Untitled

Nurhasanah Dewi
Karya Nurhasanah Dewi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Untitled

?Triing tring?, sambil berjalan dengan kekuatan penuh pun akhirnya aku mengambil blackberry, ?ana, dmanaa ?? , udah mulai nih?. Aaak aku benci terlambat, berjalan dngan kecepetan penuh, sambil harus melihat laporan melalui bbm, lalu harapharap cemas karna sebagai kasta terbawah, terlambat adalah alasan paling tepat untuk dimarahi, menambah poin keburukan dari beribu pengorbanan yang sengaja tidak dilihat.

?Iya udah didepan ruangan kok, pada duduk dimana ??, balasku. Sambil membuka pintu yang berada dibagian terbelakang dr pintu ruangan, mata ku berkeliling melihat dimana posisi teman ku, lalu entah mengapa mata ini menangkap satu sosok, sosok yang mempesona. Kaki dan seluruh badan ini terdiam selama hampir satu menit, bahkan setelah aku melihat temanku, dan yap, Alhamdulillah, mereka duduk tepat dibelakang sosok itu. Pria berpakaian serba coklat, kemeja putih bergaris coklat, celana panjang coklat, dan sepatu pantofel coklat. Mata nya pasti tajam walau Cuma terlihat dr samping, berambut cepak, berbibir tipis, hidungnya biasa saja, dan dia sangat mempesona. Dia terlihat sangat serius memperhatikan tiap slide, gambaran CT-Scan, rentetan komentar, sambil berdiskusi dengan temannya tentang Ca Mediastinum yang mendesak Paru-paru dan mencocokan dengan gambaran pulmo di i-phone nya. Yap dia pasti pria yang lebih memperhatikan tren terbaru gadget apple dbandingkan harus ikut2an memakai blackberry.

Tidak ada yang special dari fisiknya, tp bukan terpesona namanya jika masih mempersoalkan bentuk fisik. Sesekali dia menengok kebelakang, bukan untuk melihatku yg pasti, tp melihat temannya yg tepat berada disebelahku dan sialnya dia menengok kearah kanan, sedangkan aku berada di kiri. Dan morning report pagi itu terasa sangat indah. Aku senang stase ini, bisa melihatnya di hari selasa dan kamis untuk morning report. Tapi aku tidak tahu dia siapa

Kamis berikutnya, kita duduk saling berdekatan, terkadang dia dibelakangku terkadang dia didepanku. Lima minggu berlalu sampai ?stase radiologi ini selesai pun, aku tetap tidak tahu namanya, ingin bisa langsung tanya dan kenalan tapi itu gak mungkin karna saya terlalu pemalu. Sampai di suatu pagi di hari selasa terakhir di stase radiology, saya pun akhirnya melihatnya, melihat sesuatu benda kecil yang berkilau, sesuatu yang membuat sesak dan muak, sesuatu yang menghancurkan harapan dan khayalan, sesuatu yang membuat saya berkata ?udah ya dek, udah selesai, sampai disini aja, harus ikhlas, hhaha? (saya memang suka menertawakan diri sendiri).

?

RSUP Persahabatan, Agustus 2012

  • view 84