rendah hati atau rendah diri??

Ana Rodliyah
Karya Ana Rodliyah Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 April 2016
rendah hati atau rendah diri??

Artikel

Rendah Hati, Rendah diri atau Sombong???

Bicara tentang rendah hati, yang dalam bahasa Arab biasa disebut Tawadlu? sering dikaitkan dengan sifat sombong. Kedua sifat tersebut memang saling berlawanan. secara luas pengertian dari rendah hati atau Tawadlu? adalah hati merasa semua kenikmatan hanya dari Allah, tidak merasa lebih unggul atau lebih baik dari hamba Allah yang lain, menjaga hati dari kesombongan dan pujian orang lain, serta menjaga amal agar senantiasa ikhlas karena Allah semata. Orang yang memiliki rasa rendah hati biasanya cenderung hidup sederhana dan tenang. Orang yang rendah hati selalu mengakui kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Di kitab Nashaaihul ?Ibaad ada yang mengatakan

?orang yang mengakui kelemahan diri akan terpuji selamanya dan pengakuan adanya kekurangan itu tanda diterima amalnya.?

Pengakuan atas ketidaksempurnaan diri sendiri menunjukkan ketidaksombongan dalam diri. Allah berfirman :

??$t7??ur ?`?uH?q??9$# ????%?!$# tbq???Jt? ?n?t? ????F{$# $ZR?qyd #s??)ur ?N?gt6s?%s{ ?cq?=?g?yf?9$# (#q?9$s% $VJ?n=y? ???Ƞ?

  1. dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.

Rendah hati merupakan sifat yang terpuji dan Rasulullah Saw. telah mencontohkannya. Hal tersebut ?disebutkan dalam perkataan sahabat :

Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati, lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu? tapi tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang besar datang seorang ?A?rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. (HR Ibnu Majah-3312 dari abu Mas?ud al-Badariiy).

Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita menemukan berbagai ujian hati. Diantaranya adalah saat kita menghadapi pujian dari orang lain dan terlena dengan banyaknya kenikmatan dunia. Dari Abdullah bin Mas?ud ra. berkata:

?Banyak orang yang hanyut terbuai kenikmatan, banyak orang yang termakan fitnah oleh pujian dan banyak juga orang yang tertipu oleh tutup keaiban.?

Sering pula kita lupa daratan saat kita sibuk berbangga hati karena berhasil dengan usaha yang telah kita lakukan, merasa pintar telah menguasai ilmu tertentu, apalagi saat ketenaran dan pujian dari berbagai kalangan menghampiri hidup kita. Tak ayal, hati kita terseret oleh gelombang kecongkakan. Tak mudah memang untuk menghindari perasaan tersebut, tapi seyogyanya kita berusaha menjaga hati dan amal kita untuk ikhlas hanya mengharapkan ridlo Allah.

Perlu diketahui pula, bahwa rendah hati berbeda dengan rendah diri. Rendah diri tidak dianjurkan oleh Nabi, karena merendahkan diri, apalagi dalam status sosial dapat dikatakan menzalimi diri sendiri. Allah menilai hambaNya berdasarkan hati, bukan karena fisik atau materi yang bersifat keduniaan. Sedangkan? rendah hati berada diantara rendah diri dan sombong. Sekarang, mari kita muhasabah diri, apakah kita sudah rendah hati atau malah rendah diri, atau bahkan kebalikan dari rendah hati?? S_R

  • view 265