Rona [Karena Aku Suka Warna Merah]

Ranting Kecil
Karya Ranting Kecil Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Rona [Karena Aku Suka Warna Merah]

Minggu pagi yang mendung, keluarga Pak Malik sudah disibukkan dengan mencari Rona. Istrinya sibuk mencari Rona di sekitar rumah, dengan teliti ia memeriksa setiap sudut rumah, tak terlewat kolong meja, kolong kursi, hingga kolong lemari. Pokoknya tak boleh ada satu celahpun di rumah ini yang tak diperiksanya.

Pak Malik dan kedua anaknya, Saga dan Malika mencari Rona di sekitar kampung tempat tinggal mereka. Mereka menelusuri gang-gang kecil, bahkan rumah kosong tak luput dari pemeriksaan mereka, demi menemukan Rona.

?Rona? Rona.? Teriak Saga dan Malika bergantian.

?Rona? kamu di mana??

Rona adalah salah satu kucing milik keluarga Pak Malik. Seluruh warga kampung tahu Pak Malik senang memelihara kucing sejak kelahiran Malika, putri bungsunya yang ceria dan manis. Rona, juga merupakan kucing pertama yang dimiliki keluarga itu. Mereka merawat kucing itu dari kecil. Rona, kucing yang paling mereka sayangi, Rona kucing yang paling pintar. Beberapa kali diajarkan buang air di toilet sudah langsung mengerti. Rona juga tak pernah mencuri makanan di keluarga itu, karena keluarga Pak Malik sangat menjaga dan mengatur makanan Rona. Rona memiliki banyak anak kalau saja keluarga Pak Malik tak memberikan anak-anak Rona pada yang memintanya. Hanya ada tiga anak Rona yang dibiarkan di rumah yang juga sudah lumayan besar-besar. Mungkin anak-anak Rona juga kebingungan tak menemukan ibu mereka pagi ini.

Biasanya saat pagi, Rona sudah menghampiri Malika, membangunkannya dengan mengelus-ngeluskan badannya ke badan Malika, atau menjilati muka Malika. Rona juga senang bermanja ria dengan Safa, Istri Malik. Namun pagi ini, tak ada Rona yang melakukan hal tersebut. Bahkan hingga matahari sudah semakin meninggi hingga saat ini, Rona tak terdengar suaranya, seharusnya ia sudah mengeong-ngeong meminta makan.

Malika sangat sedih ketika tak menemukan Rona di manapun, padahal ia ingin sekali memeluk dan bermain bersama Rona.

? Rona ada di mana, ya, Kak?? Tanya Malika sedih.

?Jangan sedih, Rona pasti sedang bermain-main. Mungkin dia bosan di rumah terus.? Saga mencoba menghibur adiknya agar tak menangis lagi.

?Iya, sayang. Mungkin Rona sedang bosan. Kita pasti menemukannya.? Pak Malik ikut menghibur putrinya.

?Ayah akan cari ke daerah sana, ya?? Kataya lagi, ?Kalian ke sana?? menunjuk arah yang bersebrangan

?Iya, Yah.? Ucap Saga sambil mengusap rambut Malika.

Belum jauh ayah dan anak itu berpisah, Pak Malik mendapat telepon dari istrinya bahwa Rona telah ditemukan. Merekapun segera pulang untuk melihat Rona. Ketika mereka tiba, di depan rumah telah ada beberapa tetangga yang mengerubung. Mereka segera menghambur ingin tahu apa yang terjadi.

?Ronaaaaaaaaa.? Malika teriak disusul tangisan tersedu-sedu. Istri Malikpun menangis melihat keadaan Rona yang sungguh mengenaskan. Mereka melihat Rona yang telah kaku, dan keadaan tubuhnya yang memilukan. Kepala Rona hampir terpisah dari tubuhnya yang dipenuhi bulu tebal nan halus. Kaki kakan belakang Ronapun hampir putus. Sungguh tega sekali seorang yang melakukan itu kepada Rona. Tak punya perasaan.

Safa segera memeluk purtinya, menangkupkan wajah Malika lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Malika tak dibiarkannya melihat hal mengerikan itu terlalu lama.

?Saya menemukan Rona di dekat pembuangan sampah kampung, Pak Malik.? Kata seorang bapak dengan topi biru.

?Terima kasih, Pak. Tapi saya tak mengira keadaannya seperti ini.?

?Benar, Pak. Saya juga terkejut dan ngeri. Masalahnya ini kucing. Ya selain kami tahu ini kucing keluarga Bapak. Tapi kucing itu juga hewan kesayangan Nabi. Rasanya tak pantas ada seorang yang memperlakukan kucing seperti ini.? Kali ini Bapak dengan kaos hitam menimpali.

?Tega sekali orang yang membunuh kucing dengan cara seperti ini.? Bapak dengan kaos kuning menimpali juga.

Pak Malik menanggapinya dengan tenang. Sesekali ia menggangguk-anggukkan kepalanya.

?Baiklah, Pak. Semoga saja yang melakukan hal keji seperti ini segera diberi ganjarannya oleh Yang Kuasa. Sebaiknya saya segera menguburkan Rona.?

?Aku tahu siapa yang melakukan ini. Pasti dia orangnya. Pasti dia, Yah.?

?Apa yang kau bilang, Saga?? Pak Malik bukan tak mendengar apa yang dikatakan anaknya barusan. Ia hanya tak mengerti.

Saga tak menjawab pertanyaan Ayahnya, ia malah berlari meninggalkan bapak-bapak di halaman rumahnya.

?Jangan-jangan yang dimaksud Saga adalah Memet, Pak?? Kata bapak dengan kaos kuning.

?Memet? Memet anak Pak Samsul??

?Iya, Pak. Sebenarnya, saya berpikiran kalau yang melakukan hal semacam ini adalah Memet. Soalnya saya pernah beberapa kali melihat Memet menyiksa kucing.?

?Saya harus susul, Saga.? Pak Malik berjalan menyusul Saga diikuti tiga bapak tadi.

?

Saga menghampiri Memet yang sedang memainkan burung dara di depan rumahnya. Memet adalah putra kedua dari empat bersaudara dikeluarga Pak Samsul. Usianya sekitar 20 tahunan. Berbeda lima tahun dengan Saga. Meskipun usianya memasuki usia dewasa, namun sikapnya tak sesuai usianya, ia masih seperti anak-anak. Memet tidak bisa berbicara alias gagu. Ia hanya bisa mengeluarkan kata ?E?h E?h E?h? saat berkomunikasi dengan orang lain sambil menggerak-gerakkan anggota tubuhnya seperti tangan, kepala, mulut dan kaki agar orang mengerti apa yang dimaksudnya. Mungkin orang lain sukar mengerti apa yang dia katakan. Tetapi memet cukup mengerti apa yang di katakan lawan bicaranya.

?Heh Memet!!? Saga langsung menyembur Memet dengan kekesalan, mengejutkan Memet dan burung-burung Dara yang sedang bebas berkeliaran ?Kamu, kan, yang sudah membunuh kucing saya?! Ngaku kamu!!? Saga bahkan tak segan menendang kandang burung yang terbuat dari bambu dan berbentuk hampir lingkaran itu, biasanya digunakan untuk kandang ayam jago, ia membuatnya terbalik hingga burung-burung Dara yang ada di dalamnya berterbangan. Memet yang tak suka diganggu itu benar-benar marah karena sikap Saga.

Memet mendekati Saga sambil berteriak, entah bicara apa. Yang pasti Memet sangat marah, dan ia hampir menonjok pipi Saga kalau saja Saga tak berhasil menghalau serangannya.

?Saya nggak ngerti apa yang kamu katakan, pasti kamu yang sudah membunuh kucing saya. Dasar manusia jahat, orang sakit!!? Teriakan Saga mengundang Pak Samsul dan istrinya keluar rumah dan segera melerai keributan itu.

?Ada apa ini, Nak Saga?? Tanya Pak Samsul meghampiri mereka. Istrinya segera memegangi anaknya yang mulai meronta.

?Pak, anak bapak ini telah membunuh kucing kesayangan keluarga saya. Saya tahu pasti dia orangnya. Saya pernah melihat Memet sedang menyiksa anak kucing. Dia bahkan menyeret-nyeret anak kucing itu dengan tali rapia yang diikatkan di leher anak kucing itu. Terus, saya juga pernah liat Memet membanting- banting kucing.?

?Saga!!? Pak Malik muncul bersama tiga bapak-bapak tadi, mengejutkan Saga, ?Kamu nggak boleh berbicara seperti itu pada orang tua.?

Saga hanya menunduk, sedang Memet malah semakin mengamuk. Ia melepas cengkraman ibunya, lalu berlari masuk ke dalam rumah, teriak-teriak sambil meracau yang orang lain pasti tak mengerti.

?Maafkan anak saya, Pak.? Ucap Pak Malik pada Pak Samsul.

?Tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti. Tetapi apa yang dikatakan Saga adalah benar??

?Saya juga nggak tahu, Pak Samsul. Yang pasti, bapak-bapak ini menemukan kucing kesayangan kami yang hilang dalam keadaan mengerikan. Tetapi saya juga nggak tahu siapa yang melakukannya. Mungkin Saga salah mengira.?

?Nggak, Yah. Aku nggak salah kira. Pasti Memet yang ngelakuin semuanya.? Ucap Saga dalam keadaan menunduk. Nadanya dingin tapi menusuk.

?Sebenarnya, saya juga pernah melihat beberapa kali Memet menyiksa kucing, Pak Samsul.? Bapak dengan kaos kuning buka suara, ?Bukan hanya Nak Saga yang pernah melihatnya. Mungkin beberapa warga kampung yang lain juga pernah. Tapi kami memang tak ada yang berani menegur Memet, karena pasti Memet akan mengamuk bila ketenangan atau kesenangannya diganggu.?

?Tetapi, bukan berarti kali ini Memet yang melakukannya, Pak. Kita masih harus mencari buktinya, atau biarkan saja kejadian ini berlalu. Saya memaklumi Memet, Pak Samsul.? Pak Malik mencoba menenangkan suasana.

?Terima kasih atas pengertian, Pak Malik. Jujur saja, kami memang kesulitan dalam menjaga Memet, Ia seperti memiliki dunia sendiri yang kami tak mengerti. Ia bertindak semaunya, kami sekeluargapun sulit menasihatinya karena kami sendiri tak tahu apakah dia mengerti apa yang kami ajarkan. Saya juga minta maaf atas ketidaknyamanan warga terhadap sikap Memet, Pak Malik. Saya harap bapak selaku ketua RW bisa menyampaikan pada warga yang lain agar memaklumi sikap Memet. Saya juga akan berhati-hati dan lebih menjaga Memet.?

?Iya, Pak. Saya mengerti. Kalau begitu saya dan yang lain permisi, ya, Pak. Maaf telah mengganggu pagi-pagi begini.? Pak Malik menyentuh bahu Saga, ?Ayo kita pulang, Nak.?

?Dan terima kasih juga pada bapak-bapak yang telah menemukan kucing kami. Saya pamit, Assalamualaikum.? Pak Malik berjalan sambil menggandeng tangan Saga yang masih saja murung dan kesal.

?Ayah terlalu baik.? Katanya dingin. Pak Malik hanya menepuk- nepuk bahu putra sulungnya tersebut.

Sesampainya di rumah, Pak Malik segera mengubur Rona di halaman belakang rumah. Saga hanya melihat Ayah, Ibu dan adiknya yang menangis tersedu-sedu di pemakaman Rona dari jendela kamarnya, di lantai dua yang persis langsung menghadap ke halaman belakang. Saga teringat malam kemarin.

***

Saga sedang asik membaca novel di tempat tidurnya, tanpa ia sadari Rona masuk ke kamarnya yang pintunya sedikit terbuka itu. Rona menghampiri Saga, menempeli kaki Saga manja. Saga tak menghiraukan Rona, Ia hanya terus membaca. Lalu Saga rasakan kakinya basah, sesuatu menyiramnya. Rona pipis di kaki Saga. Saga sangat marah. Tak biasanya Rona pipis selain di toilet. Seperei Saga basah. Saga tetap tenang, seperti tak terjadi apa-apa baginya, tapi dalam hatinya ia menyimpan kemarahan yang sangat.

Saga yang kesal membawa Rona ke dapur lalu berhenti di halaman belakang rumah, setelah sebelumnya juga membawa Rona ke gudang. Rona hanya diam, tak mengeluarkan suara sedikitpun. Saga membaringkan Rona di atas rumput yang basah karena gerimis mulai menyapa malam. Rona menatap mata Saga dengan sedih dan sulit dijelaskan. Tanpa tedeng aling-aling Saga membacok leher Rona tak sampai putus. Rona sempat mengeong pelan saat Saga mengayunkan goloknya. Darah Rona mengotori wajah Saga. Namun, Saga merasakan kepuasan yang luar biasa, yang entah darimana datangnya. Ia tak pernah merasa senang seperti ini sebelumnya. Mata Rona terbuka dan masih memancarkan kesedihan, perutnya masih naik turun dengan lemah, kaki kanan belakang rona masih sedikit bergerak. Melihat itu, Saga kembali membacok Rona di bagian kaki yang masih bergerak tadi untuk memastikan Rona telah mati.

Setelah menatap mata Rona yang sedih beberapa lama dan di perhatikannya Rona sudah tak bergerak, Saga membawanya ke pembuangan sampah kampung di tengah hujan, lalu melemparkan tubuh Rona di depan tempat pembuangan sampah, tubuh Rona sempat terbentur tembok yang berfungsi sebagai batas bak sampah. Saga meninggalkan Rona dalam kedinginan dan kesepian.

Saga masih menatap makam Rona dari kamarnya.

?Kucing sialan. Sekarang kamu nggak akan sedih lagi.? Gumam Saga. Pak Malik mendongakkan kepala, menatap Saga yang berdiri di balik jendela.

?

Rantingkecil

Fiksi| Bekasi, 24 Februari 2016

?

?

  • view 122