Kerja Cantik Puan Maharani

Kerja Cantik Puan Maharani

Rico Sinyoman
Karya Rico Sinyoman Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 27 Maret 2017
Kerja Cantik Puan Maharani

Kalau kita mengikuti pemberitaan-pemberitaan yang banyak beredar, kita akan menemukan, bahwa diantara beberapa Menteri yang sering mendapatkan suara-suara nyinyir dari kalangan “masyarakat bawah” (untuk tidak menyebut penikmat media sosial), Puan Maharani adalah salah satunya. Selain karena kinerja yang katanya tak menghasilkan apa-apa (anggap saja begitu), nada-nada sumbang itu tak pernah berhenti untuk selalu mengaitkannya dengan ibunya, Megawati. Memang tidak salah, tapi belakangan menjadi salah kaprah karena terlalu berlebihan. Faktanya, banyak kerja yang dilakukan oleh Puan Maharani dan itu tidak dilihat, terurama oleh para haters di netizen. Kerja Puan menjadi kabur.

Padahal, mestinya Puan Maharani itu dipuji, dan bukan dicaci. Jangan kita melihat perilaku baik dan tidaknya orang melalui cara pandang yang sempit, terutama kaarena Puan Maharani adalah menteri koordinator, yang tidak hanya memastikan pekerjaannya sendiri selesai, tapi juga memastikan, bahwa Kementerian-kementerian yang ada dibawah garis koordinasinya juga bekerja dengan baik. Artinya, menjadi Menteri Koordinator tentu bukanlah tugas ringan karena beban kerja yang berat dan tanggung jawab yang dahsyat. Terutama ketika tugas Kemenko PMK erat kaitannya dengan manusianya, bukan cuma infrastrukturnya. Tugas utamanya adalah membuat rakyat lebih dekat dengan kesejahteraan.

Beberapa Kementerian yang berada di bawah koordinasi Puan, terbukti memiliki kinerja baik dan mendapatkan apresiasi dari masyarakat. Sebut saja Kemensos yang tak berhenti melakukan kreasi dan memberikan bantuan sosial. Kemenag, yang berhasil “bangkit” setelah sebelumnya menjadi sarang “penyakit”. Kuota haji juga bertambah. Kemenpora kini menjadi relatif lebih adem, ketika dulu sempat heboh dan “kisruh”. Kemendikbud juga mendapatkan akseptabilitas yang tinggi oleh masyarakat. Kenapa ini terjadi? Dengan tanpa mengurangi peran yang lain, tapi kita harus jujur, bahwa itu adalah keberhasilan koordinasi yang dilakukan oleh Puan Maharani sebagai Menko.

Pujian itu setidaknya bisa kita sematkan untuk Puan ketika dalam banyak hal menunjukkan kinerjanya sebagai seorang menteri yang patut diperhitungkan sebagai calon pemimpin masa depan. Ia peduli terhadap nasib rakyatnya, sehingga tidak aneh ketika dalam banyak kesempatan Puan selalu memberikan bantuan pada masyarakat. Tidak hanya berupa uang, tapi juga pembangunan infrastruktur, termasuk juga pembangunan masjid. Ketika tragedi gempa bumi menghebohkan di Aceh, Puan menjadi “panglima” yang memastikan bantuan bisa diterima dan dikelola dengan baik bekerjasama dengan semua pihak.

Tidak hanya itu, Puan, secara khusus diminta oleh Presiden Jokowi untuk menjadi Kementerian utama dan pertama yang menggalakkan revolusi mental sebagai bagian penting dari proses pendewasaan bangsa ini. Puan dipercaya untuk membangun manusia Indonesia melalui kewenangan dan kebijakan yan dimilikinya.

Artinya apa? Artinya, bahwa Puan Maharani itu bekerja. Ia mempunyai kemampuan dan pengalaman untuk menyelesaikan permasalahan, sekaligus mempunyai mental pembelajar yang siap belajar dari siapapun untuk kepentingan bersama. Jadi, agak lucu ketika sejak dari ia diangkat menjadi menteri hingga saat ini, dunia media sosial dipenuhi dengan bully, bahkan mendiskreditkan Puan sebagai “Menteri titipan”. Rupanya, orang-orang yang selalu meramaikan hal yang buruk tentangnya juga tak jauh-jauh dari orang yang tidak menyukai ibunya, atau partainya.

Tentu, bukan berarti Puan Maharani haus pujian, apresiasi, atau segala macamnya, tapi bahwa kita harus lebih proporsional menilai kinerja menteri, itu menjadi keniscayaan. Toh, tak ada gunanya juga puji dan caci yang didapatkan karena Puan Maharani tetap bekerja sejauh yang menjadi tanggung jawabnya, tanpa peduli terhadap segala hal yang “menghinakannya”.

Duh, kasian, kau Puan. Padahal Puan Maharani telah bekerja dengan baik untuk Kementerian yang dipimpinnya.

  • view 196