Surat Ayah

Ana Rodliyah
Karya Ana Rodliyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Oktober 2017
Surat Ayah

Surat Ayah

Oleh : Siti Rodliyah

Sinar mentari senja mulai terasa hangat, tetes-tetes keringat yang mengucur mulai mengering, ribuan langkah kaki pun mulai pelan. Duh, tak kuat rasanya melanjutkan perjalanan yang entah kapan ujungnya. Kuputuskan untuk kembali ke persinggahan.

Ayah, sekarang aku sudah berumur dua puluh enam tahun. Sekarang aku sudah sukses sebagai pengusaha besar. Bukan sebagai karyawan lagi, tapi sebagai pemilik perusahaan. Meski seperti itu, hatiku masih hampa.

Bulan dan bintang pun menghiasi hamparan langit. Seperti biasa, mata ini terkatup dengan bayangan sosok ayah yang tak kunjung hadir, dan ditemani dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyesakkan dada. Di mana? Dalam keadaan apa? Bersama siapa? Dan sepanjang malam-malam itu, surat ayahlah yang membangkitkan jiwa ini.

18 tahun yang lalu.

Surat dari Ayah untuk Putra Ananda

Assalamu’alaikum Ananda!

Bagaimana kabarmu hari ini? Ayah sangat senang melihatmu menjadi anak laki-laki yang kuat. Ayah minta maaf karena pergi meninggalkanmu. Tapi percayalah, Ananda selalu ada di hati ayah.

Ananda, Ayah akan menjadi pengusaha sukses. Tapi, untuk menjadi seperti itu tidak mudah, ayah harus melangkah dengan kaki yang kuat. Dua kaki ayah sehat dan kuat untuk berjalan menyusuri perjalanan ini. Ananda juga harus kuat berjalan untuk menggapai cita-cita. Berjalanlah!

Wassalam

Surat itu menggetarkan hatiku, saya ingat betul waktu itu ayah pergi tanpa pamitan denganku. Sejak itulah saya tak ingin pergi ke sekolah lagi. Dulu, aku memang bercita-cita menjadi pengusaha sukses dan Ayah tahu itu. Semenjak membaca surat ayah, aku bersemangat untuk pergi ke sekolah lagi.

Waktu terus berjalan tanpa menoleh ke arah belakang. Setiap pulang sekolah aku selalu menunggu ayah pulang. Tapi harapanku selalu pupus karena ayah tek pernah kunjung datang. Akhirnya rasa kecewalah yang kupendam.

Setelah lulus dari sekolah dasar, aku memberontak. Aku berubah menjadi anak yang tak terkendali. Aku jarang pergi ke sekolah. Aku ikut hidup dengan teman-teman jalanku. Aku mengamen, aku jualan koran, nongkrong dan bahkan aku ikut mencopet. Kehidupan yang keras. Semua itu kulakukan karena pelampiasan rasa kekecewaan yang terpendam. Dan potongan hidup itulah yang membuatku sampai saat ini menitikkan air mata penyesalan.

12 tahun yang lalu.

Surat dari Ayah untuk Putra Ananda

Assalamu’alaikum Ananda!

Bagaimana kabarmu sekarang? Ayah sangat senang kau menjadi anak laki-laki yang kuat. Kuat hati, jiwa dan raga.

Ananda, ayah akan menjadi pengusaha sukses. Ayah terus bekerja keras dengan kepalan tangan yang kuat. Ayah selalu bersemangat. Tangan ayah sehat dan kuat untuk berpegangan pada hal-hal yang benar dan baik. Kepalkan tanganmu untuk menggapai cita-cita dan genggam tangan orang-orang yang menuntunmu ke jalan yang benar.

Ananda, Ayah minta maaf tak bisa datang hari ini.

Wassalam

Setelah membacanya, kubuang surat itu. Tak ingin aku mendengar kabar ayah lagi. Tapi hati ini tak bisa kubohongi. Aku terenyuh. Mulai saat itulah, aku berubah dan memperbaiki alur kehidupanku menjadi lebih baik. Dan saat itu, aku menyadari bahwa ayah pasti bekerja keras untuk menjadi pengusaha sukses. Kupungut lagi surat itu.

Waktu mengantarkan aku sampai di titik keadaanku sekarang.

Kuhempaskan jiwa dan raga ini di atas kasur empuk hasil usahaku. Denting bel rumah berbunyi dan membuyarkan lamunanku. Aku segera keluar kamar dan turun dari tangga lantai dua rumahku. Kubuka pintu perlahan, dan aku menemukan sosok orang tua duduk di kursi roda dengan seorang perawat berdiri di belakangnya.

Itu Ayah, sosok orang tua yang kurindukan. Ayah lumpuh. Jadi selama ini yang tertulis di surat ayah tentang apa? Aku terus bertanya. Bayanganku tentang keadaan ayah adalah sosok yang sehat dan kuat. Seorang pengusaha sukses.

Kenyataan berbalik dari apa yang ada di surat. Selama ini Ayah memperhatikanku. Selama ini Ayah menjagaku. Sudah 18 tahun ayah terserang lumpuh. Kaki dan tangannya tak kuat lagi untuk merawatku. Ayah meninggalkanku untuk berobat, bukan membiarkanku. Lewat surat, Ayah memberiku motivasi untuk terus berjuang menggapai cita-cita. Ya, aku ingin sekali menjadi pengusaha sukses.

Tapi kenapa harus mengatakan sebaliknya? Katakan saja yang sebenarnya. Untuk apa Ayah menuliskan surat itu? Ya, aku menyadarinya sekarang. Semua itu demi kebaikanku. Untuk memotivasiku melangkah lebih jauh lagi. Kudengar penjelasan si perawat yang menjaga ayah selama 18 tahun dan menuliskan surat itu untukku. Ayah, terima kasih dan maafkan Ananda Putra. Sekian.

  • view 73