Pelaut Tegar dan Si Anak Lumba-lumba

Ana Rodliyah
Karya Ana Rodliyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 September 2017
Pelaut Tegar dan Si Anak Lumba-lumba

Pelaut Tegar dan Si Anak Lumba-lumba

Karya : Siti Rodliyah

Gambar sampul oleh : Nabil Abdul Ghofur

Suatu pagi di perkampungan nelayan, ada anak laki-laki kurus bernama Tegar berlari menyusuri pasir pantai. Tegar tidak mau ketinggalan perahu pamannya. Setiap libur sekolah, Tegar selalu ikut pamannya untuk pergi ke laut mencari ikan. Suara mesin perahu terdengar semakin keras, Tegar tambah bersemangat untuk berlari menuju ke perahu pamannya.

Setibanya di tepi laut, Tegar melihat pamannya sudah siap meluncurkan perahu. Tegar berteriak kepada pamannya, “Paman, paman, tunggu aku!”. Paman Tegar menoleh dan berhenti seketika untuk menunggu Tegar naik ke perahu.

“Ayo cepat Tegar, paman sudah siap berangkat,” teriak paman Tegar.

Tegar langsung menceburkan diri di air laut dan naik perahu. Setelah itu perahu paman Tegar meluncur menuju ke laut yang luas.

Perahu terus meluncur mengarungi lautan yang sangat luas, angin berhembus semakin kencang, suara mesin perahu terdengar sangat keras. Tegar dan pamannya mempersiapkan jaring untuk menangkap ikan. “Paman, kapan kita akan berhenti menangkap ikan?” tanya Tegar dengan suara yang kencang.

“Sebentar lagi, kita akan mencari tempat yang banyak ikan di dalamnya”, jawab pamannya dengan suara kencang pula.

Tidak menunggu lama perahu berhenti, paman Tegar langsung menarik jaring yang sudah dipersiapkan, kemudian melemparkannya di laut yang luas. Tegar membantu pamannya melemparkan jaring ke laut dengan gigih. Setelah melemparkan jaring, Tegar dan pamannya menunggu di atas perahu.

Ketika menunggu tangkapan ikan di jaring, tiba-tiba perahu bergoyang keras sehingga mengagetkan Tegar dan pamannya. “Paman, kenapa perahunya bergoyang?”, tanya Tegar.

“Mungkin ada ikan berukuran besar yang menyentuh bawah perahu?” jawab pamannya.

“Ikan berukuran besar? Jangan-jangan ikan paus?”, kata Tegar dengan rasa khawatir.        

“Hahaha, Ikan paus tidak hidup di bagian lautan ini Tegar”, kata paman Tegar.

“Lalu ikan besar seperti paus hidup di bagian lautan mana paman?”, tanya Tegar.

“Ikan seperti paus biasanya hidup di bagian laut dalam”, jawab paman Tegar.

Perahu bergoyang lagi, kali ini goyangannya semakin keras.Tegar penasaran kenapa perahu bergoyang. Tegar tidak berani bertanya lagi kepada pamannya, karena pemannya sedang sibuk mempersiapkan wadah untuk tangkapan ikan. Akhirnya dia memberanikan diri untuk melihat ke bawah perahu. Tegar penasaran apa yang membuat perahunya bergoyang. Tegar mencelupkan kepalanya ke laut dan melihat apa yang ada di bawah perahu. Alangkah terkejutnya Tegar, di bawah perahu ada seekor ikan mirip lumba-lumba.

Tegar mengangkat kepalanya, dia menarik nafasnya supaya teratur lagi. Tiba-tiba ikan yang mirip lumba-lumba tadi muncul di depan Tegar. Tegar kaget bukan main. Ikan tersebut seakan ingin mengajak bicara Tegar. Tegar hendak memanggil pamannya, tapi tiba-tiba ikan tersebut berbicara, “Jangan memanggil pamanmu, aku ingin bicara denganmu”, kata si ikan mirip lumba-lumba.

“Kamu bisa bicara?”, tanya Tegar terheran-heran.

“Aku anak ikan lumba-lumba, aku jalan-jalan di lautan ini, kamu mau membantuku?”.

“Membantu apa? Aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku hanya anak kecil yang ikut pamanku melaut”, kata Tegar.

“Kenapa kamu ikut melaut?” tanya si anak lumba-lumba.

“Setiap libur sekolah, aku ingin membantu ibuku mendapatkan ikan supaya bisa dimasak dan dijual di pasar”, jawab Tegar.

“Kamu melaut untuk membantu ibumu?” tanya lagi si anak lumba-lumba.

“Iya, aku ingin membantu meringankan beban orang tua”, jawab Tegar.

“Kamu anak yang baik. Aku juga ingin membantu ibuku mendapatkan makanan di sini”, kata si anak lumba-lumba.

“Kenapa kamu ingin membantu ibumu?” tanya Tegar lagi.

“Aku ingin meringankan beban ibuku juga”, jawab si anak lumba-lumba.

Tegar berpikir sejenak.

“Oo, makanya kamu ke sini untuk mencari ikan-ikan kecil?” tanya Tegar.

“Iya, aku juga sama sepertimu, mencari ikan untuk membantu ibu”, kata si anak lumba-lumba.

Ketika Tegar dan anak lumba-lumba mau berbincang lagi, tiba-tiba paman Tegar memanggil Tegar.

“Tegar, ayo bantu paman menarik jaringnya!”, ajak paman Tegar.

Tegar bergegas menghampiri pamannya dan meninggalkan si anak lumba-lumba. Tegar segera membantu pamannya menarik jaring sekuat-kuatnya. Setelah berhasil menarik jaring, hasilnya memuaskan. Banyak sekali tangkapan ikan kecil. Ikan-ikan itu seakan-akan menari di atas jaring. Tegar dan pamannya langsung memindahkan ikan yang menyangkut di jaring ke dalam wadah ikan.

Setelah selesai memindahkan ikan ke wadah, paman Tegar siap memutar balik perahu untuk kembali ke daratan. Tiba-tiba Tegar teringat dengan si anak lumba-lumba yang mengajaknya bicara tadi. Tegar punya ide untuk berbagi ikan hasil tangkapan pamannya dengan si anak lumba-lumba.

“Tunggu sebentar paman”, kata Tegar.

“Ada apa Tegar?”, jawab paman Tegar.

“Aku ingin berbagi hasil tangkapan ikan kita dengan teman baruku”, kata Tegar.

“Siapa teman barumu?”, tanya paman tegar lagi.

“Anak lumba-lumba yang menggoyangkan perahu paman tadi”, jawab Tegar.

Paman Tegar berpikir sejenak, sedangkan Tegar langsung bergegas mengembalikan separuh hasil tangkapan ikan ke laut untuk berbagi dengan si anak lumba-lumba. Sekian.

  • view 52