Kunci Pintu Kamar Saat Tidur

Ranting Kecil
Karya Ranting Kecil Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 Februari 2016
Kunci Pintu Kamar Saat Tidur

Ai, Gadis belia yang tinggal di rumah kecil di sebuah kampung bersama Ayah yang bernama Sapto dan Ibunya bernama Mirah . Ai adalah anak Sapto dan Mirah satu-satunya yang telah dinantikan kehadirannya setelah lima tahun usia pernikahan. Ai tumbuh menjadi gadis ayu dan pemalu. Sapto dan Mirah begitu menyayangi Ai.

Suatu pagi, saat mereka sedang sarapan. Sapto menatap Ai penuh kasih.

?Ayah, kenapa melihat Ai seperti itu?? Tanya Ai polos.

?Kamu cantik, Nak.? Jawab Sapto.

Ai hanya tersenyum, tersipu malu.

?Ai, anak ibu yang baik?? Mirah berpesan, ? Mulai sekarang, kamu harus mengunci pintu kamar saat tidur, ya??

?Kenapa, Bu?? Tanya Ai masih dengan kepolosannya.

?Takut ada tikus masuk. Karena akhir-akhir ini banyak tikus berkeliaran di rumah. Ibu takut mereka menyakitimu.?

?Iya, Bu. Ai mengerti.?

?Anak pintar.?

Sejak hari itu, Mirah tak pernah lupa untuk mengingatkan Ai mengunci pintu kamar saat tidur. Padahal tanpa diingatkan berkali-kalipun Ai akan selalu ingat. Ai anak yang penurut, tak pernah sekalipun ia membantah perkataan ibunya.

Dua tahun lalu, saat Ai berusia 15 tahun, Mirah meninggal karena sakit. Ai merasakan kesedihan yang mendalam, dan Ai tak pernah melupakan semua pesan Mirah. Meski kini ibunya telah tiada, Ai tetap menyayanginya. Tentu tak lupa dengan Sapto, ayahnya.

Tetapi sejak setahun kepergian Mirah. Ai berubah. Ia menjadi lebih pendiam dan sering mengunci diri di kamar. Setiap di ajak bermain oleh Fatih, anak tetangga yang dulu akrab dengan Ai, Ai tak pernah mau lagi. Ai berubah.

Malam ini dingin. Hujan baru saja berhenti. Terdengar satu, dua tetes air jatuh menimpa kaleng bekas cat, di depan jendela kamar Ai. Ai diam, mata beningnya sembab dan merah, pandangannya kosong, Ai hanya menatap langit-langit kamar yang dipenuhi bercak-bercak air tak jelas bentuknya dan telah menguning. Di samping lengannya tergeletak silet dengan sisa darah. Tangan Ai basah oleh darah. Ai baru saja melukai dirinya sendiri. Seprai Ai penuh bercak darah, dari yang masih basah, hingga yang telah mengering dan tak bisa dihilangkan meski telah dicuci berkali-kali.

?Ai, buatkan Ayah kopi.? Sapto mengetuk pintu kamar Ai. Ai masih diam tak menjawab.

?Ai, kamu dengar Ayah??

Ai mulai bergerak. Dengan malas ia berusaha untuk bangun, membersihkan tangannya dengan seprai. Ai membuka pintu menuju dapur. Ai tak bersuara, ia masih diam. Ai seperti mayat hidup, ia seperti telah kehilangan jiwanya, ia seperti robot yang hanya menerima perintah.

Ai mengantarkan kopi untuk Sapto. Meletakannya di meja ruang tamu. Sapto sibuk menonton tv sambil menghisap puntung rokok.

?Tidak kamu beri racun, kan?? Tanya Sapto dengan mata yang terus melihat tv, mematikan rokok, lalu menyeruput kopi hangatnya.

Ai hanya diam dan berjalan lemah ke kamarnya. Mata bening Ai tak lagi memancarkan bahagia, hanya ada luka dan kecewa yang terpancar di sana. Ai menatap Sapto dari belakang dengan kebencian yang merajalela. Perih akan luka sayatan di tubuh Ai tak seberapa, dibanding perih dan sakit yang ada di dalam batinnya. Ai ingin meronta, Ai ingin berteriak. Tetapi tak bisa. Ia hanya sanggup meneteskan air mata sambil menorehkan luka baru di kulitnya, hingga tak sadar ia terlelap.

BRAAAK. Ai terbangun kaget. Ai melihat Sapto mendobrak pintu kamarnya. Padahal baru kemarin ia mengganti gembok kunci kamarnya. Ternyata itu tak cukup kuat untuk menghalangi Sapto masuk.

Tercium bau Alkohol dari tubuh Sapto. Ia mabuk. Ai hapal betul apa yang akan dilakukan Sapto padanya. Ai bangun dengan sigap. Ini sudah setahun, dan Ai tak ingin terlihat ketakutan, meski sebenarnya ia tetap takut. Kali ini Ai akan berontak. Ia tak mau lagi jadi penurut seperti yang ibunya bilang.

Sapto berusaha mencengkram Ai dengan tubuh yang sempoyongan. Tapi Ai dengan cekatan menghindar.

?Sini kamu, Ai. Kamu mau mempermainkan ayah?? kata Sapto beler.

?Jangan, Ayah!! Ai mohon. Berhenti!! Ai akan lapor polisi!!?Ai berteriak mengancam.

Sapto tak peduli. Ia masih terus berusaha menangkap Ai yang kali ini berlari ke dapur.

?Kamu mau lapor polisi? Silahkan saja. Tapi sebelum itu, kamu akan mati.?

Selama setahun ini Ai bertahan. Ai sangat sayang pada ibunya, Ai hanya menuruti semua pesan ibunya sebelum meninggal. Mirah pernah berkata pada Ai dalam sakitnya. Ai harus jadi anak penurut. Ai juga harus menuruti ayah, karena hanya Ayah yang Ai punya di dunia ini.

Ai ingin sekali melaporkan Ayahnya pada polisi. Tetapi wajah dan pesan Mirah selalu terbayang dalam benak Ai. Selain itu, Sapto selalu mengancam akan membunuhnya jika Ai tak menuruti keinginannya.

?Bunuh aja Ai, Ayah. Bunuh. Ai juga tak ingin hidup lagi.? Ai menangis. Sapto berhasil mencengkram kedua tangan Ai.

?Tetapi jika kamu mati, aku harus bayar pelacur. Aku tak mau itu.? Sapto mengeret Ai ke kamarnya. Ai masih meronta, mencoba melepaskan diri dengan sisa tenaga yang ia punya.

?Ai tak suka, Ai benci bila harus menuruti nafsu bejat Ayah. Ayah bahkan tak pantas dipanggil Ayah!!!!?

Ai berhasil mendorong Sapto hingga terjatuh dan membuat kepala Sapto membentur ujung kayu tempat tidur. Ai segera berlari ke dapur. Ai mengambil pisau yang biasa ia gunakan untuk memasak.

Aku ingin mati saja, batin Ai. Tidak, Ayah yang harusnya mati.

Malam ini dingin. Burung hantu tetap memburu mangsa. Suaranya merdu tapi tak ada yang peduli. Semua orang sibuk bermimpi. Ai membisu, pandangannya kosong, mata beningnya menatap sayu langit-langit kamar dengan bercak-bercak air yang tak jelas bentuknya dan telah menguning. Di dada Ai tertanam pisau. Tangan Ai basah oleh darah. Seprei Ai penuh bercak darah, dari yang masih basah, hingga yang telah mengering dan tak bisa dihilangkan meski telah dicuci berkali-kali. Ai membunuh dirinya sendiri yang menurutnya tak lagi suci setelah sebelumnya menusukkan pisau itu berkali-kali ke tubuh Sapto dengan benci.

?

?

  • view 365