Puan Maharani dan Ketidak-adilan Media

Rico Sinyoman
Karya Rico Sinyoman Kategori Politik
dipublikasikan 08 April 2017
Puan Maharani dan Ketidak-adilan Media

Ketika kita menuliskan “Puan Maharani” di mesin pencari Google, kita akan disuguhkan dengan beberapa “pilihan tema” yang disediakan Google terkait pemberitaan Puan Maharani, dan “anehnya”, tema-tema itu cenderung negatif, seperti Puan Maharani Masuk Kristen, Puan Maharani Selingkuh, Puan Maharani Suami, dan beberapa “pilihan” lain dengan nada dan konotasi serupa. Keanehan itu akan semakin tampak ketika kita memilih “sajian tema” yang disediakan Google itu.

Tentang Maharani Masuk Kristen, misalnya. Isi dan artikel yang ada justru adalah cerita seorang yang bernama Puan Maharani, menuliskan tentang sebuah kisah pasca tsunami, dan Puan murtad gara-gara Duladi. Itu konsisten dan bertahan dipuncak list, dan pada halaman pertama, dan portal medianya adalah media yang perlu dipertanyakan akuntabilitasnya. Laman media online yang sulit sekali diverifikasi (untuk menghindari penggunaan abal-abal). Padahal tentu saja yang dibicarakan disitu bukan Puan Maharani yang menteri, putri dari Megawati. Sama sekali bukan!

Puan Maharani yang menteri, putri dari Megawati, tentu tidak perlu ditanyakan lagi agamanya. Puan Maharani tidak pernah pernah berpindah agama, tidak pernah pula dalam sejarahnya pernah beragama Kristen. Puan Maharani bukan Kristen, ia tetap Islam, dari dulu hingga sekarang.

Tentang Puan Maharani yang selingkuh, ternyata isinya bukan perselingkuhan Puan Maharani, tapi lebih sadis lagi karena Puan Maharani, katanya adalah hasil dari perselingkuhan karena jika dihitung dari usia penikahan dan kehamilan, tidak sesuai. Artinya, baik tentang hasil dari perselingkuhan atau Puan Maharani yang selingkuh, semuanya murni adalah berita hoax dan fitnah yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan. Apalagi, sekali lagi, media yang menyediakan tulisan-tulisan itu adalah media yang perlu dipertanyakan akuntabilitasnya (sekali lagi, untuk menghindari penggunaan abal-abal).

Pertanyaannya kemudian, kenapa isu-isu seperti itu yang bertahan? Mungkinkan tokoh sekelas Puan Maharani, seorang menteri, pengalaman politik mumpuni, tak mempunyai hal positif yang bisa diunggulkan? Tentu saja jawabannya adalah karena Google itu mesin, dan setiap mesin bisa “dipermainkan”. Google itu, siap memopulerkan sebuah tema, yang penting ada yang “konsisten” membuatnya bertahan. Bukan persoalan layak atau tidak, tapi mesin tidak bisa menganalisasi isi dan makna, karena ia hanya tahu kata dan kalimat saja.

Ada ketidak-adilan media yang kita temukan, ketika isu dan pemberitaan tentang Puan Maharani selalu dinegasikan dengan hal-hal yang kontraproduktif serta mengenyampingkan peran dan kerjanya untuk bangsa ini.

Kita tidak akan berbicara tentang algoritma dan alasan-alasan yang penuh dengan teori IT karena itu terlalu panjang dan rumit. Tapi, satu-satunya yang bisa kita simpulkan dari fenomena semacam ini adalah, bahwa Puan Maharani dan kinerja serta prestasinya tidak menjadi media darling. Posisinya sebagai tokoh muda yang potensial untuk menjadi pemimpin diperhitungkan di masa yang akan datang, tentu saja mengancam lawan-lawan politiknya yang tidak menginginkan hal itu terjadi.

Pada saat yang bersamaan, Puan Maharani tidak mau mengerahkan kemampuannya untuk memolesnya agar cantik di media seperti tokoh-tokoh yang lain. Itu tidak dilakukannya karena ingin membiarkan semuanya terjadi secara natural. Ia tetap fokus bekerja untuk melanjutkan perjuangan membangun bangsa melalui penyejahteraan rakyatnya. Tentu saja, trend pemberitaan yang tidak berpihak itu merugikan bagi Puan Maharani, tapi hal itu menjadi tidak penting terutama karena media pemberitaan yang “merusakkan” namanya adalah media “usang”, yang akan tenggelam dengan sekali klarifikasi dan pernyataan, karena Puan Maharani tidak pernah masuk kriten, berpindah menjadi kristen. Puan Maharani tidak pernah selingkuh dan bukan hasil perselingkuhan. Itu fakta tak terbantahkan.

Tapi apapun yang ada, Puan Maharani adalah sosok muda yang pekerja dan berprestasi. Calon pemimpin masa depan yang mumpuni.

  • view 164