Maharani adalah sosok yang selalu tampil untuk menjadi bagian penting dalam penyebaran dan implementasinya. Dalam banyak kesempatan, baik ketika mendampingi atau mewakili Presiden, Puan Maharani tampil ciamik sebagai sosok representatif atas keberhasilan pembagian kartu-kartu tersebut.

Tentu dengan tanpa menafikan peran dan tugas dari pihak-pihak lainnya, tapi Puan Maharani adalah sosok yang begitu intens dalam upaya menyukseskan salah satu program utama pemerintah tersebut. Kemampuan koordinasi Puan Maharani mampu mengomunikasikan dan menjembatani berbagai perbedaan, termasuk konflik kepentingan yang mengarah para “ego sektoral”.

Posisinya sebagai Menteri Koordinator yang membawahi Kemendikbud (KIP), Kemenkes (KIS), Kemensos (PKH) atau pada Kementerian Teknis lain yang berada dalam garis koordinasinya mampu menjadi “titik koordinatif” sebagai pijakan utama dalam menentukan arah dan langkah pembangunan dalam konteks manusia dan kebudayaan. Sehingga tidak aneh ketika, dibandingkan dengan Menko yang lain, Puan Maharani lebih sering menemani Presiden dalam melakukan kunjungan ke daerah-daerah karena memang, pemerintah ingin pembangunan manusia dan kebudayaan juga diutamakan.

Maka, berbicara tentang “Kartu Sakti” ada sosok Puan Maharani mempunyai peran besar dalam upaya aplikasi dan implemantasinya di lapangan. Bukan hanya menjadi “tukang bagi-bagi” saja, tapi Puan Maharani dan Kementerian yang dipimpinnya juga terlibat secara intens dalam memberikan solusi konseptual, terutama yang berkaitan dengan data penerima manfaat, yang sempat menjadi polemik.

Cerita Puan Maharani dan “Kartu Sakti” yang menjadi andalan Jokowi adalah cerita tentang pengabdian dan wujud representatif bagaimana menghadirkan negara dalam konteks jaminan sosial yang berkelanjutan bagi rakyatnya. Jadi, tak bisa menafikan peran dan kerja Puan Maharani dalam upaya menyukseskannya.

Untuk “Kartu Sakti”, Puan Maharani berada di garda terdepan sebagai pihak yang terus mengupayakan, bahwa bantuan sosial ini bisa benar-benar bermanfaat, yaitu tepat sasaran sekaligus tepat ketika digunakan. Tepat sasaran menjadi penting karena berkaitan dengan keadilan, yang berhak harus didahulukan. Tepat ketika digunakan, berkaitan dengan edukasi masyarakat agar apa yang didapatkan digunakan sesuai kebutuhan.

Prinsip itulah yang selalu ditekankan oleh Puan Maharani. Tepat sasaran adalah tugas dari pemerintah, sementara tepat ketika digunakan adalah tugas penerima manfaat.

  • view 44