Kaos Merah [Karena Aku Suka Warna Merah]

Ranting Kecil
Karya Ranting Kecil Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Kaos Merah [Karena Aku Suka Warna Merah]

Aku tahu, aku mengerti, betapa sulit melupakan kenangan. Apalagi kenangan indah, itu sangat tak mudah. Rasa sakit karena seseorang saja sulit dilupakan, apalagi rasa bahagia karena seseorang.

Tetapi, bisakah kau mengeluarkan aku dari tempat ini? Di sini sangat gelap dan berdebu. Aku ingin menghirup udara segar sesekali. Barangkali juga perlu menghilangkan debu yang memenuhi tubuhku. Ah, atau mungkin kau memang sudah melupakan aku. Melupakan kenangan itu karena ada kekasih yang baru, belum lagi anakmu yang satu, yang menggemaskan itu. Aku pernah melihatnya dulu, sekali. Matanya indah sepertimu, aku tahu. Kuucapkan selamat, karena aku tak perlu lagi kau peluk atau menyerap air matamu yang mengalir tiba-tiba.

Tahun berapa sekarang? Hari apa sekarang? Pukul berapa sekarang? Aku bahkan tak tahu lagi. Tunggu, aku mendengar anakmu menangis, jadi kurasa sekarang sedang siang. Kau harus membujuknya untuk tidur siang. Anakmu selalu menangis bila diminta tidur siang. Kau akan membacakannya cerita, entah itu Cinderella, Putri Nestapa dan Pangeran Bahagia, atau kisah Kancil dan Singa yang terluka. Aku suka mendengar kau bercerita, kau selalu pandai dalam hal itu, dan kau juga pandai dalam menyembunyikan luka, tentunya, termasuk pura-pura mengacuhkan aku.

Aku tak pernah lupa hari itu. Ketika kau begitu bahagia melihat aku untuk pertama kali. Kau memandangku yang sederhana ini, kemudian kau mendekap , dan menciumku. Jujur saja, akupun terpesona oleh senyum yang seperti gerimis di tengah sawah yang kering. Tak hanya bibirmu yang tersenyum, matamupun ikut tersenyum seperti sabit yang terang pada malam muram.

Baiklah, kau membuka lemari dan melihatku sekarang. Aku lihat anakmu sedang pulas. Kau tak mengacuhkan aku lagi. Kali ini kau menatapku lama. Mata itu selalu sama, penuh cerita. Kau menyentuhku sekarang dan matamu mulai berkaca-kaca. Bila memang aku menghadirkan luka seharusnya kau membuangku dari dulu, jangan menyimpanku lalu berpura-pura mengacuhkanku. Itu lebih menyakitkan, bukan?

Sekarang kau menggenggam lenganku, menatap lamat-lamat, menelusup, seolah di tubuhku tertulis berparagraf-paragraf cerita dan kau mulai penasaran ingin membacanya. Air matamu mulai jatuh. Tubuhku juga pasti layar film yang memperlihatkan kisah dimana kau dan dia adalah pemeran utamanya. Kau sudah memulainya, bukan? Di dalam kepalamu kini film itu tersetel. Bagian mana yang sedang kau tonton?

Hari ketika dia memberikanku sebagai hadiah kepadamu, kah? Aku. Iya aku. Aku hanya kaos merah sederhana. Dia hanya bilang kau suka warna merah. Aku tak mengerti mengapa dia memberikan aku kepadamu sebagai hadiah. Apa dia lelaki miskin? Aku terlalu amat sederhana untuk gadis bersenyum cantik sepertimu. Kalau aku jadi dia, akan kuberikan kau hadiah yang lebih istimewa. Tetapi siapa sangka aku akan melihat kau begitu bahagia hanya karena aku. Baiklah aku ralat, karena dia pastinya. Karena dia yang memberikan. Iya, kan?

Ah, pasti banyak sekali tontonan di kepalamu. Jangan memutar film terlalu banyak, aku sarankan. Lihat, lihat, air matamu semakin banyak. Jangan bersuara, nanti kau membangunkan anakmu. Entah ingatan mana lagi yang berputar di kepalamu sekarang. Kalian pasti memiliki banyak kenangan. Aku hanya tahu dua diantaranya.

Biar tanganku mengeringkan air matamu. Izinkan aku. Ah, terima kasih. Baiklah, menangislah, menangislah sepuasmu. Kapan terakhir aku melihatmu seperti ini. Aku sudah lupa itu, yang pasti sudah lama sekali semenjak kau menikah, kau tak menyentuhku. Kau membiarkan aku berdebu hingga lusuh. Aku kira selama itu kau melupakanku, sepertinya suamimu itu sungguh menyayangimu, kau harus sangat bahagia. Aku yakin dia juga ingin kau bahagia. Percayalah.

Aku juga sedih jika mengingat hari itu, hari terakhir ketika kau mengenakanku. Hari terakhir kau tertawa bersamanya. Harusnya kalian tak mengakhiri hari itu dengan bertengkar. Aku ingat apa yang kau katakan.

?Kamu keterlaluan.? Katamu padanya.

?Aku tahu.? Jawabnya.

?Maafkan aku.? Katanya lagi.

?Kamu tahu ini tak mudah. Tapi kamu semudah itu mengatakannya dalam waktu singkat. Menyiapkan perpisahan dari waktu lama tetap tak mudah. Tetapi setidaknya aku akan menyiapkannya.? Kau membalikkan badan, membelakanginya, meninggalkannya.

Harusnya waktu itu kau tak meninggalkannya seperti itu. Andai aku bisa berbicara. Seharusnya kau terima saja keputusannya. Kau pikir, mudah juga baginya mengatakan akan meninggalkanmu. Kau pikir mudah juga baginya membuat keputusan. Banyak pertimbangan. Lagipula dia hanya pergi sementara, bukan meninggalkanmu selamanya. Tetapi mengapa kau masih saja sulit menerima. Aku melihatnya yang mengejarmu dari belakang, memanggil namamu, tapi kau seakan tak mendengarnya. Seandainya kau berhenti. Menghampirinya. Tabrakan itu tak akan terjadi kepadanya saat sedang menyebrangi jalan mengejarmu. Ah, sudahlah. Itu sudah berlalu. Dan kejadian itu terjadi juga. Tak ada yang mengira, hari itu kau malah benar-benar kehilangan dia untuk selamanya.

Kau berlari padanya, memeluknya yang terbaring lemah. Darah segar dari kepalanya mengalir deras, merembas, membasahi tubuhku hingga kuyup. Tapi aku sempat melihatnya. Ia sempat tersenyum ketika melihat wajahmu yang menangis. Aku tahu kau mencintainya. Aku juga tahu kau merasa sangat bersalah. Tapi dia tak apa-apa. Percayalah.

Kau sudah puas menangis? Baiklah. Lihat anakmu menggeliat dalam tidurnya. Dia manis sekali, bukan? Kau ikutan mengantuk, sepertinya. Istirahatlah.

***

?Mamah, kaos ini milik, Mamah??

?Darimana kamu mendapatkannya, sayang??

?Ada di kolong tempat tidur, Mamah. Aku ingin membuat pakaian Barbie sendiri dari ini. Bahannya adem dan sepertinya sangat nyaman dipakai.?

?Memang kamu bisa melakukannya??

?Bisa. Mamah lihat saja nanti. Boleh, kan. Mah??

Kau terdiam cukup lama. Mungkin kau masih tak rela aku jadi kain kasa. Tetapi aku tak apa. Aku adalah salah satu kenangan yang kaupunya. Jika kau ingin menghilangkanku tak apa. Sungguh. Aku hanya simbol. Karena kenangan akan tetap ada dalam memori kepala. Dan, kau harus bahagia.

?Boleh.?

Anakmu berlari semangat dengan menentengku menuju kamarnya. Ia mengambil gunting. Memotong-motongku menjadi beberapa bagian. Senyumnya begitu manis. Aku rela dibeginikan olehnya. Ia pandai menggunting.

?

Rantingkecil

Fiksi | Bekasi, 25 Februari 2016

?

?

?

  • view 223