Aroma Rindu

Musa Sibghotulloh
Karya Musa Sibghotulloh Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 Juni 2016
Aroma Rindu

Kadang kala bibir yang bersentuhan selalu memiliki rahasia tersendiri. Menikmati kehangatan yang sengaja tuhan transfer tanpa membakar satu dengan yang lain. Intimnya perasaan tidak menggangu tik-tok jam dinding untuk terus berjalan. Tarikan lidah yang memaksa tengkuk untuk bergerak mengikuti kemana aroma itu pergi. Sentuhan lembut dari telapak tangan yang memainkan ujung jemari. Ya, aroma segelas kopi panas itu sudah menenggelamkanku jauh ke dasar samudera. Aku tidak menikmati diriku yang bertransformasi kembali menjadi manusia biasa. Degradasi perasaan yang semakin membuatku terpuruk kepalung hati terdalam yang selama ini belum pernah aku rasakan. 

Lekuk-lekuk senyuman itu telah lama aku rindukan. Diperbudak oleh ego dan menjadi bulanan-bulanan rindu malah membuat perasaanku berserakan. Aku ingin berada diatas sebuah perahu untuk mengarungi rindu, tapi yang ada aku malah ditenggelamkan olehnya dalam sunyi sambil tersedu. Sejenak cobalah mampir berkunjung kedalam hatimu, pastikan ada aku disana. Aktifkan kembali koneksi yang sempat terombang-ambing keraguan. Aku ingin kembali bertegur sapa.

Wasiat sederhana yang tuhan titipkan ingin kembali kurasakan (re:kebahagiaan).

"Bicara tanpa kata, saling mengerti tanpa bicara." (Salim A. Fillah)

  • view 113