Hidup Toleran dan Berkeadaban: Ide Besar Puan Maharani

Rico Sinyoman
Karya Rico Sinyoman Kategori Politik
dipublikasikan 18 Mei 2017
Hidup Toleran dan Berkeadaban: Ide Besar Puan Maharani

Dalam konteks kepemimpinan, maka seorang pemimpin harus bisa melebur terhadap kelompok dan entitas manapun. Ia tidak bisa menciptakan kotak-kotak tertentu untuk membatasi keberpihakannya. Meski Indonesia dipenuhi dengan berbagai perbedaan, kesemuanya itu diletakkan dalam “kotak besar” bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan Pancasila sebagai ideologinya. Maka, tugas pemimpin adalah berdiri di atas universalitas. Boleh saja ia berbeda, tapi tugasnya adalah untuk merekatkan persamaan dalam membangun dan menjaga keutuhan bangsa.

Itulah yang dilakukan Puan Maharani ketika menghadiri perayaan Waisak 2561 BE di Auditorium Buddhist Building Indonesia.

Artinya, Puan Maharani, dalam posisinya sebagai Pejabat Negara, telah mampu berdiri di atas semua golongan dengan tanpa mempersoalkan perbedaan keyakinan. Puan Maharani menunjukkan sikap toleran terhadap sesama anak bangsa, apapun perbedaan yang dimiliki, dan lebih mengedepankan persamaan untuk kepentingan yang jauh lebih besar dan urgen. Puan Maharani seorang muslim, tapi tak menunjukkan “egoisme-agama” yang dianutnya ketika berbicara di depan umat Budha.

Pada titik itulah, Puan Maharani, ingin menunjukkan kepada kita semua, bahwa bukan hanya karena negara menjamin umat beragama menjalankan keyakinannya secara baik dan nyaman, tapi juga bahwa prinsip-prinsip toleransi dan saling menghormati antar sesama anak bangsa harus terus dipupuk dan ditingkatkan, terutama ketika saat ini, berbagai perbedaan yang sebenarnya bisa dikomunikasikan, mencuat ke permukaan dan menjadi ancaman serius karena mampu menciptakan friksi-friksi yang mengganggu kedamaian bangsa.

Pada kesempatan itu, Puan Maharani, berdiri sebagai sesama anak bangsa mengajak seluruh umat Budha untuk ikut memberikan sumbangsih dalam membangun bangsa yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. Cita-cita ini adalah agenda besar, yang membutuhkan kerjasama dan gotong royong dari segenap elemen bangsa, apapun perbedaan yang dimilikinya.

Puan Maharani juga mengajak untuk menjadikan Hari Suci Waisak sebagai momentum untuk melaksanakan nilai-nilai luhur bangsa, termasuk untuk menjaga sesanti yang ditulis dalam kitab Sutasoma, “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Apapun perbedaan yang muncul, tidak bisa dijadikan alasan untuk lahirnya sekecil apapun perpecahan, karena nilai-nilai kehidupan bangsa ini, sama sekali tidak bertentangan dengan agama apapun.

Dalam konteks ini, kita bisa melihat ide besar Puan Maharani untuk menciptakan perdamaian dan rasa nyaman antar umat beragama, yaitu dengan kembali pada nilai-nilai luhur bangsa, terutama pentingnya hidup beragama dengan menjaga toleransi dan berkeadaban dengan saling menghormati dan menghargai masing-masing perbedaan. Puan Maharani menekankan pentingnya menjaga konsistensi atas pembelaan kita terhadap ideologi bangsa sehingga menjadi “payung besar” untuk melindungi dan merawat segala bentuk perbedaan yang ada.

Ide besar Puan Maharani, selalu kontekstual untuk negeri.

  • view 74