Puan Maharani: Menteri Peduli Dunia Pesantren

Rico Sinyoman
Karya Rico Sinyoman Kategori Politik
dipublikasikan 06 Mei 2017
Puan Maharani: Menteri Peduli Dunia Pesantren

Puan Maharani menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia pesantren –sebagai lembaga pendidikan tertua yang memiliki sumbangsih besar dalam proses perjuangan kemerdekaan Indonesia sekaligus lembaga yang menelurkan banyak tokoh dengan ide, gagasan, dan kerja besar untuk bangsa ini– dengan mempertimbangkan hadirnya negara dalam menyejahterakan dunia pesantren melalui KIP, dan termsuk juga kesehatan untuk para santri.

Hal ini disampaikan Puan Maharani ketika menandatangi nota kesepahaman (MoU) antara Kemenko PMK dengan PBNU, sebagai bentuk kerjasama pemerintah untuk semakin menggalakkan semangat revolusi mental di kalangan masyarakat, termasuk di dunia pendidikan. Kerjasama dengan PBNU ini sangat strategis terutama ketika melihat, bahwa NU mempunyai basis massa terbesar hingga ke pelosok-pelosok plus kekuatan pesantren sebagai trademarknya. Setidaknya ada sekitar 22 ribu pesantren NU di seluruh Indonesia.

Seperti kita tahu, selama ini Kartu Indonesia Pintar (KIP) hanya menyasar mereka yang menjadi peserta didik di sekolah-sekolah formal. Sementara santri, sebagai bagian tak terpisahkan dari term anak didik, tidak mendapatkan jatah sebagai penerima manfaat. Padahal dari segi substansi, harusnya santri juga perlu dipertimbangkan untuk mendapatkan KIP sehingga sebarannya merata dan tidak terkesan “diskriminatif”.

Dengan adanya terobosan ini, Puan Maharani menginginkan agar dunia pesantren juga menjadi sasaran penerima manfaat dari KIP, sehingga dapat meringankan beban dan biaya pendidikan anak didik sebagaimana maksud dan tujuan awalnya. Selain itu, Puan Maharani juga mempertimbangkan pentingnya pelayanan kesehatan di dunia pesantren. Hal ini menjadi penting karena kesehatan menjadi syarat penting dalam konteks pendidikan sehingga nantinya santri akan sehat jasmani sekaligus rohani.

Kalau ini bisa direalisasikan, maka akan menjadi terobosan penting dalam mendukung berkembang dan majunya dunia pendidikan di Indonesia. Terutama, dalam konteks ini, Puan Maharani menginginkan tidak ada perbedaan perlakukan antara pendidikan yang formal dengan pesantren. Puan Maharani menyadari peran strategis dunia pesantren sehingga tidak tepat kalau menjadikannya sebagai pendidikan “kelas dua”.

Kepedulian ini, tidak hanya bisa kita maknai sebagai semangat untuk ikut memajukan dunia pesantren di Indonesia, tapi sebuah kesadaran yang purna dari sosok Puan Maharani, bahwa pesantren adalah bagian tak terpisahkan dari proses perjalanan panjang bangsa ini. Pesantren lahir dari rahim bangsa, ikut memperjuangkan kemerdekaan bersama, dan tokoh-tokohnya mempunyai pengaruh besar terhadap Indonesia dengan ide, gagasan, perjuangan, dan kerja nyatanya di lapangan.

Sehingga, tidak adil rasanya “menomorduakan” dunia pesantren dalam perlakuan kebijakan pendidikan. Karena mengacuhkan pesantren, sama saja dengan tidak menghargai tokoh-tokoh ulama dan kyai yang berjasa bagi bangsa Indonesia ini. Begitulah Puan Maharani yang mempunyai kepedulian tinggi pada pesantren. Meski dirinya tidak pernah nyantri di pesantren, tapi Puan Maharani sadar dengan kewajibannya untuk ikut merawat dan menjaga keberlangsungan dunia pendidikan di pesantren.

  • view 42